Masa produktif tanaman kelapa sawit sekitar 25 – 30 tahun.
Ilustrasi. Perkebunan kelapa sawit. Sumber: dokumen agrikan.id.

Berkat kerja keras tiada henti di masa pandemi Covid-19 ini, pertumbuhan Sektor Pertanian dalam arti luas (Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan) secara quarter to quarter (q-to-q) pada Triwulan II (Q2) tahun 2020 ini sekitar 16,24% dibanding Triwulan I (Q1) tahun yang sama.

Itulah data publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), 5 Agustus 2020. “Puji syukur alhamdulillah, PDB (Produk Domestik Bruto) Pertanian tumbuh 16,24% pada Triwulan II 2020 (q-to-q) di saat sektor lain negatif,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang akrab dipanggil SYL, Rabu, 5 Agustus 2020.

Selain Pertanian, yang pertumbuhannya positif adalah Informasi dan Komunikasi 3,44% dan Pengadaan Air 1,28%. Tapi Pertanian tetap rekor, yaitu 16,24%. Namun karena banyak sektor lainnya yang pertumbuhannya negatif, maka secara nasional pertumbuhan ekonomi (q-to-q) Q2 2020 minus 4,19%.

Secara teknis Indonesia sudah memasuki resesi karena dua triwulan berturut-turut q-to-q, pertumbuhan ekonominya negatif. Pertumbuhan ekonomi Q1 2020 minus 2,41% dan Q2 2020 minus 4,19%.

Meski pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2020 minus, kita harus tetap optimistis. Sebab masih ada sektor yang pertumbuhannya positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. Sumber: BPS, 5 Agustus 2020.

Ditinjau year on year (y-o-y), pertumbuhan ekonomi Indonesia Q2 2020 dibanding Q2 2019 minus 5,32%. Sementara itu pertumbuhan Sektor Pertanian tetap positif 2,19%.

Jika ditinjau kumulatif (c-to-c), pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I tahun 2020 dibanding semester I tahun 2019 minus 1,26%.

Meski pertumbuhan ekonomi nasional minus, kita harus tetap optimistis. Sebab masih ada sektor yang pertumbuhannya positif. “Struktur dan pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha (y-o-y) pada Triwulan II (Q2) 2020 nasional tumbuh minus 5,32% dan Sektor Pertanian mencatat positif 2,19%,” kata SYL.

“Ini semua berkat kerja keras tanpa henti di tengah pandemi. Bekerja tulus untuk memenuhi makan 267 juta rakyat Indonesia. Terima kasih semua, dan tetaplah bekerja ikhlas. Kita pastikan negeri ini merdeka pangan. Ridho Allah bersama kita,” kata SYL.

Fenomena Sektor Pertanian

Ditinjau y-o-y, pertumbuhan Sektor Pertanian Q2 2020 positif 2,19%. Pertumbuhan positif terjadi pada Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura, Tanaman Perkebunan, Jasa Pertanian dan Perburuan, serta Kehutanan dan Penebangan Kayu.

Sementara itu, yang pertumbuhannya negatif adalah Peternakan dan Perikanan, masing-masing minus 1,83% dan minus 0,63%. Peternakan terkontraksi karena penurunan permintaan unggas.

Pertumbuhan Kehutanan dan Penebangan Kayu didorong oleh peningkatan kinerja sektor hulu Kehutanan untuk produksi kayu bulat hutan tanaman industri.

Ditinjau y-o-y, pertumbuhan Sektor Pertanian Q2 2020 adalah positif 2,19%.
Pertumbuhan Sektor Pertanian tahun 2020. Sumber: BPS, 5 Agustus 2020.

Pertumbuhan Tanaman Perkebunan didorong oleh peningkatan produksi kelapa sawit, kopi, dan tebu di beberapa sentra produksi. Selain itu adanya peningkatan permintaan luar negeri terhadap crude palm oil (CPO) karena terganggunya produksi minyak nabati lainnya di dunia.

Sementara itu pertumbuhan Tanaman Pangan didorong oleh pergeseran musim tanam, sehingga puncak panen padi bergeser ke Triwulan II 2020, yang biasanya terjadi pada Triwulan I 2020.

Lokomotif Ekonomicovid

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) mempopulerkan istilah ekonomicovid, yaitu ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Perkebunan kelapa sawit, menurut Tungkot Sipayung, dapat menjadi lokomotif ekonomicovid.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif PASPI itu pada webinar yang dilaksanakan Majalah AGRINA dengan tema Tantangan dan Peluang Agribisnis Sawit di Era New Normal, Rabu, 10 Juni 2020. Sebagai lokomotif, diharapkan kelapa sawit dapat menggerakkan sektor-sektor lainnya.

Pada pandemi Covid-19, menurut Bungaran Saragih, pangan dan agribisnis hanya tergores. Pada agribisnis sawit, menurut Ketua Dewan Pembina PASPI itu, yang terpukul hanya nyali sehingga lebih mudah diobati. Sektor lain boleh pesimistis, tapi pangan dan sawit tetap berjalan dengan normal.

Menurut Sipayung, ada beberapa imunitas industri sawit pada pandemi Covid-19 ini. Pertama, lokasi di pelosok sehingga tidak banyak orang. Kedua, sepanjang matahari bersinar, produksi sawit tetap berlangsung. Ketiga, secara alami di perkebunan sawit sudah melakukan jaga jarak.

Keempat, mempunyai basis yang kuat di pasar domestik. Kelima, tidak terpengaruh dengan PSBB (pembatasan sosial beskala besar). Keenam, produk sawit dapat digunakan untuk pangan (oleopangan), biodiesel, dan oleokimia. Ketujuh, pasar industri sawit di dalam negeri dan luar negeri.

Dengan imunitas tersebut tidak ada kegiatan industri sawit yang terhenti. Produksi sawit tetap stabil, yang tahun selalu sekitar 51,8 juta ton. Ekspor sawit berjalan dengan baik. Karena itulah, sawit dapat diandalkan sebagai lokomotif ekonomi pada masa pandemi Covid-19 ini.

Pasar Produk Sawit

Pasar domestik sawit sekitar 16,67 juta ton yang terdiri atas produk oleopangan, biodiesel, dan oleokimia. Program B30 (biodiesel) di dalam negeri yang diluncurkan Presiden Jokowi tahun lalu dapat menyedot produk sawit sekitar 8,3 juta ton sehingga menjadi jangkar pasar domestik.

Permintaan CPO di luar negeri tetap tinggi, meski rantai pasok global terganggu. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, akumulasi volume ekspor Januari – April 2020 sekitar 8,3 juta ton dengan nilai (menurut BPS) sekitar US$ 6,9 miliar. Dalam periode yang sama, ekspor sawit tahun ini lebih tinggi US$ 0,6 miliar dibanding tahun lalu.

Dengan adanya protokol kesehatan pada era tatanan baru, mendorong permintaan pasar biosurfaktan (dari minyak nabati, termasuk sawit) dan biodisinfektan. Kebiasaan sehari-hari untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan meningkatkan permintaan kedua jenis produk tersebut.

Menurut Sipayung, mengutip sejumlah lembaga riset, pada 2018 pasar surfaktan (berbasis minyak bumi) sekitar US$ 27,75 miliar meningkat menjadi US$ 46,84 miliar pada 2028. Pasar biosurfaktan pada 2018 sekitar US$ 16,7 miliar menjadi US$ 28,15 miliar pada 2026. Pasar antiseptik dan disinfektan dari US$ 3,99 miliar pada 2018 menjadi US$ 5,52 miliar pada 2022.

Industri sawit juga merupakan sumber vitamin A dan vitamin E, yang bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia. Pasar virgin red palm oil (VRPO) yang dapat menyehatkan organ paru-baru juga bakal berkembang.

Menggerakkan Industri Lainnya

Produk sawit, yaitu oleopangan, biodiesel, dan oleokimia merupakan motor penggerak industri sawit. Menurut PASPI, multiplier output (penggandaan hasil) produk sawit ini sekitar 5,9 – 7 kali lipat. Maksudnya, jika pemerintah berhasil menambah pasar biodiesel Rp 1 triliun, dampak ekonominya Rp5,9 – 7 triliun.

Berkat kandungan lokal yang tinggi, menyebabkan industri sawit mempunyai dampak yang luas bagi perekonomian nasional.
Perkebunan kelapa sawit lokomotif ekonomicovid. Sumber: PASPI, 10 Juni 2020.

Berkat kandungan lokal yang tinggi, menyebabkan industri sawit mempunyai dampak yang luas bagi perekonomian nasional. Daya penyebaran ke belakang sekitar 1,1 – 2,0 kali, daya penyebaran ke depan 1,5 – 2,7 kali, multiplier nilai tambah 3,8 – 4,9 kali, dan multiplier tenaga kerja 4,8 – 7,1 kali.

Dengan bertumbuh dan berkembangnya industri sawit, diharapkan dapat menarik industri pupuk, kimia, pestisida, transportasi, infrastruktur, alat dan mesin, keuangan, makanan, perdagangan, dan lainnya. Jadi, kelapa sawit dapat diandalkan sebagai lokomotif ekonomi pada masa pandemi Covid-19 ini.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here