Sistem dan usaha agribisnis terdiri atas subsistem agribisnis hulu, agribisnis usaha tani, agribisnis hulu, pemasaran agribisnis, usaha penunjang agribisnis, dan lingkungan pemberdaya agribisnis.
Sistem dan usaha agribisnis yang diterapkan Agrikan.id.

Agrikan.id merupakan media online (dalam jaringan atau daring) agribisnis secara umum, yang meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.

Pada 18 Juli 2021 ini berdasarkan registrasi domain, Agrikan.id berusia dua tahun. Registrasi domain dilakukan 18 Juli 2019.

Tetapi berdasarkan unggahan konten pertama, Agrikan.id berusia dua tahun pada 3 Agustus 2021. Unggahan konten pertama 3 Agustus 2019.

Agrikan.id menggunakan tanggal registrasi domain sebagai tanggal ulang tahun media online ini.

Berkaitan ulang tahun kedua, Agrikan.id mulai berbagi rahasia dapur konten media online ini.

Jargon (tagline) yang digunakan Agrikan.id adalah Cerita Pangan dan Agribisnis.

Jargon ini terinspirasi dengan sebuah konsultan yang didirikan murid-murid Prof. Bungaran Saragih, yaitu Food & Agribusiness Centre (FAC).

Sebenarnya, pangan sendiri termasuk agribisnis, yaitu agribisnis pangan. Tetapi karena pangan itu kebutuhan pokok, maka dibuatlah penekanan pangan dan agribisnis.

Pendekatan sistem dan usaha agribisnis

Dalam menyajikan konten, Agrikan.id berusaha menerapkan pendekatan sistem dan usaha agribisnis.

Konsep agribisnis (agriculture dan business) pertama kali diluncurkan John Davis dan Ray A. Goldberg di dalam bukunya A Concept of Agribusiness pada tahun 1957.

Kemudian definisinya berkembang sesuai dengan spesifik negara dan daerah.

Di Indonesia, pengembangan pemikiran agribisnis sebagai cara baru melihat pembangunan pertanian dilakukan secara konsisten oleh Prof. Bungaran Saragih.

Dalam menyajikan konten, Agrikan.id berusaha menerapkan pendekatan sistem dan usaha agribisnis.
Ilustrasi produk-produk agribisnis. Gambar oleh stokpic dari Pixabay.

Guru Besar Emeritus Departemen Agribisnis IPB itu membagi sistem dan usaha agribisnis terdiri atas subsistem agribisnis hulu, subsistem usaha tani (pertanian), subsistem agribisnis hilir (agroindustri), subsistem pemasaran, dan subsistem layanan pendukung.

Tetapi Prof. Pantjar Simatupang, membagi subsistem layanan pendukung menjadi subsistem usaha penunjang agribisnis dan subsistem lingkungan pemberdaya agribisnis.

Sebab, menurut Prof. Pantjar, di dalam subsistem layanan pendukung tersebut ada yang dilakukan swasta dan ada yang dilakukan pembuat kebijakan atau regulasi.

Kurang pantas jika kebijakan atau regulasi agribisnis diserahkan kepada swasta. Karena itu diperlukan subsistem lingkungan pemberdaya sebagai subsistem tersendiri.

Subsistem lingkungan pemberdaya tersebut sangat esensial dalam merangsang, mendorong, dan memperkuat agribisnis swasta.

Dengan mengombinasikan pemikiran Prof. Bungaran Saragih dan Prof. Pantjar Simatupang, Agrikan.id menggunakan pembagian sistem dan usaha agribisnis sebagai berikut:

  1. Subsistem agribisnis hulu (upstream agribusiness).
  2. Subsistem agribisnis usaha tani (on-farm agribusiness).
  3. Subsistem agribisnis hilir (agroindustri atau downstream agribusiness).
  4. Subsistem pemasaran agribisnis (marketing agribusiness).
  5. Subsistem usaha penunjang agribisnis (agribusiness supporting enterprise).
  6. Subsistem lingkungan pemberdaya (agribusiness enabling environment).

Subsistem agribisnis hulu

Pada subsistem agribisnis hulu ini menyediakan sarana produksi untuk agribisnis usaha tani dan agribisnis hilir (pengolahan).

Pada subsistem agribisnis hulu ini terdapat industri-industri yang menghasilkan barang-barang modal pertanian dalam arti luas, yaitu perbenihan, perbibitan, industri agrokimia (pupuk, pestisida, obat, vaksin, dan vitamin), industri agrootomotif (alat dan mesin), industri pakan, dan lainnya.

Selain itu, subsistem agribisnis hulu ini juga menghasilkan barang-barang modal yang diperlukan subsistem agribisnis hilir seperti alat dan mesin pengolahan komoditas pertanian primer.

Subsistem agribisnis usaha tani

Subsistem agribisnis usaha tani ini menggunakan barang-barang modal dan sumber daya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian primer dalam arti luas.

Subsistem agribisnis usaha tani mencakup usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Jadi, mencakup pertanian dalam arti luas.

Subsistem agribisnis hilir

Subsistem agribisnis hilir ini merupakan industri-industri yang mengolah komoditas pertanian primer menjadi barang antara (intermediate product) dan barang jadi (finish product).

Di sini meliputi industri makanan, minuman, barang serat alam (karet, rayon, kapas, pulp, kertas, kayu, dan sebagainya), industri biofarmaka, industri agrowisata dan estetika, dan sebagainya.

Dari sudut pandang Franky Welirang, Grup Salim, agroindustri itu terbagi dua, yaitu industri produksi massal dan industri kuliner.

Pada industri produksi massal, komoditas pertanian primer diolah secara massal terlebih dahulu, baru kemudian dipasarkan.

Pada industri kuliner, biasanya menu dipesan dulu baru kemudian dibuat atau diolah. Meskipun, banyak juga warung atau resto yang mengolah dulu menunya, baru kemudian dipasarkan.

Subsistem pemasaran agribisnis

Dalam subsistem pemasaran agribisnis ini terdapat kegiatan memperlancar pemasaran produk-produk pertanian, baik yang segar maupun olahan, ke konsumen.

Selain menunjang subsistem agribisnis usaha tani dan agribisnis hilir, subsitem pemasaran ini juga menunjang subsistem agribisnis hulu dan subsistem usaha penunjang agribisnis.

Di dalam subsistem pemasaran ini, Agrikan.id menggunakan pendekatan segitiga strategi, taktik, dan nilai, yang dikembangkan MarkPlus (Hermawan Kartajaya dkk).

Pada dasarnya agribisnis itu berorientasi pada pasar. Pelaku agribisnis memproduksi komoditas pertanian dan olahan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar.

Bukan lagi seperti pendekatan tradisional, pelaku agribisnis memproduksi komoditas petanian dan olahan sesuai dengan keinginan pelaku agribisnis tersebut.

Memproduksi komoditas pertanian primer dan olahannya yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar inilah esensi dari agribisnis (bisnis pertanian).

Memproduksi komoditas pertanian primer dan olahannya yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar inilah esensi agribisnis.
Segitiga Strategi, Taktik, dan Nilai. Sumber: Hermawan Kartajaya dkk (2005).

Strategi

Strategi ini dimaksudkan untuk merebut perhatian di benak konsumen atau pelanggan (mind-share).

Strategi ini dimulai dengan segmentasi, yaitu memetakan pasar (mapping strategy) berdasarkan demografi, psikografi, geografi, dan sebagainya.

Setelah segmentasi, dilakukan pemilihan pasar (targeting) yang akan menjadi pasar sasaran (fitting strategy). Di sini bisa memilih satu atau beberapa segmen pasar atau komunitas.

Setelah memilih segmen pasar, dilakukan positioning (kedudukan pasar atau being strategy), yaitu janji yang diberikan produk, merek, dan perusahaan kepada segmen yang dipilih tadi.

Taktik

Pada taktik ini dimaksudkan untuk merebut pangsa pasar yang ditargetkan (market-share).

Untuk memenuhi janji yang dirumuskan di dalam positioning, maka harus dibangun diferensiasi (pembeda atau penciri atau pengunggul) produk, merek, dan perusahaan.

Diferensiasi ini dapat diciptakan melalui konten (apa yang ditawarkan), konteks (cara menawarkan konten), dan infrastruktur (seperti teknologi dan sumber daya manusia).

Agar diferensiasi kokoh, maka harus didukung dengan bauran pemasaran (marketing mix).

Menurut Jerome McCarthy, bauran pemasaran terdiri atas 4P, yaitu product, price, place, dan promotion (lebih dikenal dengan marketing communication atau komunikasi pemasaran).

Bauran pemasaran tersebut memadukan tawaran (offer) dengan akses (access).

Tawaran terdiri atas produk (product) dan harga (price), sedangkan akses terdiri atas saluran distribusi (place) dan komunikasi (promotion).

Setelah bauran pemasaran, disusun taktik penjualan. Penjualan ini tidak hanya transaksional, tetapi membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan atau konsumen.

Nilai

Pada nilai ini dimaksudkan untuk merebut perhatian di hati pelanggan atau konsumen (heart-share).

Ketika menentukan positioning dan mendukungnya dengan diferensiasi, bauran pemasaran, dan penjualan, sebenarnya kita sedang membangun merek.

Merek tidak hanya sekedar nama, tetapi merupakan payung yang mewakili produk dan layanan perusahaan kepada pelanggan atau konsumen. Karena itulah, merek merupakan indikator nilai.

Dengan merek, perusahaan bisa terbebas dari jebakan kurva pasokan-permintaan (supply-demand). Sebab harga tidak lagi tergantung pada kurva keseimbangan pasokan dan permintaan.

Dengan merek yang kuat, perusahaan bisa menjadi penentu harga (price maker), dan bukan lagi penerima harga (price taker).

Agar merek semakin kuat, perlu didukung dengan layanan (service) untuk produk, merek, dan perusahaan. Layanan ini menjadi paradigma untuk menciptakan nilai terus-menerus.

Kemudian didukung dengan proses untuk menciptakan nilai pelanggan atau konsumen.

Proses tersebut mengatur agar perusahaan dijalankan dengan kualitas yang tinggi (quality), biaya yang rendah (cost), dan waktu penyampaian secepat mungkin (delivery).

Subsistem usaha penunjang agribisnis

Subsistem usaha penunjang agribisnis ini mendukung subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis usaha tani, subsistem agribisnis hilir, dan subsistem pemasaran agribisnis.

Subsistem usaha penunjang agribisnis ini antara lain meliputi pembiayaan (perbankan), asuransi (perlindungan risiko), konsultasi (hukum dan manajemen), penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, penyuluhan, asosiasi, dan sebagainya.

Subsistem lingkungan pemberdaya agribisnis

Subsistem lingkungan pemberdaya agribisnis ini meliputi infrastruktur publik (seperti irigasi, kelistrikan, telekomunikasi, dan transportasi), kebijakan (makro, mikro, dan tata ruang), norma dan regulasi, dan sebagainya.

Subsistem lingkungan pemberdaya ini mendukung subsistem agribisnis hulu, agribisnis usaha tani, agribisnis hilir, pemasaran agribisnis, dan usaha penunjang agribisnis.

Jadi, lingkungan permberdaya yang bersahabat dengan agribisnis akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan agribisnis di Indonesia.

Dimensi fungsional dan struktural

Dari penjelasan di atas, sistem dan usaha agribisnis mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fungsional dan dimensi struktural.

Dimensi fungsional merupakan rangkaian fungsi-fungsi kegiatan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang terdiri atas:

  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem agribisnis hulu.
  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem agribisnis usaha tani.
  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem agribisnis hilir.
  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem pemasaran agribisnis.
  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem usaha penunjang agribisnis.
  • Aspek pengelolaan (manajemen) subsistem lingkungan pemberdaya agribisnis.

Dimensi struktural merupakan kumpulan unit usaha, pelaku usaha, pembuat kebijakan atau regulasi, serta lembaga-lembaga terkait yang melaksanakan masing-masing subsistem agribisnis.

Dalam hal unit usaha, ada yang berskala mikro, kecil, menengah, dan besar. Ada yang berbadan hukum (PT, Perum, atau koperasi) dan ada yang tidak berbadan hukum (CV atau pribadi).

Jadi, paradigma agribisnis adalah cara baru melihat pembangunan pertanian, yaitu menggunakan perspektif sistem agribisnis yang saling terkait erat antar subsistem agribisnis.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Subsistem agribisnis usaha tani merupakan subsistem inti, sedangkan subsistem lain mendukung pertumbuhan dan perkembangan agribisnis usaha tani.

Strategi dan taktik pengelolaan pembangunan pertanian dengan perspektif sistem ini disebut Prof. Bungaran Saragih dengan membangun sistem dan usaha agribisnis.

Nah sahabat Agrikan.id, media online ini berusaha menggunakan pendekatan sistem dan usaha agribisnis dalam menyajikan kontennya.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

  1. Kartajaya, Hermawan dkk. 2005. Positioning, Diferensiasi, dan Brand. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Kasali, Rhenald. 2000. Membidik Pasar Indonesia: Segmentasi, Targeting, Positioning. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  3. Krisnamurthi, Bayu dkk ed. 2010. Refleksi Agribisnis: 65 Tahun Prof. Bungaran Saragih. Bogor: PT Penerbit IPB Press.
  4. Saragih, Bungaran. 2010. Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Bogor: PT Penerbit IPB Press.
  5. Saragih, Bungaran. 2010. Perkembangan Mutakhir Pasar Agribisnis Global dan Implikasinya bagi Pembangunan Agribisnis Indonesia. Disampaikan pada Orasi Purnabakti Guru Besar Tetap Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor, Sabtu, 17 April 2010.