Tentang telur tetas dan telur konsumsi.
Telur ayam ras, telur ayam kampung, telur ayam arab, dan telur bebek. Sumber: BPMSPH.

Agrikan tertarik menulis tema tentang telur tetas dan telur konsumsi ini setelah membaca postingan Denny Widaya Lukman, dosen FKH IPB University, Bogor, di akun Facebook, Jumat, 8 Mei 2020.

Ia mengizinkan Agrikan menyadur tulisan tersebut. Tulisan ini sangat bermanfaat bagi pembaca, konsumen telur. Sebab, beredar tulisan yang kurang benar mengenai kedua jenis telur tersebut.

Tulisan ini diperkaya dengan bahan dari Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH), Bogor. Menurut Balai ini, telur konsumsi itu terdiri atas:

  1. Telur bebek. Cangkang berwarna biru, bobot 55-65 gram per butir.
  2. Telur ayam lokal atau ayam buras atau ayam kampung. Cangkang berwarna putih kecokelatan, bobot 40-50 gram per butir.
  3. Telur ayam arab. Cangkang berwarna putih, bobot 45-55 gram per butir.
  4. Telur ayam ras (layer). Cangkang berwarna cokelat, bobot 50-60 gram.
  5. Telur ayam bibit atau telur tetas (hatched egg) atau telur tertunas (fertilized egg). Cangkang telur ini berwarna kecokelatan. Jika kuningnya satu, bobotnya di bawah 50 gram per butir. Tetapi jika kuningnya dua, bobotnya di atas 65 gram per butir.

Telur tetas

Jadi, menurut BPMSPH, telur tetas termasuk juga salah satu jenis telur yang dapat dikonsumsi.

Telur tetas merupakan telur yang telah dibuahi oleh ayam jantan. Di dalam telur tetas ini terdapat calon anak ayam atau embrio.

Telur tetas umur 1 hari dan umur 4 hari. Sumber: BPMSPH.

Telur tetas ini dihasilkan dari ayam bibit untuk ditetaskan menjadi anak ayam (day old chick atau DOC).

Pada umumnya, telur ayam lokal atau ayam kampung dihasilkan dari ayam betina yang dikawini oleh ayam jantan. Jadi, telur ayam lokal merupakan telur yang dibuahi atau telur tertunas.

Kita tidak pernah bermasalah mengonsumsi telur ayam lokal. Tidak ada gangguan selama ayam yang menghasilkan telur tersebut adalah ayam sehat dan telur ditangani dengan baik dan dimasak matang.

Di samping itu ada telur konsumsi yang dihasilkan dari ayam petelur (layer) yang memang untuk tujuan konsumsi masyarakat. Biasanya telur konsumsi ini tanpa dibuahi dan dihasilkan dari ayam ras petelur.

Telur tetas dan telur konsumsi ini aman dikonsumsi masyarakat, jika dihasilkan dari ayam sehat dan penanganannya bersih (higienis). Tidak berdampak buruk bagi kesehatan konsumen telur tersebut.

Larangan jual-beli, bukan larangan konsumsi

Biasanya telur tetas ini dihasilkan oleh perusahaan pembibitan ayam, termasuk perusahaan yang berskala besar.

Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 32 Tahun 2017 Pasal 13 Ayat (4) disebutkan: Pelaku usaha terintegrasi, pembibit GPS (grand parent stock), pembibit PS (parent stock), pelaku usaha mandiri dan koperasi dilarang memperjualbelikan telur tertunas dan infertil (kurang subur) sebagai telur konsumsi.

Jadi, di dalam peraturan tersebut, yang dilarang itu adalah memperjualbelikan telur tetas dan infertil kepada masyarakat untuk dikonsumsi. Tetapi tidak dilarang untuk mengonsumsi telur tersebut.

Biasanya, perusahaan pembibitan suka membagikan telur tetas dan infertil ini kepada masyarakat di sekitar perusahaan pembibitan tersebut untuk dikonsumsi.

Dengan demikian, telur tetas yang diperoleh masyarakat tanpa dibeli, misalnya mendapat bantuan dari perusahaan pembibitan, tidak ada masalah terkait dengan hukum dan keamanan pangan.

Klarifikasi informasi

Ada informasi yang beredar mengenai perbedaan telur tetas dan telur konsumsi. Menurut Denny, kita sulit membedakan keduanya berdasarkan warna cangkang (kulit) telur dan ketebalan cangkang telur.

Sebab, warna cangkang dan ketebalan cangkang telur tergantung pada bangsa atau galur (genetik), umur, dan kesehatan ayam.

Disebutkan juga bahwa telur konsumsi dapat disimpan lebih lama, sementara telur tetas tidak. Daya simpan telur yang pendek, menurut Denny, tidak berkaitan dengan telur yang berbahaya bagi kesehatan konsumen, tetapi berkaitan dengan mutu telur, termasuk kelayakan konsumsi.

Telur ayam ras dan telur ayam kampung. Sumber: BPMSPH.

Terkait masa simpan telur tetas ini juga tergantung pada lamanya penyimpanan dan cara penyimpanannya. Belum tentu telur tetas memiliki masa simpan lebih pendek dari pada telur konsumsi.

Di dalam sebuah brosur disebutkan juga bahwa telur konsumsi banyak mengandung omega-3. Hal ini juga tidak benar. Sebab, kandungan omega-3 di dalam telur tergantung pada pakan. Tidak semua telur konsumsi mengandung omega-3 yang tinggi.

Selanjutnya disebutkan juga bahwa telur tetas banyak mengandung bakteri dan Salmonella.  Hal ini, menurut Denny, juga tidak benar. Pemeliharaan ayam bibit sangat memperhatikan kesehatan ayam dan biosekuriti.

Keberadaan bakteri pada telur akan memengaruhi produksi dan kesehatan ayam secara umum.

Bakteri Salmonella pada peternakan ayam bibit senantiasa dikendalikan melalui vaksinasi, biosekuriti, dan pengujian laboratorium secara rutin.

Pada telur ayam tetas dilakukan “disinfeksi” pada permukaan kulit telur untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme.

Apakah telur tetas aman? Jelas aman. Jika tidak aman, maka calon anak ayam di dalam telur akan mati.

Lantas, apakah kandungan gizi telur tetas dan telur konsumsi berbeda? Menurut literatur, tidak ada perbedaan nyata kandungan gizi antara telur tetas dan telur konsumsi. Pada prinsipnya hampir sama.

Jadi, kita tidak perlu khawatir mengonsumsi telur tetas, yang juga termasuk ke dalam salah satu jenis telur yang dapat konsumsi, asalkan dihasilkan dari ayam sehat dan ditangani secara higienis.

Referensi:

Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan. 2018. Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan. Bogor: Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here