Lele salah satu ikan yang ekonomis.
Ikan lele di kolam. Sumber: Dokumentasi Agrikan.

Lele merupakan salah satu ikan yang ekonomis. Pertumbuhannya cepat dan dapat dipelihara dengan padat tebar tinggi.

Sejak larva sampai ukuran konsumsi, yaitu 8-10 ekor per kg atau 100–125 gram per ekor, hanya perlu waktu pemeliharaan 100–120 hari.

Dibanding ikan lain, efisiensi pakan lele tinggi. Untuk menghasilkan satu kilogram lele diperlukan sekitar satu kilogram pakan, sedangkan iklan lain lebih dari satu kilogram.

Dalam bahasa teknis sering disebut dengan feed conversion ratio (FCR). Kalau FCR = 1 berarti untuk menghasilkan satu kilogram lele diperlukan satu kilogram pakan.

Kalau FCR di atas 1 berarti untuk menghasilkan satu kilogram lele diperlukan lebih dari satu kilogram pakan.

Umur dan berat badan lele.

Dengan investasi yang tidak terlalu besar, hampir sebagian besar rakyat mampu beternak lele (segmen pembesaran).

Dengan jumlah benih tebar 5.000 ekor yang berukuran 7-8 cm per ekor, hanya memerlukan investasi dan modal kerja sekitar Rp 6-8 juta.

Dengan masa pembesaran satu siklus sekitar 60 hari, peternak lele sudah bisa mengantongi laba bersih sekitar 15-20% dari total investasi dan modal kerja.

Dalam setahun, pembesaran lele dapat dilakukan 5-6 siklus.

Enam segmen usaha

Pada agribisnis lele terdapat enam segmen usaha, yaitu:

  1. Pembenihan, dimulai dengan pemijahan induk (parent stock, PS) lele betina dan induk (parent stock, PS) lele jantan yang tidak sedarah (sehingga tidak terjadi inbreeding atau perkawinan sedarah), pengeluaran telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan, pembuahan telur (biasanya di kakaban di kolam pemijahan), penetasan telur di kolam penetasan, dan pemeliharaan larva sampai ukuran 0,5 – 0,7 cm selama 3 hari. Larva yang dihasilkan termasuk benih sebar (extension seed, ES).
  2. Pendederan (pendederan I sampai pendederan IV), dimulai dengan pemeliharaan larva ukuran 0,5 – 0,7 cm sampai menjadi bibit berukuran 7-9 cm selama 60-71 hari.
  3. Pembesaran, dengan penebaran bibit ukuran 7-9 cm memerlukan waktu pemeliharaan 50-60 hari sampai panen ukuran konsumsi, yaitu 8-10 ekor per kg atau 100–125 gr per ekor.
  4. Pengolahan terdiri atas olahan kuliner (dimasak pada saat dipesan oleh konsumen) dan olahan massal (diolah massal dulu baru kemudian dipasarkan kepada konsumen).
  5. Pemasaran terdiri atas pemasaran lele segar dan olahan lele (seperti filet lele dan produk turunannya).
  6. Sarana produksi seperti pakan, probiotik, obat-obatan, dan peralatan.

Pendederan

Pada pendederan, terbagi lagi atas empat subsegmen, yaitu:

  1. Pendederan I (PI). Di sini pemeliharaan dari larva (ukuran 0,5–0,7 cm) menjadi bibit berukuran 1-3 cm selama 15-20 hari. Pada saat panen ukuran 1-3 cm, umur bibit lele sekitar 18-23 hari (sejak penetasan).
  2. Pendederan II (PII). Di sini pemeliharaan bibit dari ukuran 1-3 cm menjadi berukuran 3-5 cm selama 15-17 hari. Pada saat panen ukuran 3-5 cm ini, umur bibit lele sekitar 33-40 hari (sejak penetasan).
  3. Pendederan III (PIII). Di sini pemeliharaan bibit dari ukuran 3-5 cm menjadi bibit berukuran 5-7 cm selama 15-17 hari. Pada saat panen ukuran 5-7 cm ini, umur bibit lele sekitar 48-57 hari (sejak penetasan).
  4. Pendederan IV (PIV). Di sini pemeliharaan bibit dari ukuran 5-7 cm menjadi bibit berukuran 7-9 cm selama 15-17 hari. Pada saat panen ukuran 7-9 cm ini, umur bibit lele sekitar 63-74 hari (sejak penetasan).

Pendederan bibit lele ini bisa dilakukan di kolam terpal atau kolam tanah.

Kadang-kadang pendederan hanya dilakukan sampai Pendederan III. Setelah itu bibit yang berukuran 5-7 cm langsung dijual ke peternak pembesaran lele (segmen pembesaran).

Pasar lele

Pasar lele meliputi pasar domestik dan pasar ekspor.

Pasar domestik lele meliputi warung pecel lele, warung tegal, rumah makan dan restoran, usaha makanan olahan berbasis lele, usaha pemancingan, rumah tangga, dan usaha pembenihan.

Jenis pasar domestik dan ukuran lele yang dibutuhkan.

Sementara pasar ekspor, antara lain ke China, Vietnam, Korea Selatan dan Uni Eropa.

Sejak 2009, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah merintis ekspor lele asap ke negara-negara Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja Indonesia di sana.

Sebelumnya, Indonesia juga sudah mengekspor lele asap ke Singapura dan Malaysia sekitar 1 ton per bulan.

Sumber lele asap tersebut dari Bogor (Ciseeng, Parung) dan Depok, Jawa Barat. Tapi bahan bakunya masih didatangkan dari Boyolali (Jawa Tengah) dan Yogyakarta.

Taiwan, Hong Kong, Jepang, Belanda, Italia, Spanyol dan Amerika Serikat merupakan negara-negara potensial untuk menjadi pasar ekspor lele.

Negara-negara tersebut di atas membutuhkan lele olahan berupa surimi dan filet lele ukuran 300–700 gr per ekor. Untuk memenuhi pasar ini, stok harus tersedia dan kualitas produknya terjamin.

Abon lele juga diminati Belanda. Sejak pertengahan 2009, produsen abon lele dari Cilacap, Jawa Tengah, sudah mengirim abon lele ke Belanda melalui distributor di Jakarta. Rata-rata abon lele yang diekspor ke Belanda sekitar 10 kg per bulan.

Referensi:

  1. Amri, Khairul dan Khairuman. 2014. Panen Rupiah dari Budidaya Lele: Teknik Bioflok. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  2. Basahudin, Moch. Syambas dan Arie, Usni. 2014. Pembesaran Lele Secara Cepat: Panen 50 Hari. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.
  3. Direktorat Usaha Budidaya, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2014. Lending Model Perikanan Budidaya. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.
  4. Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Bank Indonesia. 2010. Budidaya Pembesaran Ikan Lele. Jakarta: Bank Indonesia.
  5. Gunawan, Surya. 2014. Kupas Tuntas Budidaya Lele & Bisnis Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
  6. Murniyati; Suryaningrum, Dwi; dan Muljanah, Ijah. 2013. Membuat Filet Lele & Produk Olahannya. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.
  7. Nugrahajati, Paulus; Wargiyanto; dan Kristinawati, Meilina. 2013. Rahasia Sukses Bisnis dan Budidaya Lele Unggul. Yogyakarta: Penerbit Lily Publisher.
  8. Nurhayati. 2014. Sukses Budidaya Lele Tanpa Modal. Jakarta: Penerbit Padi.
  9. Rahayu, Sri, S.P dan Masirah, S.Pi. 2014. Jurus Sakti Pembesaran Lele Sangkuriang di Kolam Terpal. Jakarta Timur: Penerbit Padi.
  10. Suprapto, NS, Ir. dan Samtafsir, Legisan S., M.Ag. 2013. Biofloc-165: Rahasia Sukses Teknologi Budidaya Lele. Depok, Jawa Barat: Penerbit Agro 165.
  11. SNI 6484.4:2014. Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) Bagian 4: Produksi Benih. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.