harga beras di pasar global makin loyo
Ilustrasi. Beras konsumsi.

AGRIKAN.ID – Harga acuan global untuk beras putih Thailand dengan kadar butir patah maksimal 5 persen pada 25 September 2025 bertengger pada posisi USD 347 per ton.

Dibandingkan dengan harga Januari 2024, yang sekitar USD 655 per ton, maka harga beras di pasar global anjlok sekitar 47 persen.

Dari sisi permintaan global, salah satu penyebabnya adalah gegara Indonesia stop (berhenti) impor beras konsumsi tahun 2025.

Pada tahun 2024, Indonesia masih doyan mengimpor beras konsumsi sekitar 4,52 juta ton dari Thailand, Vietnam, Myanmar, Pakistan, dan India.

Sebelumnya, tahun 2023, Indonesia mengimpor beras konsumsi sekitar 3,06 juta ton, tahun 2022 sekitar 429,21 ribu ton, tahun 2021 sekitar 407,74 ribu ton, tahun 2020 sekitar 359,29 ribu ton, tahun 2019 sekitar 444,51 ribu ton, dan tahun 2018 sekitar 2,25 juta ton.

Pergerakan harga beras di pasar internasional

Pada Juli 2023, sebagai pengekspor beras terbesar di dunia, India menutup keran ekspornya karena untuk mengamankan kebutuhan sendiri.

Akibatnya, harga beras di pasar internasional melambung tinggi, dari sekitar USD 444 per ton menjadi USD 669 per ton pada 24 Januari 2024.

Kemudian, pada September 2024, India membuka keran ekspornya. Harga beras acuan global merayap turun.

Lihat juga: Fase pertumbuhan tanaman padi

Pada Senin, 9 Desember 2024, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, membuat pernyataan bahwa pada tahun 2025 Indonesia akan berhenti mengimpor beras konsumsi.

Gegara pernyataan tersebut, maka pada Kamis, 19 Desember 2024, harga beras di pasar internasional turun menjadi berada pada posisi USD 455 sampai USD 514 per ton.

Pada Rabu, 8 Januari 2025, menurut Badan Pangan Nasional, harga beras di pasar internasional berada pada posisi USD 430 sampai USD 490 per ton.

Dari data tersebut di atas, kita tahu, bahwa betapa besar pengaruh pernyataan pemerintah Indonesia akan menghentikan impor beras konsumsi tahun 2025. Hal itu berarti Indonesia sudah tidak lagi doyan mengimpor beras konsumsi. Permintaan beras di pasar global menjadi turun.

Tahun 2025, Indonesia surplus produksi beras 3,77 juta ton

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, para petani padi, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja keras untuk meningkatkan produksi beras di dalam negeri.

Hasilnya? Menakjubkan.

Menurut Badan Pusat Statistik, produksi beras Indonesia tahun 2025 sekitar 34,77 juta ton. Sementara menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) produksi beras Indonesia sekitar 34,6 juta ton.

Lihat video: Indonesia surplus produksi beras 2025

Dengan konsumsi sekitar 31 juta ton, maka pada tahun 2025 Indonesia surplus produksi beras sekitar 3,77 juta ton atau setara konsumsi 43 hari.

Padahal, tahun 2025 pemerintah Indonesia hanya menargetkan produksi beras sekitar 32 juta ton.

Dari data tersebut di atas, hampir dipastikan, bahwa Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi pada tahun 2025, kecuali karena hal-hal tertentu.

Tren harga beras di pasar internasional ke depan

Bagaimana dengan tren harga beras di pasar internasional ke depan?

Indeks Harga Beras FAO (Food and Agriculture Organization) pada Oktober 2025 berada pada posisi 98,4. Posisi 100 terjadi pada tahun 2014-2016.

Hal itu berarti, pada akhir tahun 2025 harga beras di pasar global sudah tipis di bawah harga tahun 2016.

(Sahabat yang terhormat. Jika ingin mendapatkan ebook 20 varietas padi Indeks Glikemik (IG) rendah, silakan klik link ini: Padi IG Rendah).

Diperkirakan, pada tahun 2026, harga beras di pasar global cenderung makin melembek. Mengapa?

Begini ceritanya.

Pada tahun 2025, beras yang diperdagangkan di pasar internasional sekitar 60 juta ton atau 11 persen dari total produksi global.

India, sebagai negara pengekspor beras terbesar di dunia, melemparkan berasnya di pasar global sekitar 30 juta ton, yang biasanya hanya sekitar 22 juta ton.

India sudah melobi pemerintah Filipina sebagai importir beras terbesar di dunia agar menyerap beras India.

Tetapi Filipina bermain cantik. Dengan alasan untuk melindungi kesejahteraan petaninya, maka sampai akhir tahun 2025 Filipina mengerem impor beras.

Akibatnya, pada tahun 2026 harga beras di pasar global bisa lebih rendah lagi.

Negara pengekspor beras bersaing ketat

Thailand dan Vietnam juga bersaing ketat memasarkan berasnya di pasar internasional, meskipun marjinnya makin tipis, tidak lagi setebal tahun 2024.

Perlu kita ketahui, kualitas beras masih terjaga dengan baik jika disimpan paling lama enam bulan. Jika lebih enam bulan, kualitasnya turun, begitu juga harganya.

Bisa saja kualitas beras masih aman sampai 12 bulan jika disimpan dengan kemasan plastik hermetik yang kedap udara. Tetapi, biaya penyimpanannya menjadi lebih mahal.

Karena itulah, untuk melindungi kesejahteraan petani mereka, Thailand dan Vietnam berusaha keras untuk menjual berasnya ke pasar internasional, apa pun caranya.

Begitulah persaingan perdagangan beras di pasar intenasional makin ketat, gegara Indonesia stop impor beras konsumsi.

Pasokan beras di pasar global melimpah. Permintaannya melorot. Harga beras acuan di pasar global bisa menjadi makin loyo.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

Riset data dan informasi dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Pusat Statistik (BPS), ecofinagency.com, fas.usda.gov, goodnewsfromindonesia.id, Food and Agriculture Organization (FAO), ipad.fas.usda.gov, Kementerian Pertanian Republik Indonesia, news.republika.co.id, dan statista.com.