Salah satu alternatif ke Kebon Jukut melalui Lapangan Koboi, Jalan Riau, di belakang terminal Baranangsiang, Kota Bogor.
Jembatan gantung ke Kampung Wisata Labirin Astra Honda. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Siti Fatimah, 45, duduk di depan rumah. Ibu rumah tangga di RW 10, Kebon Jukut, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, ini sedang membuat emping jengkol (Pithecellobium jiringa). Ia salah satu dari 30 pengrajin emping jengkol di kampung itu.

Begitu juga Isma Damayanti dan Silvina. Pada umumnya, mereka ini pengrajin generasi ketiga. Batu yang digunakan untuk membuat emping jengkol ada yang berumur lebih dari 50 tahun.

“Batu ini diambil dari Kali Ciliwung. Ada yang sudah berumur lebih dari 50 tahun,” kata Isma Damayanti, Minggu, 20 Desember 2020, pada saat berlangsung festival di kampung tersebut.

Kakek-nenek mereka dulu mengambil batu dari Sungai Ciliwung, yang tidak jauh dari rumah mereka. Maklumlah mereka tinggal di pinggir sungai itu. Batu digerinda. Satu dibuat lebar untuk tempat meletakkan biji jengkol. Satu lagi segenggam tangan untuk menumbuk-numbuk jengkol.

Sebelum ditumbuk-tumbuk menjadi emping, jengkol direndam sekitar empat jam. Kemudian biji jengkol direbus sekitar empat jam sehingga biji menjadi lunak. “Emping jengkol ini murni dari jengkol. Tidak dicampur dengan bahan-bahan lainnya,” kata Isma, pengrajin emping jengkol.

Setelah ditumbuk-tumbuk, biji jengkol tipis berbentuk lonjong. Kemudian emping basah ini diletakkan di ebek (anyaman bambu). Emping basah ini dijemur sampai kering sehingga menjadi emping jengkol. Jika musim hujan, Siti menjemur empingnya di atas kompor Rinnai RI 522 C.

Emping jengkol merupakan kerajinan turun-temurun di Kebon Jukut, Kota Bogor, Jawa Barat.
Isma Damayanti (kiri) dan Siti Fatimah (kanan). Keduanya pengrajin emping jengkol. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Satu kilogram jengkol tua seharga Rp 35.000 – 40.000 terdiri atas 50 biji. Satu biji dibelah dua sehingga dihasilkan dua lembar emping jengkol. Jadi, dari satu kg jengkol bisa dihasilkan 100 lembar emping. Emping jengkol mutu 1, yang berukuran gede lonjong, dijual Rp 150.000 per 100 lembar, sedangkan emping jengkol mutu 2, yang berukuran relatif lebih kecil, Rp 130.000.

Ada juga kemasan 10 lembar yang dijual Rp 20.000. Jika Anda ingin langsung menikmatinya di lokasi, Anda dapat membeli yang sudah digoreng Rp 5.000 per tiga lembar. Emping jengkol goreng ini sangat enak dinikmati dengan soto mie bogor atau bakso, yang juga banyak dijual di depan rumah di Kebon Jukut. Dengan merogoh Rp 10.000, Anda sudah bisa menikmati bakso.

Sehari Siti dan dua orang karyawan menghabiskan lima kg jengkol tua dan menghasilkan 500 lembar emping jengkol dengan omzet sekitar Rp 650.000 – 750.000. Sementara Silvina sendiri menghabiskan dua kg dan menghasilkan 200 lembar emping jengkol dengan omzet Rp 260.000 – 300.000 per hari. Setelah diolah menjadi emping, nilai tambah jengkol lebih dari tiga kali lipat.

Selain dipasarkan di toko oleh-oleh di Kota Bogor, penjualan emping ini juga melalui aplikasi WhatsApp. Apalagi mereka sudah dikenal. Bahkan ada yang dikirim ke Singapura dan Belanda.

Meski di Kebon Jukut ini terdapat 30 pengrajin emping jengkol, pembeli tidak sulit mengenali emping yang dipasarkan masing-masing pengrajin. Misalnya emping jengkol yang dipasarkan Siti Fatimah dan Isma Damayanti, masing-masing berkode SF dan IS di setiap kemasan plastik.

Emping jengkol bulat lonjong produksi Silvina, pengrajin emping jengkol di Kebon Jukut, Kota Bogor, Jawa Barat.
Emping jengkol di ebek (anyaman bambu) yang sudah dijemur. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Dengan diresmikannya Kebon Jukut ini menjadi Kampung Wisata Labirin Astra Honda oleh Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, Sabtu, 1 Desember 2018, membuat kampung ini semakin terkenal. Jangan heran kalau orang lebih mengenal merek Kampung Wisata Labirin ketimbang nama administrasi, Kebon Jukut. Merek itu terukir pada dinding rumah di pinggir Kali Ciliwung.

Kampung Wisata Labirin merupakan salah satu dari Kampung Berseri Astra (KBA), program kontribusi sosial berkelanjutan Grup PT Astra International Tbk. Konsep KBA ini diterapkan melalui pengembangan terpadu empat pilar, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Kampung Wisata Labirin

Secara administrasi, Kampung Wisata Labirin terletak di RW 10 (terdiri atas RT 1, RT 2, dan RT 3), Kebon Jukut, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. “Luas RW 10 ini sekitar 4 hektar dengan jumlah penduduk 1.161 jiwa,” kata Encep Musa, Ketua RW 10.

Ceritanya, dulu Kebon Jukut ini merupakan padang rumput yang luas sehingga nama kampung ini disebut Kebon Jukut (padang rumput yang luas). Karena rumput itu berwarna hijau, maka yang ditonjolkan di kampung ini adalah warna hijau. Rumah-rumah penduduk dicat warna hijau.

Disebut labirin karena jalan di RW ini lebar satu meter, panjang sekitar 600 m, dan empat gang buntu. “Lebar jalan sama. Banyak gang buntu. Banyak tukang paket yang tersesat. Karena itulah orang luar menyebutnya Kampung Labirin,” kata Ade Irma, pemandu wisata Kampung Labirin.

Setelah menjadi KBA, yang dikembangkan Yayasan Astra Honda Motor sejak 1 Desember 2018, guyub antar warga RW 10 kian mengental. “Sebelumnya juga saling mengenal, tetapi dengan menjadi Kampung Wisata Labirin kita lebih guyub lagi,” kata Encep, Kamis, 3 Desember 2020.

Ade Irma sangat merasakan peningkatan kebersamaan antarwarga RW 10 setelah menjadi KBA. “Saling sapa. Saling senyum. Welcome banget. Satu RW ini kompak banget,” kata Ade Irma, Kamis, 3 Desember 2020. “Gara-gara ada Labirin ini, kita benar-benar aktif semua,” tambahnya.

Setiap pagi dan sore tim kebersihan Kebon Jukut, Kota Bogor, Jawa Barat, menyapu jalan agar bersih.
Keasrian Kampung Wisata Labirin. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Kebanyakan warga di Kampung Labirin ini bekerja dan berjualan. “Di sini banyak yang jualan makanan di depan rumah. Sudah kayak dapur umum aja,” kata Ade. Dari segi agama, ada Islam, Konghucu, Budha, dan Kristen. Dari segi suku, ada Sunda, Jawa, dan Madura. Mereka kompak.

“Kalau dulu ada geng-gengan. Kamu RT 1, kami RT 2. Sekarang, semuanya kompak,” kata Ade. Kalau soal keamanan, “Alhamdulillah, aman. Warga dilibatkan menjaga keamanan,” tambah Deni Hariyadi alias Otong, yang berperan menjaga kebersihan dan keamanan Kampung Labirin.

Otong mempunyai anggota 150 orang. Setiap pagi dan sore tim Otong menyapu jalan sehingga jarang ditemukan sampah di jalan. “Di sini ada bank sampahnya. Setiap pagi dan sore diangkut. Jadi, nggak ada sampah yang dibuang ke Kali Ciliwung,” kata Otong, Kamis, 3 Desember 2020.

Sebagai pengingat agar warga tidak membuang sampah ke Kali Ciliwung, dipasang papan yang bertuliskan, Sungai Bukan Tempat Sampah, Buang Sampah pada Tempatnya, Mulai dari Diri Sendiri. Papan reklame tersebut terpancang di pinggir Kali Ciliwung yang mudah dilihat warga.

“Kita ini benar-benar pariwisata yang memberdayakan masyarakat,” kata Muhammad Awaludin Kamal alias Endin. “Pasca Covid-19 ini kita mau kembangkan juga ekonomi kreatif, antara lain pembuatan cenderamata dan sablon kaos dengan memberdayakan anak-anak muda,” kata Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kampung Labirin itu, Kamis, 3 Desember 2020.

Untuk kegiatan bapak-bapak dan ibu-ibu, tersedia enam unit akuaponik. Mereka dibimbing oleh Yayasan Astra Honda Motor. Pada bak bagian bawah dipelihara ikan mas, nila, dan koi. Bagian atas ditanam kangkung. “Akuaponik ini dapat meningkatkan ketahanan pangan warga,” kata Endin.

Akuaponik ini di bawah koordinasi Ruli Rakhmat, yang juga Ketua RT 3. “Kalau lagi panen, warga biasa buat jus kangkung dicampur dengan nanas. Di Kampung Labirin ini jus kangkung sangat terkenal,” kata Ruli. Boleh dibilang jus kangkung ini salah satu keunikan Kebon Jukut.

Akuaponik dapat meningkatkan ketahanan pangan warga Kebon Jukut, Kota Bogor, Jawa Barat.
Akuaponik. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Selain itu, pada saat festival seperti Minggu, 20 Desember 2020, ada angklung, marawis, tarian tradisional, dan musik stomp (dengan alat-alat bekas seperti knalpot motor, kaleng, botol, dan sebagainya). “Latihan marawis pada malam hari, sedangkan angklung siang hari,” kata Ade.

Pada saat festival, yang biasanya 2-4 kali setahun, tersedia pusat kuliner. Ada soto mie bogor, bakso, colenak, dan sebagainya. Untuk menikmati satu mangkok soto mie cukup mengeluarkan Rp 10.000 dan menambah Rp 5.000 untuk emping jengkol goreng. Kombinasinya enak banget.

“Dengan menjadi KBA, mindset warga mulai terbuka, terutama wisata. Warga semakin akrab,” kata Agus Saefullah, Wakil Kampung Labirin dan Ketua RT 1. “Mindset warga minimal sinkron sama kami. Pro dan kontra ada, tapi Alhamdulillah dua tahun ini warga support,” tambah Endin.

Jika Anda mau ke Kampung Wisata Labirin ini dapat melalui dua alternatif. Pertama, bagi yang berkendaraan roda dua, dapat melalui Gang Litih, Jalan Roda 3. Kedua, bagi yang berkendaraan roda empat, dapat parkir kendaraannya di Lapangan Koboi, masuk dari Jalan Riau, di belakang Terminal Baranangsiang. Lalu, menyeberangi jembatan gantung selebar 1 m dan panjang 32 m.

Dengan menggunakan media sosial, Kampung Wisata Labirin ini kian terkenal. Untuk Instagram dapat dilihat di akun kampunglabirin, sedangkan di YouTube akun official kampung lambirin.

Dengan mengunggah kegiatan-kegiatannya di media sosial ini, Kampung Wisata Labirin Astra Honda tidak hanya dikenal warga Kota Bogor dan sekitar, tetapi juga warga Indonesia dan dunia. Jangan heran jika promosi melalui media sosial ini juga membuat emping jengkol kian bersinar.

Perahu karet dan bola air

Pada 1 Desember 2019, Kampung Wisata Labirin mulai menyelenggarakan wisata air di Sungai Ciliwung dengan perahu karet dan balon air. Pada tahap awal, sebelum melatih anak-anak muda Kebon Jukut, yang mendayung dari pemadam kebakaran Kota Bogor. Tetapi sekarang banyak anak muda yang terlatih mendayung, mengendalikan balon air, dan menyelamatkan orang di air.

Tersedia enam perahu karet Liquidstar dan enam balon air Surya Balon (diameter 2 m), bantuan Yayasan Astra Honda Motor. Setiap warga atau pengunjung menggunakan balon air dipungut Rp 5.000 per lima menit. Untuk perahu karet berkapasitas delapan orang juga Rp 5.000 per orang dengan jarak tempuh sekitar 500 meter. “Tarifnya sama untuk warga dan pengunjung,” kata Ade.

Pada balon air tersebut tertulis Yayasan Astra Honda Motor, Wonderful Indonesia, dan Kampung Labirin plus logonya. Balon air berdiameter dua meter ini digemari anak-anak. “Mama ingin naik balon,” kata seorang anak dari jembatan gantung. “Saya juga mau Mama,” timpal yang lain.

Wisata air naik perahu karet Liquidstar dan balon air Surya Balon di Kampung Wisata Labirin, Kebon Jukut, Kota Bogor, Jawa Barat.
Perahu karet dan balon air di Sungai Ciliwung, Kebon Jukut. Sumber: dokumentasi Agrikan.id.

Rencananya, menurut Endin, pengoperasian perahu karet dan balon air tidak hanya pada saat festival seperti pada Minggu, 20 Desember 2020, tetapi bisa dilakukan setiap hari. “Water spot ini mau kita tingkatkan harian sebagai sumber pemasukan,” katanya, Kamis, 3 Desember 2020.

Selain itu, rencananya Curug Jaksa di seberang, dekat jembatan gantung, akan dibuat tempat selfie dan pemandian bidadari. “Yang naik perahu dipandu ke pinggir dan foto-foto di Curug Jaksa,” kata Ade. Disebut Curug Jaksa karena dulu di bagian atasnya terdapat rumah jaksa.

Labirin terus maju

Pada malam hari, Kampung Wisata Labirin banyak kedatangan pemancing dari berbagai daerah, misalnya dari Tajur, Bogor. “Di sini ramai yang mancing setiap malam. Dipasang pancing, ikan langsung makan. Cepat. Ada ikan mas, tawes, dan sapu-sapu,” kata Dani Hariyadi alias Otong.

“Di sini nggak akan sepi. Hidup 24 jam,” tambah Ade. Karena itulah, rencananya akan dibuat kafe di pinggir Kali Ciliwung. Di rumah-rumah penduduk yang dipinggir kali. “Mereka ini di pinggir kali. Seperti di pasar apung. Yang minum kopi sambil melihat-lihat perahu,” kata Ade. Apalagi salah satu keunikan lain dari Kampung Wisata Labirin ini adalah warung kopi Jenaka.

Nantinya mau dipadukan dengan karamba yang memelihara ikan gurame, nila, dan mas. Ini karamba warga di Sungai Ciliwung. “Rencananya para tamu mengambil sendiri ikan di karamba, memilih sendiri ikannya, terus memasak dan menikmati sendiri di Kampung Labirin,” jelas Ade.

Jangan takut dengan banjir lo. Kalau Sungai Ciliwung banjir, tidak sampai ke atas. Hanya di pinggir saja. Sebab di dekat Kebon Jukut ini ada Pulau Geulis yang memecah aliran Sungai Ciliwung menjadi dua sebelum mengalir ke Kebun Raya Bogor. “Banjir nggak akan masuk ke pemukiman. Bahkan nanti pengunjung kafe bisa lihat suasananya kalau lagi banjir,” kata Ade.

Dengan banyaknya pengunjung dari perusahaan seperti Pelindo I dan Pelindo II, Kampung Wisata Labirin berencana membuat homestay (penginapan di rumah warga). “Pengunjung ingin berbaur dengan masyarakat. Kata mereka salah satu penilaian untuk jadi pemimpin,” kata Ade.

Sebelum pandemi Covid-19 (Maret 2020), Kampung Wisata Labirin sudah menjajaki untuk bekerjasama dengan Hotel 101 di Jalan Suryakencana, dekat Jalan Roda, tidak jauh dari Kebun Jukut. Menyediakan fasilitas penginapan bagi pengunjung dari perusahaan. “Tapi karena Covid-19 ini, rencana kerjasama dengan Hotel 101 menjadi tertunda,” kata Encep Musa, Ketua RW 10.

Secara birokrasi, Kampung Wisata Labirin di bawah binaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor. Selama dua tahun, KBA turut membantu mengembangkan potensi dan kearifan lokal Kebon Jukut. “Sekarang ibaratnya kembali ke ibu kandung. Tapi kita tetap berkolaborasi dengan AHM (Astra Honda Motor),” kata Agus Saefullah, Wakil Ketua Kampung Labirin.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com