Corteva
Farra Tiana Siregar. Industri pertanian di Asia Pasifik sangat beragam dan membutuhkan pemikiran luas.

Wanita dengan jenjang karier bagus dan memiliki keluarga bahagia, kenapa tidak?

Itulah yang dialami Farra Tiana Siregar, ASEAN Managing Director Corteva Agriscience™, divisi pertanian DowDuPont – perusahaan pertanian terkemuka dunia berbasis sains.

Apa kunci sukses perempuan berdarah Medan, Sumut dan Palembang, Sumsel, ini dalam berkarier dan berkeluarga?

Dukungan keluarga

Farra, begitu sapaan akrabnya, menuturkan, menjadi wanita karier tidaklah mudah. Ada keluarga yang harus menjadi perhatian utama di samping pekerjaan.

Ia mengaku beruntung karena keluarga inti beserta keluarga besar sangat mendukung kiprahnya dalam bekerja. “Bapak, ibu, suami saya sangat suportif. Saya rasa itu salah satu yang paling penting buat wanita karier. Bangun sistem pendukungmu,” ucapnya semringah.

Dukungan besar keluarga sangat Farra rasakan dalam merintis karier. Apalagi, ibu satu anak ini mengalami pergerakan karier yang cukup pesat.

Itu juga yang mengharuskannya berpindah tempat tinggal dan kerap melakukan perjalanan bisnis antarnegara, seperti Amerika, Singapura, Vietnam, dan Indonesia.

“Banyak sekali career movement (pergerakan karir). Kalau keluarga dan suami saya nggak support (mendukung), bakal susah sekali,” kata farra.

Karier Farra dimulai di lembaga konsultasi The Boston Consulting Group untuk Amerika dan Asia Tenggara. Pada 2003 ia bergabung dengan DuPont sebagai Marketing Manager DuPont Packaging & Industrial Polymers Business di Amerika.

Dua tahun kemudian ia pulang ke Indonesia dan berkarier sebagai Oil & Gas Manager di grup pengembangan bisnis baru DuPont ASEAN. Penggemar makanan ketoprak dan camilan tahu goreng ini pindah ke Singapura membawa jabatan Asia Pacific Plastic Market Development Manager di DuPont Titanium Technologies (DTT) pada 2007.

Lalu Farra pindah ke Vietnam pada 2011 seiring penunjukan menjadi Managing Director DuPont Vietnam. Dua tahun berselang, peraih gelar MBA dari Yale University, Amerika ini balik ke Singapura sebagai Sales Director DTT Asia Pasifik.

Ia sempat bergabung dengan Royal Dutch Shell sebagai Global GM for Marketing, Pricing and Business Development akhir 2013.

Penikmat olah raga berenang dan snorkeling ini kembali ke DuPont sebagai Asia Pacific Regional Business Director for DuPont Building Innovations pada 2015.

Mendukung pertanian

Perempuan murah senyum itu mulai terjun dalam bidang pertanian saat menempati posisi Asia Pacific Marketing Director DuPont Crop Protection dan Managing Director DuPont Singapura pada 2016. Sejak Januari 2018 Farra dipercaya sebagai ASEAN Managing Director Corteva.

Berbeda dengan industri lain yang digeluti, Farra menilai pertanian sangat berbeda, kompleks, dan banyak tantangan. Namun, ia mengaku sangat menikmati kerja bersama petani.

Farra Tiana Siregar. Kalau ke sawah saya ngerasa itu cantik sekali.

“Kalau saya kerja keras dan mengerjakan dengan baik, saya nggak hanya kerja keras untuk diri sendiri dan perusahaan. Yang paling penting, saya kerja keras untuk petani dan komunitas,” tuturnya semangat.

Istri Bastian ini sangat terkesan saat pertama kali mengunjungi lahan pertanian di India. Petani yang punya 0,5-1 ha lahan mendapat penghasilan lebih baik dengan edukasi dan teknologi yang diberikan perusahaan. Karena itu, ia mendukung penuh upaya perusahaan memajukan kehidupan petani.

“Banyak sekali yang bisa kita kerjakan untuk mendukung jutaan petani di seluruh Asia. Jadi, saya merasa sangat tertarik dan senang setiap hari datang kerja karena itu. Saya pendukung kuat para petani,” kata Farra.

Bahkan, kedua orang tuanya turut bangga saat Farra terlibat di sektor pertanian. “Apapun yang kamu lakukan, kami bahagia dan bangga. Cuma kalau terus di pertanian, lebih bagus lagi karena ada dampak yang baik buat petani. Kalau kamu bilang kerjaan bagus, berarti banyak petani yang terbantu,” paparnya meniru ucapan sang ayah.

Transferable skills

Menempati posisi tinggi tentu berisiko menghadapi ribuan tantangan berat. Karena itu, Farra harus tahan banting.

Kalau sukses terus, berarti kita nggak mengambil risiko yang cukup. Dan kalau sukses terus, kita berarti juga nggak belajar. Yang paling penting, harus terus belajar dan terbuka.

Farra Tiana Siregar

Juga, tidak melulu berkarier di industri serupa untuk meraih posisi tinggi. Farra membuktikannya. Sebab, ada keterampilan yang dapat ditransfer (transferable skills) antarindustri, seperti ketrampilan analitis dasar, manajemen bisnis, dan manajemen orang.

Ia mencontohkan, perusahaan pertanian dan perusahaan barang konsumsi sama-sama bisa berbagi ilmu untuk mencapai target pasar. “Biar tiap industri tantangannya lain-lain tapi karyawan dengan transferable skills yang kuat bisa beradaptasi,” cetusnya.

Selain itu, Farra fokus mengerjakan bidang yang diminati. “Jika mengerjakan sesuatu yang diminati, Anda akan sukses,” tandas perempuan yang menyukai pemandangan alam setiap dinas lapang ini.

Ia juga melakukan refleksi diri pada setiap jenjang karier yang dilalui. “Di setiap tahap karier, saya selalu melihat ini sesuatu yang menarik dan selalu mencari hal-hal baru,” kata perempuan yang sejak kecil tertarik di bidang ekonomi dan bisnis itu.

Dia mengaku ada saat lelah bekerja tapi tetap happy. Apalagi, ia kerap bertandang ke lokasi yang sejuk nan asri selama dinas di dunia pertanian.

“Kalau ke sawah, saya ngerasa itu cantik sekali. Lahan sayuran di Malang bagian atas, itu juga cantik banget. Di sini business trip (perjalanan bisnis)-nya kayak vacation (liburan). Bisa sambil lihat-lihat,” urainya dengan tawa berderai.

Keberagaman

Malang-melintang di aneka industri pun membuat Farra berpikiran terbuka, luas, dan beragam. Sarjana lulusan Wellesley College, Amerika ini memandang, tim kerja yang berlatar belakang pengalaman berbeda akan memperkaya perusahaan dengan kreativitas.

Jika ingin tumbuh, kita harus terbuka. Kita butuh belajar dari yang lain, kolaborasi dengan yang lain. Diversity (keberagaman) itu sangat penting. Kalau nggak, solusinya sama terus karena nggak ada keragaman pemikiran.

Farra Tiana Siregar

Terlebih, industri pertanian di Asia Pasifik sangat beragam dan membutuhkan pemikiran luas. “Selama 15 tahun terakhir ini lagi dan lagi saya melihat, bisnis yang berhasil itu harus beragam timnya. Kalau nggak, kreativitas dan solusinya nggak seoptimal yang bisa dilakukan,” serunya.

Perempuan kelahiran Jakarta itu juga merasa beruntung perusahaannya sangat menghormati keberagaman dan mendukung keberagaman gender. “Benar-benar disponsor dan diperjuangkan supaya banyak staf wanita berbakat yang mau ke pertanian. Kalau kita merekrut staf, kita pastikan ada pengembangan khusus untuk staf wanita,” pungkasnya menutup perbincangan menarik itu.

Referensi:

Majalah AGRINA Edisi 295, Januari 2019