Petani plasma sawit menikmati warisan Soeharto.
Eko Yono, generasi kedua petani plasma sawit PT Inti Indosawit Subur di Pelalawan, Riau. Sumber: asianagri.com.

“Kami kirim doa untuk Pak Harto. Berkat Pak Harto kami mendapat warisan tanah PIR-Trans 2,5 hektar,” kata Eko Yono, generasi kedua petani plasma sawit PT Inti Indosawit Subur (IIS), anak usaha Asian Agri.

Eko Yono merupakan putra pertama dari pasangan almarhum Ahmad Samiskun dan almarhumah Encoh. Ibu Eko baru meninggal pada Agustus 2021, sedangkan ayahnya sudah wafat lebih dulu.

Pada tahun 1990, Ahmad dan Encoh bersama kedua anaknya, Eko Yono dan Nyai Kurnia, berangkat ke Desa Bukit Agung, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Mereka mengikuti program PIR-Trans (Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi), menjadi petani plasma kelapa sawit PT Inti Indosawit Subur.

Eko berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Sebagai tamatan Sekolah Rakyat, ayahnya bekerja menjadi buruh tani. Dengan mengolah lahan, memanen, dan menggebot padi, penghasilan Ahmad tidak seberapa.

Ahmad berkeyakinan bisa memperbaiki kehidupan keluarganya dengan mengikuti program PIR-Trans.

Kalau kita sendiri tidak mau berusaha untuk maju, Tuhan pun tidak akan menolong kita. Tapi, kalau kita berusaha keras, Tuhan akan menolong kita sampai berhasil.

Kalimat ucapan ayahnya itu saat mereka mau berangkat ke Pelalawan masih terngiang-ngiang di telinga Eko. Waktu itu, ibunya Encoh, tamatan Pendidikan Guru Agama, juga semangat untuk berkebun sawit.

Di Bukit Agung, keluarga Ahmad mendapat lahan 2 hektar untuk menanam kelapa sawit dan 0,5 hektar untuk rumah dan menanam padi gogo dan palawija. Jadi, total lahan pemberian pemerintah 2,5 hektar.

Selama tiga tahun, sebelum kelapa sawit menghasilkan, keluarga Ahmad mendapat bantuan dana dari pemerintah pusat dan daerah.

PT Inti Indosawit Subur, perusahaan inti, membantu para petani plasma untuk menanam dan merawat kelapa sawit. Pada waktu itu, kelapa sawit mulai berbuah pada umur 3-4 tahun setelah tanam.

Selain itu, anak usaha Asian Agri itu juga membeli tandan buah segar (TBS), buah kelapa sawit, milik para petani plasma.

Asian Agri mengolah TBS menjadi minyak sawit kasar (crude palm oil, CPO), minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO), dan produk-produk turunannya.

Menggunakan lampu cempor

“Dulu banyak orang yang menganggap kami sebagai orang buangan pemerintah. Tinggal di hutan. Padahal, tujuannya untuk mengatasi kemiskinan kami,” kata Eko, anak pertama pasangan Ahmad dan Encoh.

Jika mendengar frasa ‘orang buangan pemerintah’, hati Eko sangat perih. Tetapi ucapan ayahnya pada saat mau berangkat ke Pelalawan selalu membakar jiwanya untuk semangat mengatasi kemiskinan.

Siapa yang tidak sedih tinggal di kebun sawit yang baru ditanami. Masih seperti hutan belantara. Tidak ada listrik. Pada malam hari mereka hanya menggunakan lampu cempor berbahan bakar minyak tanah.

Tetapi dalam suasana kesunyian dan ketenangan di kebun sawit, toh Encoh melahirkan si bungsu, Sursidik. Alhamdulillah, Eko, Nyai, dan Sursidik bisa menamatkan SD sampai SMA di Bukit Agung.

Ahmad dan Encoh gigih memperjuangkan kehidupan keluarga. Mereka bisa mewariskan rumah, ruko tiga pintu, dan kebun kelapa sawit. Luas lahan kebunnya pun bertambah menjadi sekitar 40 hektar.

Banyak petani plasma yang tidak kuat untuk melanjutkan bertani sawit di Pelalawan. Mereka pulang ke Jawa. Ahmad membayar ganti rugi tanah sejumlah petani yang meninggalkan proyek PIR-Trans.

“Orang tua kami membayar ganti rugi tanah petani yang sudah merasa tidak kuat menjadi petani plasma sawit dan memilih pulang ke Jawa,” kata Eko.

Eko juga mempunyai kolam satu hektar. Kelahiran 18 Agustus 1977 itu suka memelihara ikan patin dan gurami. “Buat tambahan penghasilan,” kata suami Sri Sugiarti itu kepada AGRIKAN.ID, September 2021.

Ia sangat berterima kasih kepada orang tuanya ikut program PIR-Trans. “Saya sangat bersyukur, orang tua saya dulu ikut memilih program PIR-Trans. Kami sekarang jauh lebih sejahtera,” ucap ayah tiga anak itu.

Misalnya, Eko bisa menguliahkan anak pertamanya. Selain itu, meski sudah ada rumah orang tuanya, ia juga tetap membangun sendiri rumah untuk istri dan tiga anaknya. “Rumah itu belum selesai,” katanya.

Generasi kedua petani plasma PT Inti Indosawit Subur.
Rumah Eko Yono sedang dibangun di Pelalawan. Sumber: Eko Yono.

Eko juga sudah membagi lahan sawit warisan orang tuanya kepada kedua adiknya, Nyai Kurnia dan Sursidik, agar mereka mandiri. Apalagi kedua adiknya masing-masing sudah mempunyai kartu keluarga.

Kelompok Tani Sawit Jaya Silor

Pengorganisasian petani plasma sawit di IIS cukup bagus. Petani plasma menjadi anggota kelompok tani (poktan), yang beranggotakan 22-30 orang. Petani secara berkelompok menjual TBS kepada perusahaan inti melalui  KUD.

Eko misalnya, tergabung dalam Poktan Sawit Jaya Silor di bawah KUD Sumber Rezeki. “Anggota Poktan Sawit Jaya Silor 22 orang,” kata Eko yang juga Ketua Poktan Sawit Jaya Silor.

Berkat bimbingan dari IIS, pada tahun 2014 Poktan Sawit Jaya Silor mendapat sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Berdasarkan buku panduan RSPO, petani tidak boleh sembarangan menyemprotkan pestisida ke kebun kelapa sawit. Sebab, kalau terlalu banyak pestisida justru bisa mengundang penyakit baru.

Dalam pemupukan juga tidak boleh asal-asalan. “Pemupukan harus berdasarkan analisis daun. Jika dari analisis kekurangan pupuk P, maka dikasih pupuk P. Jadi, pemupukan tidak sembarangan,” tutur Eko.

Berkat penerapan RSPO, meski kebun sawit Eko sudah berumur 30 tahun, toh produktivitas TBS masih relatif  tinggi. “Produktivitas TBS sekitar 3,5 ton sampai 4 ton/ha/bulan,” kata ayah tiga anak itu.

Pada tahun 2014, IIS mengirim beberapa petani yang sudah mengantongi sertifikat RSPO untuk studi banding ke Yogyakarta.

Eko dan rombongannya mampir ke Astana Giribangun, makam keluarga Presiden Soeharto di Karanganyar, Jawa Tengah.

Di makam itulah Eko dan beberapa temannya mendoakan Pak Harto. Tanpa terasa, air matanya menetes pada saat mendoakan Bapak Pembangunan Nasional itu.

“Kalau tidak Pak Harto, belum tentu kami mendapatkan warisan tanah seluas 2,5 ha. Kakek-nenek kami pun tidak bisa memberikan warisan tanah seluas itu karena memang nggak punya,” kata Eko.

Sementara itu, berkat kebijakan mandatori biodiesel B30 yang dilakukan Presiden Jokowi pada tahun 2019, pelan-pelan harga TBS meningkat. Pada September 2021, harga TBS sekitar Rp 2.400/kg.

Dengan harga TBS Rp 2.400/kg dan produktivitas TBS 3,5 ton – 4 ton/ha/bulan, pendapatan petani sawit sekitar Rp 8,4 juta – Rp 9,6 juta/ha/bulan.

“Kebijakan Presiden Jokowi ikut menaikan harga TBS,” kata Eko. Bahkan pada Oktober 2021 ini, harga TBS berkisar Rp 3.000/kg. Tentu saja petani plasma sawit sangat menikmati peningkatan harga TBS.

Kemitraan petani plasma sawit dan perusahaan inti yang baik

Sebagai petani mitra, Poktan Tani Sawit Jaya Silor dan KUD Sumber Rezeki bersinergi dengan baik dengan perusahaan intinya, IIS. Mereka saling menghargai satu sama lain, tenggang-menenggang.

Mereka berbagi untuk keuntungan bersama. Bahkan Eko melalui Jabang Tetuka Group membantu orang-orang yang tidak mempunyai kebun sawit untuk mengangkut TBS ke pabrik kelapa sawit (PKS).

“Dengan menjadi petani sawit, saya bisa membuka lapangan pekerjaan dan membantu orang lain,” katanya.

Apalagi jika nanti kebun sawitnya diremajakan (di-replanting), bakal banyak lapangan pekerjaan. Karena sawitnya sudah berumur 30 tahun, Eko sudah menyiapkan untuk meremajakan perkebunan sawitnya.

Menurut Eko, sebagian dana peremajaan kebun kelapa sawitnya bakal mendapat bantuan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

Asian Agri juga sudah menyiapkan benih atau bibit sawit yang unggul untuk meremajakan kebun sawit milik petani plasma. Eko merupakan salah satu dari sekitar 30 ribu petani plasma sawit Asian Agri.

Cloud Hosting Indonesia

Boleh dikatakan, petani plasma sawit dan IIS sudah menerapkan ekonomi moral (gift economy) sebagai fondasi dalam membangun usaha perkebunan sawit rakyat maupun perkebunan sawit besar swasta.

Program PIR-Trans boleh jadi menerapkan filosofi ekonomi moral untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit seperti yang dirasakan keluarga Ahmad dan Encoh beserta tiga anak dan cucu-cucunya.

Program PIR-Trans merupakan salah satu pintu rakyat menjadi pengusaha sawit. Di dalam PIR-Trans, terjadi kemitraan yang saling menguntungkan antara petani plasma sawit dan perusahaan intinya.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here