AGRIKAN.ID – Menyisipkan program susu gratis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN), merupakan salah satu cara memacu konsumsi susu di Indonesia.
Menurut Badan Pusat Statistik, konsumsi susu di Indonesia baru sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Bandingkan dengan Vietnam sekitar 37,2 liter, Malaysia 42,7 liter, dan Singapura 46,1 liter. Konsumsi susu di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara tetangga.
Padahal susu merupakan sumber nutrisi esensial, yaitu senyawa yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar dan tumbuh. Nutrisi utama dalam susu sapi segar antara lain protein, kalsium, fosfor, vitamin D, vitamin B2, vitamin B12, dan yodium, yang bermanfat bagi kesehatan.
Baca juga: Teratur minum susu, penuhi nutrisi esensial
“Kami mendukung program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Hongbiao Li, Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), produsen kemasan aseptik, dalam jumpa pers di Cikande, Serang, Banten, Selasa, 20 Januari 2026.
“Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda,” tambah Hongbiao Li. Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak karena kekurangan gizi kronis dan infeksi yang berulang.
Tantangan terbesar dalam memasukkan susu dalam program MBG adalah distribusi dan keamanan pangan, terutama di wilayah geografis Indonesia yang luas dan kepulauan. Tanpa teknologi pengemasan yang canggih, risiko kerusakan nutrisi susu dan kontaminasi bakteri sangat tinggi.
PT Lami Packaging Indonesia memahami bahwa teknologi kemasan aseptik adalah kunci. Sebagai produk bernutrisi yang mudah rusak, susu memerlukan sistem yang mampu menjaga kualitas dan keamanannya dari proses produksi hingga konsumsi. Di sinilah perlunya pasokan kemasan aseptik.
Kemasan aseptik merupakan teknologi pengemasan canggih yang mensterilkan produk, dalam hal ini susu UHT (Ultra High Temperature), dan kemasan secara terpisah. Kemudian susu UHT dikemas di dalam kemasan steril dan disegel kedap udara. Susunya tahan simpan 9-12 bulan pada suhu kamar.
Penyisipan susu UHT dalam program MBG
Dalam program MBG, yang disisipkan adalah susu UHT, yaitu susu yang diproses dengan pemanasan yang tinggi (135 sampai 150 derajat C) selama 2-5 detik untuk membunuh patogen dan jasad renik. Kemudian susu tersebut dikemas dalam kemasan aseptik sehingga bisa lebih tahan lama disimpan.
Bandingkan dengan susu pasteurisasi yang dipanaskan pada suhu 72 derajat C selama 15 detik atau suhu 63 derajat C selama 30 menit. Umur simpannya sekitar 7-14 hari. Penyimpannya di lemari es.
Baca juga: Jenis dan nama susu di label pangan
Meskipun dari segi nutrisi susu pasteurisasi lebih baik dari susu UHT karena suhu pemanasannya lebih rendah, tetapi jika disisipkan untuk program MBG, umur simpannya relatif singkat. Karena itulah, penyisipan susu UHT, apalagi yang nutrisinya diperkaya, lebih cocok dalam program MBG.
Distribusi susu UHT aman sampai di pelosok
Dengan kemasan aseptik, distribusi susu UHT aman, higienis, dan efisien sampai di pelosok di seluruh Indonesia. Anak-anak yang bermukim di daerah terpencil atau daerah tertinggal bisa menikmati satu kotak susu yang memiliki kualitas yang sama baiknya dengan yang dinikmati anak-anak di kota besar.
“Kami ingin memastikan ‘Satu Kotak Susu’ yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” kata Ahmad Rizalmi, Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia di Cikande, Serang, Banten, Selasa, 20 Januari 2026.
“Logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin,” tambah Ahmad.
Baca juga: Program MBG cerahkan ekonomi daerah
Perlu diketahui, Indonesia terkendala rantai dingin. “Di banyak wilayah, keterbatasan infrastruktur rantai dingin menjadi kendala utama, yang meningkatkan risiko penurunan mutu serta membatasi akses masyarakat terhadap produk susu yang aman. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal sering kali menghadapi ketimpangan akses terhadap pangan bergizi,” kata Ahmad.
Kemasan aseptik menawarkan solusi praktis yang memungkinkan distribusi susu tanpa memerlukan pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi produk. Teknologi ini memungkinkan susu menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga mendukung pemerataan akses gizi di seluruh Indonesia. Pemerataan akses gizi tersebut antara lain melalui program MBG.
Kemasan aseptik produksi dalam negeri
Selama ini, sebagian besar kebutuhan kemasan aseptik di Indonesia dari impor. Dimulainya produksi kemasan aseptik dalam negeri pada 2024 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, dan mendukung ketahanan pangan jangka panjang.
Produksi kemasan aseptik tersebut dilakukan PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia) dengan mengoperasikan pabrik berteknologi canggih di Cikande, Serang, Banten. “Kehadiran manufaktur lokal juga berkontribusi terhadap keberlanjutan industri nasional,” kata Ahmad.
Investasi tersebut membuktikan komitmen LamiPak dalam memindahkan basis produksi ke dalam negeri, menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja ahli lokal, dan mengurangi ketergantungan pada kemasan aseptik impor. Pasokan kemasan susu untuk program MBG juga tersedia tepat waktu.
Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com














