kemasan aseptik tawarkan solusi distribusi susu
Ilustrasi. Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis di sebuah sekolah di Jakarta.

AGRIKAN.ID – Bagi petani, peternak, petambak, nelayan, dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi ladang andalan pasar mereka.

Betapa tidak. Program yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) dan diluncurkan 6 Januari 2025 itu bakal menyasar sekitar 82,9 juta penerima manfaat, yaitu peserta didik (dari jenjang pendidikan anak usia dini atau PAUD sampai dengan jenjang SMA atau sederajat), balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Program tersebut bukan sekadar untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan dan daya saing tinggi pada tahun 2045, bertepatan dengan usia 100 tahun kemedekaan.

Program Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu akan dilayani sekitar 35 ribu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Jika setiap SPPG bisa menyerap sekitar 50 tenaga kerja, maka secara total program MBG bisa menyedot sekitar 1,75 juta tenaga kerja baru.

Baca juga: Program MBG ciptakan pasar baru

Menurut Soni Sonjaya, Wakil Kepala BGN, jumlah SPPG yang sudah terealisasi 23.678 dan menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja sampai Februari 2026. Hal itu disampaikan Soni dalam rapat konsolidasi program MBG bersama kasatpel, mitra, dan yayasan di Pekanbaru, Riau, Sabtu, 21 Februari 2026.

Setiap SPPG akan menyediakan menu sebanyak 3.000 penerima manfaat per hari. Setiap hari, satu SPPG membutuhkan bahan pangan beras sekitar 200 kg; daging ayam atau sapi atau ikan 350 kg atau telur ayam 200 kg; sayur-sayuran 300 kg; buah-buahan 300 kg; dan susu cair sekitar 300-500 liter.

Bayangkan, jika SPPG bisa membeli bahan-bahan pangan tersebut dari petani, peternak, petambak, nelayan, dan UMKM, betapa besar manfaat ekonomi yang bisa dinikmati para pemasok dari daerah.

Jadi, program MBG tidak boleh berdiri sendiri, tetapi menjadi penguat perekonomian di daerah. Dengan menggairahkan MBG, bisa mencerahkan perekonomian lokal berkat efek penggandaannya.

Program susu gratis dalam Makan Bergizi Gratis

“Kami mendukung program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda,” kata Hongbiao Li, Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), produsen kemasan aseptik, dalam jumpa pers di Cikande, Serang, Banten, Selasa, 20 Januari 2026.

Baca juga: Teratur minum susu, penuhi nutrisi esensial

Kemasan aseptik, dalam hal ini untuk susu, merupakan teknologi pengemasan canggih yang mensterilkan produk, dalam hal ini susu UHT (Ultra High Temperature), secara terpisah dengan kemasannya. Kemudian produk steril dikemas dalam kondisi steril dan disegel kedap udara. Produk menjadi awet pada suhu ruang tanpa pendingin dan pengawet. Rasa, gizi, dan mutu susu terjaga.

Susu kotak cair dengan kemasan aseptik bisa sampai ke pelosok untuk mendukung program MBG.

“Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke pelosok tanpa rantai dingin. Kami ingin memastikan ‘Satu Kotak Susu’ yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” kata Ahmad Rizalmi, Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia.

Penyerapan susu segar dalam negeri

Meski diakui, secara nasional terjadi kesenjangan antara produksi dan permintaan susu. Sekarang ini, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) hanya mampu memasok kebutuhan industri pengolahan nasional sekitar 20%. Selebihnya, 80% bersumber dari impor. Ketergantungan impor masih tinggi.

Tetapi, untuk menggerakkan perekonomian pedesaan dan peternak sapi perah lokal, pemerintah mengarahkan agar bahan baku susu untuk program MBG bersumber dari produksi dalam negeri.

Baca juga: Memahami istilah susu mentah dan segar

Penyerapan SSDN dilakukan industri pengolahan susu melalui Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) dan koperasi lokal. Setelah diolah menjadi susu UHT dan dikemas dalam kemasan aseptik, industri pengolahan susu nasional bisa mendistribusikannya ke semua SPPG di seluruh Indonesia.

Dengan demikian, diharapkan program Makan Bergizi Gratis dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah. Menggairahkan program Makan Bergizi Gratis, berarti mencerahkan perekonomian daerah.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com