kopi arabika, robusta, liberika, dan ekselsa
Bentuk biji kopi arabika, robusta, liberika, dan ekselsa.

Spesies kopi di dunia ini lebih dari 100. Tetapi yang berkembang secara komersial untuk minuman ada 4 spesies, yaitu:

  1. Spesies kopi arabika (Coffea arabica)
  2. Spesies kopi robusta (Coffea canephora atau Coffea robusta)
  3. Spesies kopi liberika (Coffea liberica)
  4. Spesies kopi ekselsa (Coffea excelsa atau Coffea liberica var dewevrei)

Spesies kopi arabika

  • Tinggi tanaman kopi arabika sekitar 2,5-4,5 m.
  • Tanaman kopi arabika ini tumbuh baik di daerah dengan temperatur 15-24 derajat C, curah hujan 1.200-2.200 mm/tahun, dan ketinggian 600-2.200 meter di atas permukaan laut.
  • Bentuk biji kopi arabika besar dan oval (lonjong, bulat panjang, atau bulat telur).
  • Kandungan kafein kopi arabika 1,2% dan asam klorogenat (chlorogenic acid) 5,5-8,0%. Tapi ingat, asam klorogenat ini kurang baik terhadap lambung.
  • Kandungan gula (sukrosa) kopi arabika 6-9% dan lemak (lipid) 15-17%.
  • Kopi arabika memiliki rasa manis yang lembut sampai kuat dan tajam. Acidity (rasa asam yang enak) tinggi. Ketika kita mencicipi kopi arabika, akan terasa keasaman dalam kopi yang segar, menusuk, tajam, tapi pas sekali untuk dinikmati.
  • Sebelum disangrai (roasted), biasanya aroma kopi arabika seperti blueberry. Setelah disangrai, aromanya seperti buah-buahan dan manis.
  • Di dunia ini, produsen kopi arabika adalah Brazil (45%), Kolumbia (10%), Etiopia (7%), Peru (5%), Honduras (5%), Meksiko (5%), dan lainnya 23%.

Spesies kopi robusta

  • Tinggi tanaman kopi robusta sekitar 4,5-6,5 m.
  • Tanaman kopi robusta tumbuh baik di daerah dengan temperatur 18-36 derajat C, curah hujan 2200-3000 mm/tahun, dan ketinggian 0-800 meter di atas permukaan laut.
  • Buah kopi robusta dapat dipanen setelah tanaman berumur 3-4 tahun, tergantung varietasnya.
  • Dalam setahun, pemanenan dua kali, yaitu musim buah selang atau panen selang (Februari-Maret) dan musim buah besar atau panen raya (April-September). Siklus pemanenan 8-9 bulan setelah pembungaan.
  • Umur ekonomis tanaman kopi robusta biasanya 15-20 tahun. Setelah itu, sebaiknya dilakukan penanaman kembali.
  • Bentuk biji kopi robusta lebih kecil dan bundar (berbentuk lingkaran atau melengkung).
  • Kandungan kafein kopi robusta sekitar 2,2% dan asam klorogenat (chlorogenic acid) sekitar 7,0-10,0%. Tapi ingat, asam klorogenat ini biasanya kurang baik terhadap lambung.
  • Tingginya kandungan kafein, membuat tanaman kopi robusta tahan terhadap hama dan penyakit tanaman pada saat dibudidayakan.
  • Kandungan gula (sukrosa) kopi robusta 3-7% dan lemak (lipid) 10,0-11,5%.
  • Kopi robusta memiliki rasa yang bervariasi dan kuat. Seringkali dikatakan berasa seperti gandum. Ketika kita mencicipi kopi robusta akan terasa pahit, antara lain karena tingginya kafein.
  • Sebelum disangrai (roasted), biasanya aroma kopi robusta seperti kacang-kacangan. Hal ini yang menyebabkan kualitas kopi robusta dianggap lebih rendah dari kopi arabika.
  • Di dunia ini, produsen kopi robusta adalah Vietnam (39%), Brazil (28%), Indonesia (13%), India (7%), dan lainnya 13%.

Spesies kopi liberika

  • Tinggi tanaman kopi liberika sekitar 6-9 m.
  • Tanaman kopi liberika tumbuh dengan baik di dataran rendah.
  • Tanaman kopi liberika bisa beradaptasi dengan baik di lahan gambut, sementara tanaman kopi arabika dan robusta kurang bisa tumbuh di lahan tersebut.
  • Umur 2 tahun tanaman kopi liberika belajar berbuah (buah pasir). Buah pertama ini harus dibuang. Umur 2,5 tahun sudah mulai berbuah ceri. Kopi liberika siap dipanen pada umur 2,5-3 tahun.
  • Kopi liberika menghasilkan buah sepanjang tahun sehingga pemanenan bisa sepanjang tahun.
  • Ukuran biji kopi liberika lebih besar dari kopi arabika dan robusta.
  • Aroma kopi liberika seperti bunga dan buah. Ada aroma nangka asam mirip arabika dan cokelat.
  • Rasa kopi liberika ini tidak sepahit kopi arabika atau robusta. Beberapa orang mengatakan rasanya seperti kayu.
  • Biasanya, untuk menikmati kopi liberika ini dicampur dengan kopi arabika atau robusta.

Spesies kopi ekselsa

  • Jean Paul Antoine Lebrun, ahli botani Perancis, menggolongkan kopi ekselsa sebagai salah satu varietas kopi liberika dengan nama ilmiah Coffea liberica var dewevrei.
  • Sebelumnya, kopi ekselsa ini dianggap spesies tersendiri dengan nama Coffea excels, Coffea excelsa, atau Coffea dewevrei. Tetapi masih banyak yang menganggapnya spesies tersendiri.
  • Kopi ekselsa cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 0-750 m di atas permukaan laut, daerah tropis, dan curah hujan sedang.
  • Jika ditanam di daerah dengan tingkat curah hujan tinggi, yang lebih berkembang kayunya ketimbang buahnya.
  • Kopi ekselsa ini juga dapat ditanam di lahan gambut dengan tingkat kesuburan rendah, sementara kopi arabika dan robusta kurang bisa tumbuh di lahan tersebut.
  • Panjang buah segar (ceri atau matang) kopi ekselsa sekitar 2,9-3,5 cm dengan diameter 1,9-2,1 cm. Panjang bijinya 2,1-2,3 cm dan diameter 1,6-1,8 cm. Ukuran bijinya lebih besar dari kopi arabika dan robusta.
  • Kopi ekselsa ini mempunyai cita rasa dan aroma yang dikategorikan kuat dan dominan pahit.
  • Biasanya untuk menikmati kopi ekselsa ini dicampur dengan kopi arabika atau robusta.

Nah, di dunia ini diperkirakan pangsa pasar (market share) kopi arabika sekitar 60%, kopi robusta 28%, kopi ekselsa 7%, dan kopi liberika 5%.

Syatrya Utama

Email: syatrya_utama@yahoo.com | Email: konten.agrikan@gmail.com

Referensi:

  1. http://lenscoffee.com/coffee-species-beyond-arabica/.
  2. http://www.coffee4dummies.com/articles/coffee_species.
  3. https://www.coffeechemistry.com/general/agronomy/differences-arabica-and-robusta-coffee.
  4. https://diperpa.badungkab.go.id/artikel/18070-mengenal-tanaman-kopi-liberica.
  5. https://ditjenbun.pertanian.go.id/kopi-excelsa-potensi-kopi-specialty-baru/.
  6. https://diperpa.badungkab.go.id/artikel/18071-mengenal-tanaman-kopi-excelsa.
  7. http://www.kabarkopi.com/perbedaan-robusta-arabika/.
  8. Dewi Novalinda. 2014. Teknologi Pasca Panen Kopi Liberika Tungkal. Kotabaru: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi.
  9. Prasetyo dkk. 2019. Budidaya Kopi Liberika di Lahan Gambut. Bogor: Centre for International Forestry Research.