Winarno Tohir mewakafkan dirinya untuk petani di Indonesia.
Winarno Tohir tampak semringah pada saat peluncuran buku “Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani” di Hotel Aston Simatupang, Senin, 15 April 2019. Sumber: Dokumentasi Agrikan.id.

Kabar itu tiba melalui WhatsApp (WA), Sabtu, 6 Februari 2021. Ir. H. Winarno Tohir meninggal dunia.

Ketua Umum Kelompok KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Nasional itu wafat pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Pertamina, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Pria kelahiran 5 Januari 1957 di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ini adalah anak ke-5 dari pasangan Hj. Kurnia (alm) dan H. Tohir (alm).

Kakak-kakaknya adalah Wahyu Guntur Nusantara (alm), Titin Watini, Toto Sugito, dan Sucihati.

Jika pada era 1980-an Anda pernah melihat truk merek Dodge dan di badan truk bertuliskan “Sucihati” melintas di jalan di Jawa Barat, maka tidak salah lagi, truk itu milik orang tua Winarno Tohir.

Sewaktu kelas 5 Sekolah Dasar (SD), Winarno sudah ditinggal selamanya oleh H. Tohir, bapaknya. Jangan heran kalau Winarno banyak membantu ibunya, Hj. Kurnia, di sawah.

Keahlian ibunya sendiri adalah menanam semangka dengan berat 20 kg per buah, sedangkan H. Tohir berkeahlian bertani padi.

Winarno merasakan pahit getir kehidupan petani dan buruh tani. Meski masih di SD, bersama buruh tani, Winarno ikut menyemai, memelihara, dan memanen padi milik orang tuanya.

Sejak masih kecil itu hati Winarno sudah tergerak untuk membantu petani. “Saya mewakafkan diri saya untuk petani,” kata Winarno, suatu hari.

Pendidikan

Sejak sekolah di SMP dan sampai tamat SMA Negeri 1 Bogor, Jawa Barat, Winarno sudah berniat mendalami pertanian. Ia tamat SMA Negeri 1 Bogor tahun 1975.

Ia ingin kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Waktu itu penerimaan mahasiswa dengan sistem SKALU (Sekretariat Bersama Antar Lima Universitas).

Ia mendaftar di lima perguruan tinggi: UI, IPB, ITB, UGM, dan Unair. Tapi Winarno tidak diterima di kelima perguruan tinggi tersebut.

Karena sudah berniat mendalami pertanian, akhirnya ia kuliah di Akademi Pertanian Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Pada tahun 1978, Winarno Tohir tamat sebagai sarjana muda pertanian.

Keluarga sangat mendukung Winarno Tohir memperjuangkan kepentingan petani.
Keluarga Winarno Tohir. (Ki-ka) Winarno Tohir, Umiyati (istri), Siti Meilina Utami, Dewi Nuraini, dan Andi Komara. Sumber: Dokumentasi Winarno Tohir.

Sebelum bergabung ke Universitas Winaya Mukti (Unwim), Akademi Pertanian sempat berubah menjadi Sekolah Tinggi Pertanian.

Di bawah Unwim ini, Fakultas Pertanian berasal dari Akademi Pertanian Tanjungsari (APT) atau Sekolah Tinggi Pertanian. Winarno sendiri baru meraih S-1 pertanian pada tahun 1980.

Magang di Jepang

Pada tahun 1988, ia magang bertani padi dan hortikultura di Jepang selama 9 bulan. Ia tinggal bersama keluarga Mr. Toyoyuki Shimizu, yang Winarno biasa memanggilnya Otosan.

Toyoyuki tinggal di Kihiso Ashiso New Gun Fukuiken, Jepang.

Pada hari pertama tiba itu hujan deras. Winarno langsung ke sawah. Tidak ada istilah jetleg.

Otosan menunjuk ke traktor dengan implemen berisi semaian padi. Karena salah pengertian, dikira Winarno ia diminta naik ke atas traktor yang menarik implemen tersebut.

“Otosan menunjuk ke arah traktor yang menarik gandengan, saya kurang dengar, saking sigapnya saya langsung naik ke traktor. Saya dikejar dan ditempeleng,” cerita Winarno.

Padahal, maksudnya, Otosan hanya menunjukkan kepada Winarno cara membawa semaian padi dengan implemen yang ditarik menggunakan traktor.

Disitulah Winarno merasakan keras dan disiplinnya bertani di Jepang.

“Saya mengistilahkannya digodok di kawah candradimuka. Karena tidak pernah orang tua saya menempeleng, di sana dididik dengan cara ditempeleng,” cerita Winarno.

Setelah itu Winarno naik mobil bersama Otosan mengelilingi sawah. Sesampai di rumah, Otosan memperlihatkan peta sawah, yang luasnya sekitar lima hektar. Selama ini ia mengerjakannya sendiri.

Mengolah tanah dengan traktor roda empat Kubota, menyemai dengan nampan, dan menanam dengan mesin tanam (transplanter). “Dengan adanya saya, kami mengelola sawah itu berdua,” kenang Winarno.

Pada saat magang di Jepang inilah Winarno merasakan pertanian presisi. Hampir sebagian besar proses bertani di Negeri Sakura itu menggunakan mekanisasi atau alat dan mesin pertanian.

Selain traktor, Toyoyuki menggunakan mesin tanam (transplanter), mesin penyemprot pestisida (mist blower), mesin panen kombinasi (combine harvester), mesin pengering (dryer), dan mesin penggiling padi (rice milling unit) sendiri.

Dukungan teknologi, termasuk teknologi 4.0, dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
Tandatangan kenangan dari Ir. H. Winarno Tohir di buku “Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani”, Senin, 15 April 2019. Sumber: Dokumentasi Agrikan.id.

Dari pengalaman bertani di Indonesia, magang di Jepang, melatih petani di Afrika, dan memimpin KTNA, Winarno mewujudkan impiannya menulis buku “Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani” yang diluncurkan di Hotel Aston Simatupang, Jakarta, Senin, 15 April 2019. Buku tersebut diterbitkan Kelompok KTNA.

Saya (Syatrya Utama) dan Windi Listianingsih diminta Winarno Tohir untuk menyunting buku tersebut agar enak dibaca untuk umum.

Winarno berkeyakinan, dengan dukungan teknologi, termasuk teknologi 4.0, dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Bahkan, anggota Tim Penilai Varietas Tanaman Produk Rekayasa Genetik, itu pada webinar tentang bioteknologi dan ketahanan pangan, Kamis, 17 Desember 2020, menginginkan penerapan bioteknologi di Indonesia, termasuk tanaman rekayasa genetik untuk meningkatkan kesejahteraan petani di tanah air.

Menjembatani petani dan pemerintah

Boleh dibilang, seumur hidupnya selama 64 tahun, Winarno selalu berpikir dan bertindak untuk kesejahteraan petani di Indonesia.

Pengalamannya sejak kecil, ketika membantu ibunya bersama buruh tani di sawah, setelah bapaknya meninggal, membawanya untuk selalu memperhatikan kesejahteraan petani.

“Almarhum sangat memahami persoalan. Berdiskusi dengannya selalu memberikan perspektif baru dalam mengelola pertanian. Beliau sangat concern terhadap kualitas dan regenerasi sumber daya manusia pertanian,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Jakarta, Sabtu, 6 Februari 2021.

Kementerian Pertanian dan KTNA yang dipimpin Winarno Tohir memiliki cita-cita yang sama untuk memperkuat pertanian dimulai dari desa-desa.
Winarno Tohir (kiri) dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kanan). Sumber: Kementerian Pertanian. Diakses dari jpnn.com, Sabtu, 6 Februari 2021.

Menurut Menteri Pertanian SYL, Winarno Tohir telah meninggalkan jejak pengabdian yang sangat berharga bagi pertanian di Indonesia.

“Kementerian Pertanian bersama KTNA yang dipimpinnya memiliki cita-cita yang sama, bagaimana memperkuat pertanian sebagai tulang punggung bangsa yang dimulai dari desa-desa,” kata SYL.

“Karena itu, atas nama keluarga besar Kementerian Pertanian menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi atas apa yang sudah almarhum lakukan,” tambah SYL.

Winarno, yang menjabat Komisaris PT Pupuk Kujang, Cikampek, Jawa Barat, selalu berusaha untuk menjembatani keinginan petani dan pemerintah.

Anggota Dewan Pakar Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) itu selalu berusaha menempuh jalan yang saling menghormati kepentingan petani dan pemerintah. Aspirasi petani terwujud sesuai dengan keinginan petani dan program pemerintah tetap berjalan dengan baik.

Ada suatu jargon yang menarik yang dikembangkan di Kelompok KTNA setelah reformasi.

Winarno, yang menjadi Ketua Umum KTNA sejak tahun 2000, bersama pengurus lainnya memposisikan KTNA tidak bernaung di bawah partai politik manapun.

Tetapi anggota KTNA diberi kebebasan menyalurkan aspirasi politiknya ke partai yang mereka pilih.

Jargonnya begini: “KTNA tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana.” Maknanya, sebagai organisasi, Kelompok KTNA tetap organisasi sosial ekonomi sehingga muncul jargon KTNA tidak ke mana-mana.

Tapi sebagai individu, anggota Kelompok KTNA bebas menyalurkan aspirasi politiknya melalui partai politik mana pun sehingga muncul jargon KTNA ada di mana-mana.

Biografi itu dalam proses

Setelah penerbitan buku “Pertanian Presisi untuk Mensejahterakan Petani”, ada keinginan Winarno membukukan jejak perjalanan dan pengabdiannya sebagai pemimpin dan pejuang petani di Indonesia.

Secara pribadi Winarno meminta kepada saya dan Windi Listianingsih untuk menulis buku biografinya.

Buku biografi sedang dalam proses penulisan. Hampir satu setengah tahun sejak peluncuran buku pertanian presisi, kami mengumpulkan potongan informasi jejak perjalanan dan pengabdian Winarno.

Tapi sayang, Winarno telah mendahului kita semua pada Sabtu, 6 Februari 2021, pukul 04.00 WIB. Semoga suami Umiyati itu ditempatkan di sisi terbaik di surga Allah SWT.

Meski Winarno Tohir sudah wafat, sesuai pesan terakhir almarhum melalui WhatsApp kepada saya, Rabu, 4 November 2020, pukul 14.21 WIB untuk terus melanjutkan penulisan buku biografi tersebut.

Penulisan buku dan pengumpulan potongan informasi jejak perjalanan dan pengabdian Winarno Tohir memang sempat tertunda gegara pandemi Covid-19.

Selamat jalan Ir. H. Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok KTNA Nasional.

Insya Allah, kami akan membukukan jejak perjalanan dan pengabdian almarhum Winarno Tohir, agar dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda di Indonesia untuk menekuni bidang pertanian.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com