AGRIKAN.ID – Inflasi tanpa kendali, pertumbuhan ekonomi melambat, biaya energi untuk petrokimia melesat, harga pangan melambung! Itulah luka menganga dan risiko geopolitik.
Perang AS (Amerika Serikat)-Iran, dengan Israel sebagai ‘pemandu sorak’ (cheerleaders), bukanlah dogfight atau perang manuver antarpilot tempur AS-Iran di atas atmosfer.
AS bukan lawannya Iran untuk dogfight, udara miliknya AS-Israel. Kurun 47 tahun mempelajari cara menang, lewat perang asimetri dan perang atrisi (war attrition), Iran mulai menjaga ekuilibriumnya terhadap AS.
Lihat juga: Pupuk Indonesia mengandalkan digitalisasi
Berhasil? Menuju minggu ke-6, AS-Israel jauh dari menyelesaikan short war (perang singkat). Perlahan, negeri teokrasi ini, menggeser atau mulai mengelola perang fisik ke perang ekonomi.
Bertahan, meski hancur, Iran menyeret AS-Israel menjadi musuh perekonomian global. Perang sudden death, yang mudah menstabilkan dan memulihkan pasar, diubah Iran menjadi perang atrisi (panjang) yang destruktif.
Ketidakpastian kapan perang akan berakhir, ditambah kecerdikan Iran menghancurkan kilang, ladang minyak, dan jalur lalu lintas distribusi di seluruh negara Teluk (Gulf Cooperation Council, GCC), menjadikan harga energi beserta produk turunannya menjadi liar.
Berapa lama konflik AS-Iran-Israel akan berlangsung, seberapa luas penyebarannya (melibatkan proxi dan patron-client), dan seberapa besar kerusakan infrastruktur serta rantai pasok. Semuanya akan berdampak pada kenaikan harga.
Minyak dan gas sensitif harga
Minyak mentah (crude oil) dan gas, merupakan produk utama yang selama ini sangat sensitif terhadap konflik. Sedikit saja ketidakstabilan di Timur Tengah, maka harga keduanya akan naik. Terlebih yang berkonflik adalah pemilik jalur geografis rantai pasok Iran lewat Hormuz.
Penutupan (blokade) Selat Hormuz oleh Iran, bukan hanya menghambat distribusi minyak sebanyak 20 juta barel per hari (bpd), 20 persen LNG (gas alam cair), tetapi juga termasuk produk turunannya yang disebut petrokimia.
Lihat juga: Unsur hara esensial dan benefisial untuk tanaman
Berbahaya lagi, rusaknya fasilitas LNG Qatar oleh drone Iran, di Ras Laffan, sangat mempengaruhi distribusi ke Asia. Terlebih 93 persen produk LNG Qatar yang melewati Selat Hormuz, memasok hampir 83 persen kebutuhan gas kawasan Asia.
Urgensinya gas alam (LNG), sebanyak 70-80 persen merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk nitrogen, terutama urea. Gas juga merupakan sumber hidrogen untuk memproduksi amonia (NH3) yang kemudian diproses menjadi pupuk. Kiamat pertanian?
Pertanian bisa mengalami kesulitan
Pertanian, diperkirakan akan mengalami kesulitan produksi, bila durasi perang semakin tak pasti. Sekitar sepertiga produksi pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Blokade Hormuz akan menaikkan harga pupuk global rata-rata 15-20 persen di tengah semester 2026.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sendiri memprediksi, proyeksi tersebut sebagai akibat dari Perang AS-Iran, yang diperkirakan melahirkan krisis panjang.
Bukan hanya PBB. International Monetary Fund (IMF) melihat blokade Selat Hormuz akan menghidupkan kembali momok krisis gas yang pernah terjadi di Eropa (2021-2022).
Inggris dan Italia sangat rentan karena berpembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Sementara Perancis dan Spanyol relatif terjaga oleh kapasitas energi nuklir dan terbarukan (The Guardian, 31 Maret 2026).
Lihat juga: Manfaat pupuk silika untuk padi
Ketidakpastian dan kepastian pasar minyak, gas, dan petrokimia, kini bergantung pada dua negara saja: AS atau Iran. Mengapa Israel tidak? Negara berluas 22.000 km2 dan berpenduduk 11-12 juta ini, sesungguhnya bisa dihardik AS, berhenti menyerang Iran. Itu, bila Donald Trump, Presiden AS, mau!
Investor terkenal Perancis Francois Marie Wojcik dalam buku: “Richer, Wiser, Happier” yang ditulis William Green (2021) sepakat dengan narasi ketidakpastian, seperti yang dialami ekonomi global saat ini. Sungguh telah terjadi.
Tiga prinsip ketidakpastian
Tiga prinsip ketidakpastian itu adalah: keraguan, keraguan, dan keraguan. Sama dengan ragunya pelaku ekonomi, tentang kepastian harga minyak dan gas, petrokimia, pupuk, helium, dan yang lain.
Sungguh, pergerakan geopolitik, kini memasuki etafe berbahaya, dan bak kapal perusak yang menghantam apa saja di depan mata. Hancurnya pesawat canggih sistem peringatan dan kendali udara (AWACS) E-3 AS (di Pangkalan Arab Saudi) oleh Iran, menjadi pertanyaan. Seperti apa kekuatan Iran kini?
Lihat juga: Aplikasi pupuk dolomit untuk padi
Lebih dari itu, kehancuran fasilitas energi negara teluk: kilang SAMREF dan komplek petrokimia Jubail (milik Arab Saudi), ladang gas Al Hosn, Shah, juga Fujairah (milik Uni Emirat Arab, UEA), serta kilang Ras Laffan-komplek Petrokimia Mesaieed (milik Qatar), plus Majnoon (Irak), telah mengguncang stabilitas harga energi.
Bandul perang, kini berayun kencang ke arah perang ekonomi skala penuh. Pemberian tarif kapal yang lewat Selat Hormuz oleh Iran, menempatkan negara pengguna pada tiga kategori: Hostile State, No-Hostile State, dan Friendly State.
Sekadar memberi ‘lukisan’, bagi Iran: China, Malaysia, Pakistan, dan India adalah friendly state. Boleh lewat! Sementara AS, Israel, dan Inggris adalah hostile state. Dilarang lewat. Terakhir yang kita sebut no-hostile state. Lewat, bayar!
Unsur-unsur petrokimia
Meski minyak dan gas menjadi faktor utama keresahan ekonomi global, akibat perang Iran-AS, tetapi berbagai produk turunannya, ikut terdampak dari sisi pasok dan harga secara signifikan.
Konflik AS-Iran, dan Israel memicu kekhawatiran kenaikan harga sekaligus membahayakan rantai pasok petrokimia seperti plastik, serat tekstil, pupuk, deterjen, dan bahan industri kimia lainnya.
Unsur-unsur petrokimia merupakan bahan kimia dasar yang dihasilkan dari minyak bumi dan gas alam (LNG). Meliputi: olefin (etilena, propilena, butadiena), aromatika mencakup (benzena, toluena, xilena), dan gas sintetis terdiri dari (amonia, metanol).
Lihat juga: Multiguna pupuk KCl Mahkota asal Kanada
Ketersediaan rantai pasok dari kawasan Teluk, terhadap petrokimia, tak kalah vital. Misal: olefin, dengan varian etilena berguna untuk pembuatan plastik polietilena, propilena dengan bahan dasar polipropilena (untuk membuat plastik dan serat), dan butadiena (untuk membuat karet).
Sementara, aromatika dengan varian: benzena (bahan baku nilon, deterjen, karet sintetis), toluena (untuk membuat pelarut dan bahan peledak), dan xilena (untuk membuat serat poliester dan plastik).
Selanjutnya, unsur petrokimia lain, gas sintetis dengan varian: amonia (bahan baku utama pupuk urea, amonium nitrat) dan metanol (untuk membuat poliester dan plastik). Lainnya: naftalena (membuat pestisida, yaitu racun hama dan penyakit tanaman) dan bitumen (untuk membuat aspal).
Lebih baik negosiasi ke jalan kebaikan
Tekanan terhadap Trump (melalui demo No Kings di AS), ditambah makin kuatnya Iran di medan perang, lalu serangan pada kapal tanker raksaksa Kuwait Al Salmi berbobot 2 juta barel minyak senilai US$ 200 juta (di pelabuhan Dubai), menjadikan pasokan energi makin terancam.
Entah Trump putus asa, atau tak mengira Iran sejauh ini. Wall Street Journal, seperti dikutip The Guardian (30 Maret 2026) melaporkan. Donald Trump (kepada pembantunya), bahwa dia bersedia mengakhiri perang. Bahkan, sekalipun Selat Hormuz tetap ditutup Iran. Opsi militer, bukan prioritasnya!
Lihat juga: Pemupukan berbasis keseimbangan hara terpadu
Perang memasuki hari ke-31 (sejak perang dimulai 28 Februari 2026), tak ada tanda-tanda Iran akan menyerah pada AS. Minyak, gas, petrokimia, sebagai hajat hidup inklusif (global) kian terancam pasokannya. Ekosistem turunan minyak dan gas seperti polimer akan membahayakan pasokan komponen industri.
Polimer (petrokimia) yang menghasilkan plastik, PVC (polyvinyl chloride), komponen otomotif (bumper), konstruksi (pipa), elektronik, medis, hingga tekstil, akan berhenti berproduksi, dan industri global bakal loyo.
Bola kini di tangan Trump dan Iran! Negosiasi win win akan memberi jalan kebaikan pada perekonomian global. Ketimbang stagnasi ‘keras kepala’ yang bertahan pada negosiasi ‘posisional’.
Posisional adalah merasa unggul dan hanya menginginkan apa yang ada dalam benaknya sendiri. Andrey Gromyko (mantan Menteri Luar Negeri Uni Soviet) pernah berujar. “Lebih baik negosiasi 10 tahun, ketimbang perang sehari”. Terserah!
Sabpri Piliang | Pengamat Timur Tengah














