AGRIKAN.ID – Kita perlu meraih peluang pasar ikan nila (tilapia). Pada tahun 2025, menurut Future Market Insights (FMI), nilai pasar tilapia global sekitar USD15,14 miliar. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata gabungan (CAGR) 4,8%, maka nilai pasar tilapia dunia pada tahun 2035 sekitar USD24,22 miliar.
Kandungan nutrisi ikan nila menjadi magnet bagi konsumen yang peduli kesehatan. Setiap 100 gram daging nila menyumbang 95 kalori serta mengandung protein 20 g, lemak 2 g, magnesium 25 mg, kalium 300 mg, fosfor 170 mg, selenium 40 µg, dan folat 25 µg. Ada juga omega 3, omega 6, zat besi, seng, kolin, mangan, serta vitamin B12, D, dan K. Inilah salah satu faktor pengungkit pasar ikan nila.
Rasa yang gurih, ringan, dan cenderung manis dengan tekstur yang lembut dan kenyal sehingga mudah dimasak menjadi berbagai hidangan tanpa mudah hancur, membuat konsumen mencintai daging ikan nila. Daging ikan ini bisa dinikmati dengan digoreng, dipanggang, dibakar, atau direbus.
Selain itu, masyarakat internasional juga menyukai tilapia karena harganya relatif terjangkau.
Konsumen global juga peduli dengan akuakultur berkelanjutan dan bertanggung jawab untuk masa depan. Yaitu praktik budidaya yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen global dengan senang hati menikmati tilapia.
Kepercayaan konsumen terhadap produk tilapia makin meningkat berkat kerangka regulasi yang mendukung persyaratan ketertelusuran dan transparansi keamanan pangan. Jadi, dalam meraih peluang pasar tilapia global, pemerintah perlu memperhatikan berbagai preferensi konsumen.
“Kita ingin tilapia Indonesia hadir di pasar global, bukan hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. Oleh karena itu aspek keberlanjutan, keamanan pangan, hingga branding akan terus kita dorong bersama,” kata Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sabtu, 30 Agustus 2025, pada acara Outlook Tilapia Indonesia 2025 di Jakarta.
Proyek percontohan budidaya ikan nila salin
Sakti Wahyu Trenggono, Menteri KKP Kabinet Indonesia Maju pada era Presiden Jokowi dan Kabinet Merah Putih pada era Presiden Prabowo Subianto sigap menangkap peluang pasar ikan nila di dunia. Terobosannya adalah program revitalisasi tambak mangkrak (idle) di Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Trenggono mengawali dengan proyek percontohan seluas 80 hektare di Karawang, Jawa Barat, yang dibangun 2023. Lahan tersebut awalnya tambak udang yang dibangun Presiden Soeharto sejak 1984 sebagai Proyek Pandu Tambak Inti Rakyat (PP-TIR). Sejak Reformasi 1998, PP-TIR itu terbengkalai.
Kemudian setelah diperbarui, lahan tersebut digunakan sebagai tambak budidaya ikan nila salin. Tambak berbasis kawasan tersebut lebih dikenal dengan modeling Budidaya Ikan Nila Salin (BINS).
Lihat juga: BINS Karawang lokomotif industrialisasi ikan nila salin
Ikan nila salin bisa dibudidayakan di air payau dengan toleransi salinitas (kadar garam terlarut) sampai dengan 20 ppt (parts per thousand), pertumbuhannya cepat, dan tahan terhadap penyakit.
Selain kolam, di proyek tersebut antara lain terdapat instalasi pengolahan air limbah (IPAL), saluran air keluar dan masuk tambak yang terpisah, tandon, hingga laboratorium. Proses budidaya ikan juga menggunakan teknologi modern, antara lain penggunaan mesin pakan otomatis (autofeeder).
Proyek percontohan akuakultur berkelanjutan yang menelan biaya sekitar Rp76 miliar tersebut diresmikan Presiden Jokowi, Rabu, 8 Mei 2024. Produktivitas nilanya sekitar 80 ton/hektare/tahun. Bandingkan dengan produktivitas nila di tambak tradisional yang sekitar 0,6 ton/hektare/tahun.
Pada Senin, 2 Desember 2024, Trenggono bersama Presiden Prabowo Subianto blusukan mengecek kawasan BINS di Karawang. Prabowo antara lain menebar benih dan meninjau area pendederan.
Kunjungan ini bagian dari upaya pemerintah mewujudkan Asta Cita terkait swasembada pangan, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan melalui pengoptimalan sektor perikanan.
Model percontohan yang dikelola Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) itu bisa diduplikasi untuk merevitalisasi tambak mangkrak di Pantura Jawa sekitar 78,55 ribu hektare.
Revitalisasi akuakultur berkelanjutan di Pantura Jawa Barat
Revitalisasi akuakultur berkelanjutan di Pantura Jawa Barat termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025-2029. Jadi, revitalisasi tambak mangkrak di Pantura Jawa dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama revitalisasi tambak akuakultur berkelanjutan seluas sekitar 20,41 ribu hektare untuk empat kabupaten, yaitu Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu di Jawa Barat. Nilai investasinya sekitar Rp26 triliun. Proyek revitalisasi tambak tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2027.
Program revitalisasi tersebut akan fokus pada budidaya tilapia terintegasi dari hulu sampai ke hilir. Diperkirakan proyek revitalisasi tambak tilapia ini bisa menyerap tenaga kerja sekitar 132 ribu orang.
Industri yang akan tumbuh dari revitalisasi ini adalah penyediaan induk ikan nila; penyediaan benih unggul; sarana budidaya seperti plastik HDPE (High-Density Polyethylene) untuk alas dan dinding kolam, kincir, pompa, pakan, obat-obatan, dan mesin pakan otomatis; serta fasilitas rantai dingin.
Lihat juga: Daur hidup ikan nila
Selain itu industri hilir untuk memperluas pasar ekspor sesuai standar global. “Kami mendorong hasil panen diarahkan ke industri pengolahan sehingga menghasilkan fillet (daging tilapia tanpa tulang dan duri) berdaya saing global,” kata Alwi Tunggul Prianggolo, Ketua Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI).
Tetapi, kita juga tetap perlu memperkuat pasar domestik ikan nila. “Pada tahun 2024, rata-rata pengeluaran untuk konsumsi ikan nila secara nasional sekitar Rp1.106/kapita/minggu,” kata Suhana, ahli sosial ekonomi perikanan Universitas Teknologi Muhammdiyah Jakarta, Senin, 13 Oktober 2025.
Coba bayangkan. Jika revitalisasi akuakultur berkelanjutan di Jawa Barat ini berhasil dengan baik, menurut Tb Haeru Rahayu, bisa menghasilkan tilapia sekitar 1,56 juta ton/tahun. Dengan asumsi harga tilapia sekitar Rp25 ribu/kg, maka akan terjadi peputaran uang sekitar Rp39 triliun/tahun.
Dengan keberhasilan revitalisasi tambak ini bisa mendukung swasembada pangan nasional berbasis pangan biru, yang bersumber dari ekosistem perairan, dalam hal ini akuakultur berkelanjutan. Tilapia merupakan salah satu pangan biru unggulan dalam memperkuat perekonomian nasional.
Meningkatkan daya saing tilapia di pasar global
Perpres No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2025-2029 menetapkan ikan nila (tilapia) sebagai salah satu komoditas unggulan perikanan.
Pada tahun 2023, menurut Suhana, produksi tilapia nasional sekitar 1,37 juta ton dengan ekspor 12,77 ribu ton senilai USD93,51 juta. Pangsa pasar utama ekspor nila Indonesia, menurut Achmad Poernomo (Infofish International 2/2025), adalah Amerika Serikat 60%, Kanada 21%, dan Eropa 8%.
Secara global, pada saat ini Indonesia baru menguasai pangsa pasar ikan nila sekitar 9,8%, berada di peringkat keempat setelah Tiongkok 33%, Kolumbia 11%, dan Honduras 10%. Dengan peningkatan produksi menjadi dua juta ton pada 2029, Indonesia bisa menguasai pangsa pasar tilapia global 15%.
Menurut FMI, CAGR pasar tilapia 2025-2035 di Jerman tertinggi sekitar 4,5%, diikuti Amerika Serikat 3,5% dan India 2,8%. Dari data ini, kita juga perlu menangkap sinyal pasar tilapia di Jerman dan India.
Tapi perlu diingat. Persaingan pasar nila global penuh tantangan. Negara-negara seperti Tiongkok, Vietnam, dan Mesir, dengan skala ekonomi dan metode produksi yang lebih canggih, menciptakan persaingan yang ketat. Negara-negara ini dapat memproduksi tilapia dengan biaya lebih rendah.
Revitalisasi akuakultur berkelanjutan di Pantura Jawa Barat merupakan salah satu upaya pemerintah menghasilkan tilapia dengan skala ekonomi dan teknologi canggih sehingga biaya produksinya lebih rendah. Dengan revitalisasi tersebut dapat memperkuat daya saing tilapia Indonesia di pasar global.
Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com
Catatan:
Artikel ini juga dimuat di ceknricek.com, Sabtu, 1 Nopember 2025.














