Cokelatin Signature, bubuk minuman cokelat premium
Irena Surosoputra, Chief Executive Officer (CEO) Cokelatin Signature.

AGRIKAN.ID – Semangat yang tinggi mewarnai pasangan suami istri Nugroho Surosoputra dan Irena Surosoputra dalam mengembangkan usaha produk bubuk minuman cokelat premium dengan merek Cokelatin Signature, berlogo C. Mereka mempunyai mimpi besar mengangkat citra kakao Indonesia.

Dengan tagline (slogan) Bangga Minum Cokelat Indonesia, Cokelatin Signature mempunyai visi besar mengangkat identitas kakao Indonesia, baik di tingkat domestik maupun di kancah internasional.

Produksi kakao di Indonesia sekitar 700 ribu ton biji kering per tahun. Sebagian besar (sekitar 99%) adalah biji kakao varietas Forastero, sedangkan Criollo dan Trinitario (hasil persilangan Forastero dan Criollo) sekitar 1%. Tetapi dari cita rasa dan aroma, Criollo dan Trinitario lebih baik dari Forastero.

Apalagi dalam proses produksi biji kakao kering petani melakukan fermentasi. Yaitu proses biokimia dalam biji kakao untuk menghasilkan senyawa pembentuk cita rasa dan aroma cokelat yang aduhai.

Proses fermentasi biji kakao akan menghasilkan profil cita rasa dan aroma kakao bubuk bernuansa karamel, chocolaty (rasa khas cokelat), creamy (krimi), flowery (bunga), fruity (buah), dan nutty (kacang). Nuansa cita rasa tersebut relatif tidak mudah muncul dari biji kakao yang nonfermentasi.

Perlu diketahui, dari sekitar 1,53 juta hektare perkebunan kakao di Indonesia, sekitar 97,57% dikelola oleh petani. Sisanya, 1,01% dikelola perusahaan negara dan 1,42% perusahaan swasta.

Sekitar 86,75% produksi kakao di Indonesia berasal dari 9 provinsi, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Cokelatin Signature berbahan baku kakao Trinitario dan Criollo

Secara otodidak, Irena dan suaminya, Nugroho, tekun mempelajari cita rasa dan aroma biji kakao.

Biji Forastero sangat pahit, sangat aromatik, sangat sepat, dan tinggi tanin. Trinitario menonjolkan rasa kakao basal (cokelat, asam, pahit, dan sepat) yang baik dengan sedikit aroma buah atau bunga.

Biji Criollo mempunyai rasa cokelat yang tidak pahit dan rasa seperti krim manis. Sebagai kakao mulia, Criollo mempunyai cita rasa aduhai seperti buah, bunga, herbal, kayu, kacang, dan karamel.

Lihat juga: Dari buah menjadi biji kakao kering

Dari ketekunan tersebut, pasangan suami istri itu memilih biji kakao Trinitario dan Criollo sebagai bahan baku utama memproduksi produk bubuk minuman cokelat premium Cokelatin Signature.

Di bawah bendera PT Anugerah Cokelat Indonesia (ACI), Cokelatin Signature membeli biji fermentasi kakao Trinitario dari petani di Luwu, Sulawesi Selatan. Kemudian, prosesor kepercayaan pilihan ACI mengolah biji tersebut menghasilkan bubuk kakao berkadar lemak kakao 22% dan lemak kakao.

ACI membeli biji fermentasi kakao Criollo dari petani di Jember dan Malang, Jawa Timur. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), PT Riset Perkebunan Nusantara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengolah biji tersebut menghasilkan bubuk kakao berkadar lemak kakao 22% dan lemak kakao. “Kami bekerja sama dengan (PPKKI),” kata Nugroho, alumni Universitas Gunadarma.

Prosesor di Luwu dan PPKKI di Jember mengirimkan bubuk kakao berkadar lemak kakao 22% dan lemak kakao ke pusat produksi Cokelatin Signature di Ruko Griya Permata, Kota Tangerang, Banten.

Lihat juga: Lemak kakao dan bungkil cokelat

Bubuk kakao berkadar lemak kakao 22% untuk bahan baku minuman cokelat premium Cokelatin Signature. Bubuk kakao dengan tinggi lemak mempunyai tekstur yang lebih lembut dan kaya aroma cokelat. Lemak tersebut berperan melapisi partikel bubuk dan membuat sensasi halus di mulut.

Sementara itu, untuk lemak kakao sendiri dijual Nugroho kepada perusahaan kosmetik dan farmasi.

Meramu produk bubuk minuman cokelat premium

Sebagai pegiat Event Organizer Indonesia5 di Jakarta Selatan, Irena doyan minum kopi. Tetapi kemudian, setelah suka minum cokelat, alumni Universitas Budi Luhur, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, itu merasakan nuansa relaksasinya. Berbeda dengan kopi, yang bersifat kecanduan.

Pada tahun 2016, Irena berusaha mendapatkan minuman cokelat artisan, yang lebih natural. Setelah delapan bulan berjuang, ia berhasil meramu bubuk minuman cokelat premium Dark Choco, Creamy Latte, dan Sweet Classic. Keluarga dan teman-temannya suka bubuk minuman cokelat artisan tersebut.

Komposisi Dark Choco adalah 80% bubuk kakao Trinitario dengan kadar lemak kakao 22%, krimer nabati, dan gula pasir premium. Minuman cokelat ini kaya rasa dan bermanfaat untuk kesehatan.

Creamy Latte mempunyai komposisi 50% bubuk kakao Trinitario dengan kadar lemak kakao 22%, krimer nabati, susu bubuk rendah lemak, dan gula pasir premium. Rasanya lebih kental dan krimi.

Sweet Classic mempunyai komposisi 50% bubuk kakao Trinitario dengan kadar lemak kakao 22%, krimer nabati, dan gula pasir premium. Rasanya ringan, sedikit manis, dan aroma cokelat yang kuat.

Pada tahun 2021, Cokelatin Signature meluncurkan Java Criollo. Komposisinya adalah 80% bubuk kakao Criollo blend (dicampur Trinitario) dengan kadar lemak 22%, krimer nabati tinggi serat pangan, dan gula aren organik. Java Criollo mempunyai rasa cokelat yang kuat dan aroma yang lembut.

Cokelatin Signature dipasarkan secara ritel dan B to B (business to business). Secara ritel dapat dipesan melalui marketplace di Tokopedia, Shopee, Blibli, dan PaDi UMKM, selain melalui agen. Untuk B to B dipasarkan ke instansi, BUMN, dan horeka (hotel, restoran, dan kafe), antara lain Grand Hyatt Jakarta, Marriott Yogyakarta, Mercure Tangerang, dan Golden Tulip Essential Kota Tangerang.

Mengangkat citra identitas kakao Indonesia

Dengan dukungan pemerintah dan BUMN, termasuk PT Pegadaian (Persero), Cokelatin Signature kian berkembang. Bukan hanya bisa dinikmati konsumen domestik, tapi juga mancanegara, antara lain di Singapura, Taiwan, Hong Kong, dan Arab Saudi. Ekspansinya ke Jepang sedang dalam proses.

Dengan logo C, konsumen tahu Cokelatin Signature itu bubuk minuman cokelat premium dari kakao Indonesia. Pada logo C antara lain terdapat gambar Toraja yang melambangkan Sulawesi, gunung berapi yang melambangkan Jawa, dan Bali yang menjadi sumber penghasil kakao di Indonesia.

Orang selama ini lebih mengenal cokelat Italia, Belgia, atau Swiss. Tetapi kurang mengenal cokelat Indonesia. Padahal Indonesia penghasil kakao nomor tiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Cokelatin Signature, merek lokal dari Indonesia, hadir untuk mengangkat citra indentitas kakao Indonesia. “Dengan melihat logo C (kumpulan daerah penghasil kakao di Indonesia), orang di luar negeri tahu, (Cokelatin Signature) itu cokelatnya orang Indonesia,” kata Irena kepada AGRIKAN.ID.

Tahun lalu, Cokelatin Signature berhasil mengikuti GadePreneur, program PT Pegadaian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Indonesia. Melalui program GadePreneur, Cokelatin mendapat fasilitas gratis pameran Bunex (Perkebunan Indonesia Expo) di ICE BSD City, Tangerang, Banten, September 2024.

Lihat juga: Cara Pegadaian berdayakan UMKM

Dari BUMN juga Cokelatin Signature mendapat fasilitas pameran di Nanning (Tiongkok), Boston (Amerika Serikat), dan Arab Saudi. Fasilitas pameran sangat mendukung pasar Cokelatin Signature.

“Pemerintah dan BUMN sangat mendukung kami. Kami mendapat stand gratis. Bahkan kami pernah dapat fasilitas pameran di luar negeri. Akomodasinya dapat support dari beberapa BUMN,” kata Chief Executive Officer (CEO) Cokelatin Signature, itu.

Dengan mendukung perkembangan Cokelatin Signature, Pegadaian mengEMASkan Indonesia. Mengapa? Karena eksistensi produk cokelat tersebut bisa mengangkat kejayaan kakao Indonesia di dalam negeri maupun di luar negeri. Melalui hilirisasi kakao dengan pendekatan cokelat artisan, produk bubuk minuman cokelat premium Cokelatin Signature turut #mengEMASkanindonesia.

Kolaborasi RPN dan ACI mendorong hilirisasi kakao Indonesia

Hilirisasi kakao merupakan proses pengolahan biji kakao menjadi produk yang bernilai tambah lebih tinggi seperti bubuk minuman cokelat premium, cokelat batangan, dan produk olahan lainnya.

Salah satu cara mendorong hilirisasi kakao Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan PT Anugerah Cokelat Indonesia (ACI) menandatangani Nota Kesepahaman terkait Pengembangan Hilirisasi Komoditas Kakao dan Turunannya pada Senin, 11 Agustus 2025, di Bogor, Jawa Barat.

Dini Astika Sari, Kepala PPKKI, unit usaha RPN, menekankan pentingnya mendekatkan produk cokelat Indonesia kepada konsumen domestik, yang selama ini masih didominasi produk impor.

“Kolaborasi ini sangat strategis karena sesuai dengan keinginan pemerintah untuk mengembangkan hilirisasi komoditas kakao. Kami berharap kerja sama ini dapat berjalan sukses dan lancar,” katanya.

“Kita semua sepakat, kakao Indonesia termasuk yang terbaik di dunia. Namun, tantangan di hilir seperti segmentasi pasar perlu mendapat perhatian serius. Kunci utamanya adalah hilirisasi yang berkembang baik sehingga ekosistemnya dapat optimal,” kata Iman Yani Harahap, Direktur RPN.

Nugroho Surosoputra, Chief Operating Officer (COO) ACI, bermimpi besar mengangkat citra kakao Indonesia di mancanegara. “Kami memiliki mimpi besar menghadirkan cokelat berkualitas tinggi dari bahan baku kakao Indonesia. Kami tidak mungkin berjalan sendiri dengan skala yang masih terbatas, sehingga kerja sama ini menjadi momentum penting untuk mewujudkan visi tersebut,” katanya.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com