merawat maggot BSF, mengukir kebersihan kota
Akbarreza Saiditiansyah, mendalami praktik budidaya dan bisnis maggot BSF.

AGRIKAN.ID – Bergerak dari skala kecil dengan visi yang besar. Dengan merawat maggot BSF (black soldier fly), bisa mengurangi sampah makanan dari rumah tangga, hotel, restoran, dan rumah sakit.

Maggot BSF merupakan larva lalat tentara hitam. Biasanya, tahap larva ini selama 13-21 hari setelah menetas. Kemudian, larva memasuki tahap prakepompong sekitar 7 hari, kepompong 10-30 hari, dan lalat dewasa 5-8 hari. Umumnya, dari larva sampai dewasa dan mati, siklus hidupnya 40 hari.

Pada tahap maggot inilah dimanfaatkan untuk mengurangi sampah organik. Sebab, sampah organik, terutama sampah makanan seperti limbah sayuran dan buah-buahan, merupakan pakan larva BSF. Rasionya, setiap satu kg maggot BSF bisa membutuhkan empat kg limbah sayuran dan buah-buahan.

Bayangkan, makin banyak larva BSF yang dibudidayakan, makin banyak sampah organik yang bisa diolah. Istilah teknisnya adalah biokonversi sampah organik dengan menggunakan maggot BSF.

Selain biokonversi sampah organik, maggot yang sudah mencapai ukuran sedang (berumur sekitar 17 hari sejak menetas) bisa dimanfaatkan untuk pakan unggas dan ikan. Sementara bekas kotoran maggot (kasgot) atau dikenal dengan kompos, bisa digunakan untuk menyuburkan lahan pertanian.

Kisah Akbarreza Saiditiansyah merawat maggot BSF

Akbarreza Saiditiansyah, lulusan Jurusan Komunikasi Universitas Sahid, Jakarta, berpengalaman merawat maggot BSF di Cakung Barat, Cakung, Jakarta. Kelahiran Semarang, 16 Februari 1988, itu terpesona dengan budidaya maggot karena melihat peluang bisnisnya yang begitu menggiurkan.

Anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Suwardi dan Ike Christianingrum, itu mulai budidaya maggot 2018, setelah pelatihan. Di lahan 30 meter persegi di belakang rumah, dibuat kandang lalat dewasa BSF, kandang penetasan telur, dan biopond (kotak pembesaran maggot).

Pada tahap awal, untuk mendapatkan bibit lalat dewasa BSF, Akbarreza membeli satu gram telur lalat BSF. Setelah menetas, sekitar 60% dibesarkan sampai tahap larva dan 40% sampai lalat dewasa.

Setelah berkembang, Akbarreza bisa memanen sekitar 600 kg maggot BSF hidup atau setara 200 kg maggot kering per pekan. Pengeringan maggot dilakukan dengan menggunakan microwave oven.

Dengan maggot seberat itu, dibutuhkan sampah organik untuk pakannya sekitar 2,4 ton per pekan. Pakannya sampah makanan, bukan limbah sayuran dari pasar, yang kandungan pestisidanya tinggi. “Maggot BSF bisa mati kalau makan sayuran yang kandungan pestisidanya tinggi,” kata Akbarreza.

Dari penjualan maggot kering, Akbarreza dan lima karyawannya bisa mengantongi sekitar Rp 8 juta per pekan. Sementara itu, dari penjualan kasgot 250 kg mereka bisa menuai Rp 250 ribu per pekan.

Berkat kegigihan mengonversi sampah organik dengan maggot BSF, pada tahun 2023 Akbarreza meraih penghargaan SATU Indonesia Awards pada tingkat provinsi dari PT Astra International Tbk.

Tetapi, sayang, karena pihak ketiga tidak sanggup lagi memasok sampah makanan, akhirnya sejak Maret 2024, budidaya maggot BSF di Cakung Barat itu terhenti. Kemudian, Akbarreza mendapat tawaran untuk mengembangkan budidaya maggot secara terpadu di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Maggotnya tidak dijual tapi untuk pakan ayam kampung dan ikan yang dipelihara sendiri. Kasgotnya untuk menyuburkan lahan pertanian. “Konsepnya terintegrasi untuk ketahanan pangan,” katanya.

Mengukir kebersihan Kota Jakarta dengan eMaggot

Di Kota Jakarta, pada tahun 2024, jumlah sampah sekitar 3,17 juta ton per tahun atau sekitar 8.685 ton per hari. Sampah organik, termasuk sampah makanan, sekitar 40% atau 3.474 ton per hari.

Merawat maggot BSF merupakan salah satu cara mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pada tahun 2018, Pemda Jakarta mengajak warganya membudidayakan maggot. Banyak yang melakukannya, termasuk Akbarreza, untuk mengukir kebersihan Kota Jakarta.

Untuk menciptakan pasar maggot yang berkelanjutan, Agustus 2025, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta bersama Koperasi Suka Resik (KSR) meluncurkan eMaggot, platform digital terpusat yang memfasilitasi transaksi jual beli maggot BSF. Hal ini bisa mendorong perkembangan bisnis maggot.

KSR, yang beranggotakan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) DLH adalah koperasi konsumen yang dibentuk 1979. eMaggot menjadi salah satu unit usaha KSR, selain pinjaman uang, pembiayaan sepeda motor, barang elektronik, dan pasar kebutuhan harian.

Yang dijual melalui eMaggot adalah maggot segar, kering, dan tepung. Produsen dan pembeli siaga maggot harus memiliki akun eMaggot. Dengan eMaggot ini, menurut Asep Kuswanto, Kepala DLH Jakarta, distribusi maggot lebih efisien, terpusat, serta terdokumentasi secara digital dan nontunai.

Jika masyarakat ingin tahu tentang eMaggot ini bisa dilihat melalui website koperasisukaresik.com.

Dengan kehadiran eMaggot, diharapkan dapat meningkatkan jumlah warga yang membudidayakan maggot. Dengan berkembangnya bisnis maggot, bisa mengurangi jumlah sampah organik, terutama sampah makanan. Warga bisa menikmati keberlanjutan kebersihan Kota Jakarta sepanjang masa.

Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah makanan terutama limbah sayuran dan buah-buahan tidak dibuang ke TPA, tetapi menjadi pakan maggot BSF. Sebagai penggerak ekonomi sirkular, KSR tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga mengukir kebersihan lingkungan Kota Jakarta.

Visi besar mengembangkan bisnis maggot BSF

Sebagai orang yang sudah mendalami praktik budidaya dan bisnis maggot BSF, Akbarezza terus bersemangat untuk mengembangkan usaha maggot. Apalagi ia pernah dikunjungi Prof. Abdul Aziz dari Universitas Alexandria, Mesir. Abdul Aziz ingin membantu memasarkan maggot BSF ke Mesir.

Abdul Aziz, menurut Akbarreza, menilai maggot yang dikembangkannya berkualitas baik. Sebab, ia memberikan pakan maggot dengan sampah makanan, terutama limbah sayuran dan buah-buahan. Apalagi limbah tersebut dicacah dengan mesin pencacah, baru kemudian menjadi asupan maggot.

Secara umum, kandungan protein maggot kering tinggi sekitar 50-60%. Maggot juga mengandung lemak sekitar 30%, asam amino esensial (seperti metionin dan sistin), dan mineral (kalsium, fosfor, kalium, mangan, seng, dan tembaga). Kandungan gizinya sangat baik untuk pakan unggas dan ikan.

Tetapi, sayang, Akbarreza belum bisa bekerja sama dengan Abdul Aziz karena status usahanya Penanaman Modal Asing. Aturannya lebih ketat. “Sabar ya,” kata Abdul Aziz kepada Akbarreza.

Dari perjumpaannya dengan Abdul Aziz, membuat visi Akbarezza untuk mengembangkan bisnis maggot kian besar. Bukan sekadar untuk memetik manfaat finansial, tetapi juga sebagai ladang ekonomi sirkular untuk mengukir kebersihan kota-kota di Indonesia dengan merawat maggot BSF.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com