AGRIKAN.ID – Produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2025, menurut Eddy Martono, sekitar 56,55 juta ton. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) itu dalam konperensi pers dan buka puasa bersama di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Produksi tersebut terdiri atas minyak sawit mentah (crude palm oil, CPO) sekitar 51,66 juta ton dan minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil, CPKO) sekitar 4,89 juta ton. Perlu diketahui, CPO diperoleh dari ekstraksi daging buah sawit, sedangkan CPKO dari ekstraksi inti biji buah sawit.
Lihat juga: Proses produksi minyak sawit
Jika dibandingkan dengan produksi minyak sawit tahun 2024 yang sekitar 52,76 juta ton, produksi tahun 2025 lebih tinggi sekitar 7,18%. Coba bandingkan dengan produksi tahun 2023 yang sekitar 54,84 juta ton, tahun 2022 yang sekitar 51,25 juta ton, dan tahun 2021 yang sekitar 51,30 juta ton.
Pada tahun 2026, di tengah El Nino, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan meningkat 1-2%.
“Produksi (minyak sawit Indonesia pada) tahun 2026 mungkin naik 1-2% dengan beberapa alasan. Pertama, diprediksi adanya musim kemarau. (Kedua) tata kelola sawit kita yang perlu pembenahan,” kata Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono, Sekretaris Jenderal GAPKI, Kamis, 12 Maret 2026.
Konsumsi sawit Indonesia di pasar domestik
Konsumsi sawit Indonesia di pasar domestik tahun 2025 sekitar 24,77 juta ton atau 43,80% dari total produksi nasional. Dibandingkan dengan tahun 2024, konsumsi tahun 2025 meningkat sekitar 3,83%.
Konsumsi tersebut untuk pangan 9,84 juta ton, oleokimia 2,23 juta ton, dan biodiesel 12,70 juta ton.
Lihat juga: 9 Istilah minyak sawit dan turunannya
Kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel pada tahun 2025 relatif tinggi karena kebijakan pemerintah terhadap biosolar B 40, yaitu campuran solar fosil 60% dan biodiesel (berbasis minyak sawit) 40%.
Bandingkan dengan kebijakan biosolar B 35 tahun 2024, yang membutuhkan minyak sawit 11,45 juta ton. Biosolar B 35 merupakan campuran solar fosil 65% dan biodiesel berbasis minyak sawit 35%.
Biodiesel atau FAME (fatty acid metyl ester) diolah dari CPO yang telah dimurnikan atau RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil). Melalui proses transesterifikasi RBDPO, dihasilkan FAME. Kemudian FAME dimurnikan untuk menghasilkan biodiesel berkualitas tinggi sesuai standar.
Lihat juga: Implementasi biodiesel berbasis sawit
Selain biodiesel, konsumsi minyak sawit di pasar domestik dalam bentuk oleokimia, antara lain untuk bahan baku sabun mandi (toilet soap), sabun cuci (wash soap), dan sabun cuci pakaian (detergent).
Di bidang pangan (oleopangan), minyak sawit digunakan antara lain dalam bentuk minyak goreng (cooking oil), margarin (margarine), mentega putih (shortening), dan lemak khusus (specialty fat).
Lemak khusus berbasis minyak sawit banyak digunakan dalam industri cokelat, industri permen (confectionery), industri roti (bakery), produk susu (dairy), dan penggorengan (frying solutions).
Lihat juga: Cokelat riil dan cokelat kompon
Mentega putih dengan kandungan lemak padat sekitar 100% banyak digunakan dalam membuat kue, membuat krim hiasan kue (buttercream), melembutkan roti, dan menggoreng makanan agar garing.
Margarin dengan kandungan lemak padat sekitar 80% banyak digunakan dalam pembuatan kue dan roti, penumisan sayuran, penggorengan, dan pengolesan roti tawar. Boleh dikatakan, margarin dan mentega putih berbasis sawit merupakan pengganti mentega (butter), yang diolah dari susu sapi.
Bagaimana minyak goreng berbasis sawit? Tentu banyak masyarakat yang mengetahui fungsinya.
Ekspor sawit Indonesia
Pada tahun 2025, volume ekspor sawit Indonesia mencapai 32,34 juta ton atau sekitar 57,20% dari total produksi sawit nasional. Dibandingkan dengan tahun 2024, volume tersebut meningkat sekitar 9,51%.
Kenaikan volume ekspor tersebut bersumber dari olahan PO (palm oil) yang mencapai 22,73 juta ton atau meningkat sekitar 11,15% dibandingkan dengan tahun 2024.
Selain ekspor olahan CPO, terjadi juga peningkatan ekspor olahan minyak inti sawit (palm kernel oil, PKO).
Lihat juga: Neraca industri sawit Indonesia 2019-2024
Pada tahun 2025, ekspor olahan PKO mencapai 1,56 juta ton. Dibandingkan dengan tahun 2024, terjadi peningkatan ekspor olahan PKO sekitar 23,81%.
Dari segi nilai, ekspor sawit Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$ 35,87 miliar atau setara Rp 590 triliun.
Bandingkan dengan nilai ekspor tahun 2024 yang sekitar US$ 27,76 miliar atau setara Rp 438,17 triliun. Jadi, nilai ekpor tahun 2025 meningkat sekitar 29,21% dibandingkan dengan tahun 2024.
Pesan inti
- Produksi sawit Indonesia tahun 2025 mencapai 56,55 juta ton, yang terdiri atas CPO (crude palm oil) 51,66 juta ton dan CPKO (crude palm kernel oil) 4,89 juta ton.
- Konsumsi sawit Indonesia di pasar domestik tahun 2025 mencapai 24,77 juta ton, yang terdiri atas pangan 9,83 juta ton, oleokimia 2,23 juta ton, dan biodiesel 12,70 juta ton.
- Volume ekspor sawit Indonesia tahun 2025 mencapai 32,24 juta ton, yang sebagian besar dalam bentuk ekspor olahan, yaitu olahan PO (palm oil), olahan PKO (palm kernel oil), dan oleokimia.
- Nilai ekspor sawit Indonesia tahun 2025 mencapai US$ 35,87 miliar atau setara Rp 590 triliun.
Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com
Referensi:
- Sipayung, T dan V. Purba, JH. 2015. Ekonomi Agribisnis Minyak Sawit. Bogor: Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).
- Akses informasi dari elaeis.co, gapki.id, musimmas.com, sawitsetara.co, sawitindonesia.com, shasolo.com, smart-tbk.com, dan thespruceeats.com.














