penyajian data nilai ekspor minyak sawit Indonesia
Tren produksi dan ekspor minyak sawit Indonesia 2019-2025.

AGRIKAN.ID – Penerapan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) untuk tiga komoditas strategis, yaitu batu bara, minyak sawit, dan paduan besi (ferro alloy) mulai berlaku 1 Juni 2026 sebagai tahap masa transisi. Diharapkan berlaku penuh 1 Januari 2027.

Selama masa transisi, kegiatan ekspor berjalan seperti biasa oleh perusahaan yang bersangkutan, yang telah melakukan ekspor selama ini. Namun perusahaan ekspor tersebut wajib melaporkan kegiatan ekspornya melalui atau kepada DSI sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ekspor.

Pelaporan ekspor ketiga komoditas strategis tersebut akan dilayani Bea Cukai dalam format Akses Portal CEISA 4.0 yang disiapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengaturan tersebut akan memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor. Kebijakan tersebut, menurut Airlangga, untuk mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, dan terkait dengan pelarian devisa hasil ekspor.

Lihat juga: Program biosolar B50 untuk ketahanan energi

Dengan demikian, “Nilai ekspor yang tercatat menggambarkan besarnya transaksi ekspor yang sebenarnya, sehingga kewajiban terhadap negara dan penerimaan negara dari pelaksanaan ekspor (tersebut) lebih optimal,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu, 31 Mei 2026.

Pada tahun 2025, total nilai ekspor ketiga komoditas strategis tersebut mencapai US$66,13 miliar atau sekitar 23,37% terhadap total ekspor nasional. Rinciannya begini: nilai ekspor batu bara US$24,48 miliar, minyak sawit US$24,42 miliar, dan paduan besi (ferro alloy) US$16,49 miliar.

“(Ketiga komoditas tersebut) adalah penopang surplus neraca perdagangan (Indonesia) yang terjadi selama 71 bulan berturut-turut,” kata Airlangga.

Nilai ekspor minyak sawit versi BPS, GAPKI, dan PASPI

Pemerintah menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai nilai ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2025, yang nilainya sekitar US$24,42 miliar atau 8,65% dari total ekspor nasional.

Tetapi menurut data GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), pada tahun 2025 nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai sekitar US$35,87 miliar atau setara Rp590,00 triliun. Ekspor tersebut mencakup CPO, olahan PO (palm oil), minyak inti sawit (PKO), olahan PKO, dan oleokimia.

Sebelumnya, berdasarkan data GAPKI, nilai ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2019 sekitar US$20,22 miliar, tahun 2020 sekitar US$22,97 miliar, tahun 2021 sekitar US$35,50 miliar, tahun 2022 sekitar US$39,07 miliar, tahun 2023 sekitar US$30,32 miliar, dan tahun 2024 sekitar US$27,76 miliar.

Lihat juga: Kinerja industri sawit Indonesia 2021-2025

Perbedaan tersebut, menurut Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) kemungkinan besar karena soal cakupan HS (Harmonized System)-nya.

“Sebenarnya sumber data sama dari BPS. Hanya beda HS mana saja yang dikelompokkan ekspor industri sawit. PASPI pendekatannya hulu-hilir,” kata doktor lulusan IPB University itu.

Menurut PASPI, data ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2025 sekitar US$37,1 miliar dan devisa substitusi impor (penghematan devisa karena mandatori biodiesel) sekitar US$8,1 miliar. Jadi, jika dihitung, total devisa ekspor minyak sawit plus devisa substitusi impor mencapai US$45,2 miliar.

“Secara teori, keduanya, yakni devisa ekspor dan devisa substitusi impor memiliki peran yang sama dalam perekonomian,” kata Tungkot, Selasa, 9 Juni 2026.

GAPKI karena anggotanya adalah kebun, PKS (pabrik kelapa sawit), dan refinery (permunian minyak sawit), maka data yang dicatat hanya ketiga hal tersebut. “BPS catat sesuai segmentasi sektoral. Produk industri hilir sawit tidak masuk ke sawit, mereka masukkan ke ekspor industri,” tambahnya.

Cakupan HS data ekspor minyak sawit yang disajikan PASPI lebih lengkap, yaitu CPO, refined palm oil, minyak inti sawit mentah (CPKO), refined PKO, biodiesel, dan oleokimia. Jadi, “Data PASPI lebih komprehensif,” kata Tungkot.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Keterangan:

Artikel ini dapat juga diakses di web majalaheditor.com.