Tanaman jagung
Tanaman jagung di lahan rawa

Siklus pertumbuhan jagung sampai panen dapat dikelompokan ke dalam tiga fase:

  1. Fase perkecambahan (VE)
  2. Fase vegetatif (V1-Vn)
  3. Fase reproduktif (R1-R6)

Fase perkecambahan

Pada umumnya benih jagung ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Biasanya, dengan lingkungan yang lembap, kecambah muncul seragam pada hari ke-4 sampai ke-5 setelah tanam.

Tapi pada kondisi dingin atau kering, kecambah baru muncul pada hari ke- 6 sampai 14 setelah tanam.

Fase vegetatif

Fase vegetatif dimulai pada saat munculnya daun pertama yang terbuka sempurna. Fase ini berakhir sampai fase tasseling (keluarnya bunga jantan) dan sebelum keluarnya bunga betina (silk atau rambut tongkol).

Fase vegetatif dapat diidentifikasi dari jumlah daun yang terbentuk. Biasanya diberi kode Vn yang berarti fase vegetatif dengan jumlah daun n. Biasanya jumlah daun pada fase vegetatif ini bisa 15-18.

Fase V3-V5 (jumlah daun terbuka sempurna 3-5)

Fase ini terjadi pada saat tanaman jagung berumur 10-18 hari setelah berkecambah. Pada kondisi ini, akar seminal mulai berhenti tumbuh, akar modul mulai aktif, dan titik tumbuh masih di bawah permukaan tanah.

Fase V6-V10 (jumlah daun terbuka sempurna 6-10)

Fase ini terjadi pada saat tanaman jagung berumur 18-35 hari setelah berkecambah. Titik tumbuh sudah di atas permukaan tanah, perkembangan dan penyebaran akar di tanah sangat cepat, dan pemanjangan batang meningkat dengan cepat.

Pada fase ini bakal bunga jantan (tassel) dan perkembangan tongkol dimulai (Lee, 2007). Tanaman mulai menyerap hara dalam jumlah relatif banyak. Pemupukan pada fase ini diperlukan untuk mencukupi kebutuhan tanaman (McWilliams et al., 1999).

Fase V11-Vn (jumlah daun terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir 15-18)

Fase ini terjadi pada saat tanaman jagung berumur 33-50 hari setelah berkecambah. Tanaman tumbuh dengan cepat dan akumulasi bahan kering meningkat pesat. Diperlukan hara dan air dalam jumlah banyak untuk mendukung laju pertumbuhan tanaman.

Pada fase ini, tanaman sangat sensitif terhadap cekaman kekeringan dan kekurangan hara.

Kekeringan dan kekurangan hara sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tongkol. Bahkan akan menurunkan jumlah biji dalam satu tongkol karena mengecilnya tongkol. Akibatnya hasil menurun (McWilliams et al., 1999 dan Lee, 2007).

Kekeringan pada fase ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina (silking).

Fase pertumbuhan tanaman jagung.
Fase pertumbuhan tanaman jagung. Dari penanaman sampai panen diperlukan waktu 106-125 hari. (Sumber: https://jagungbisi.com).

Fase VT (tasseling atau berbunga jantan)

Fase berbunga jantan ini terjadi pada umur 45-52 hari setelah berkecambah. Pada fase ini ditandai dengan adanya cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina (silk atau rambut tongkol).

Tahap VT ini dimulai 2-3 hari sebelum rambut tongkol muncul. Pada periode ini, tinggi tanaman hampir mencapai maksimum. Bunga jantan mulai menyebarkan serbuk sari (pollen).

Pada fase ini, biomassa tanaman jagung mencapai sekitar 50% dari total bobot kering tanaman.

Fase reproduktif

Fase reproduktif dimulai pada saat munculnya bunga betina (R1) sampai dengan fase masak fisiologis (R6).

Fase R1 (silking)

Munculnya bunga betina (silking) ini ditandai dengan keluarnya rambut dari dalam tongkol yang terbungkus kelobot. Biasanya silking ini terjadi 2-3 hari setelah tasseling (terbentuknya bunga jantan). Selama rentang munculnya bunga betina inilah terjadi proses penyerbukan (polinasi).

Penyerbukan terjadi ketika serbuk sari (pollen) dilepas oleh bunga jantan dan jatuh menyentuh permukaan rambut tongkol yang masih segar. Serbuk sari memerlukan waktu 24 jam untuk mencapai sel telur (ovule). Pembuahan (fertilization) akan membentuk bakal biji.

Bakal biji akan tumbuh dalam suatu struktur tongkol. Bakal biji ini dilindungi oleh tiga bagian penting biji, yaitu glume, lemma, dan palea. Pada bagian luar bakal biji ini berwarna putih. Sedangkan pada bagian dalam biji berwarna bening dan mengandung sangat sedikit cairan.

Fase R2 (blister)

Fase ini terjadi pada 10-14 hari setelah silking (munculnya bunga betina). Pada kondisi ini rambut tongkol sudah kering dan berwarna gelap. Ukuran tongkol, kelobot, dan janggel hampir sempurna. Biji sudah mulai tampak dan berwarna putih melepuh.

Pati mulai diakumulasi di endosperm, kadar air  biji sekitar 85%, dan kadar air ini akan menurun terus sampai waktu panen.

Fase R3 (masak susu)

Faset R3 ini terjadi pada 18-22 hari setelah silking (munculnya bunga betina). Pengisian biji yang semula dalam bentuk cair bening berubah menjadi seperti susu.

Akumulasi pati pada setiap biji sangat cepat, warna biji sudah mulai terlihat (tergantung pada varietas), dan bagian sel pada endosperm sudah terbentuk lengkap. Kadar air biji dapat mencapai 80%.

Kekeringan pada fase R1-R3 dapat menurunkan ukuran dan jumlah biji yang terbentuk.

Fase R4 (dough)

Fase R4 ini terjadi pada 24-28 hari setelah silking (munculnya bunga betina). Bagian dalam biji berbentuk seperti pasta. Separuh dari akumulasi bahan kering biji sudah terbentuk. Kadar air biji menurun menjadi sekitar 70%.

Cekaman kekeringan pada fase ini sangat mempengaruhi bobot biji.

Fase R5 (pengerasan biji)

Faset R5 ini terjadi pada 35-42 hari setelah silking (munculnya bunga betina). Biji sudah terbentuk sempurna. Embrio sudah masak. Akumulasi bahan kering biji akan terhenti. Pada kondiri ini, kadar air biji sekitar 55%.

Fase R6 (masak fisiologis)

Fase masak fisiologis ini terjadi pada 55-65 hari setelah silking (munculnya bunga jantan). Pada kondisi ini, biji-biji pada tongkol jagung sudah mencapai bobot kering maksimum.

Daur pertumbuhan tanaman jagung.

Lapisan pati yang keras pada biji sudah berkembang dengan sempurna dan telah pula terbentuk lapisan absisi berwarna cokelat atau kehitaman. Pembentukan lapisan hitam (black layer) terjadi bertahap, mulai dari biji pada bagian pangkal tongkol menuju ke bagian ujung tongkol.

Pada varietas jagung hibrida, tanaman mempunyai sifat tetap hijau (stay-green) yang tinggi, kelobot dan daun bagian atas masih berwarna hijau meski telah memasuki tahap masak fisiologis.

Pada tahap masak fisiologis ini kadar air biji berkisar 30-35% dari total bobot kering.

Jadi, siklus hidup tanaman jagung dari fase perkecambahan, fase vegetatif, sampai fase reproduktif mencapai 106-125 hari.

Referensi:

  1. https://jagungbisi.com/fase-perkecambahan-dan-pertumbuhan-tanaman-jagung/
  2. Gusyana, D dan Rajagukguk, RP. 2016. Pedoman Budidaya Jagung di Indonesia. Media Perkebunan: Jakarta.