Sukses Menjadi Petani
Biografi Wayan Supadno.

Wayan Supadno. Pria kelahiran Banyuwangi, 20 Juni 1967, ini salah satu dari orang PSDs (poor, smart, with a deep desire) to become wealthy.

Sejak kecil gagap, anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan petani gurem Suwarno dan Tupon ini hampir saja bisu.

Di SD dua kali tidak naik kelas. Di kelas 1 SMA, nilai rapornya peringkat 47 dari 47 siswa. Tapi ia gigih, akhirnya lulus peringkat 1 di kelasnya.

Karena gaji di TNI kurang cukup, ia berjualan pinang, karung bekas, cangkang sawit, batu kapur, ikan mas, kayu teh, dan berkebun sawit.

Sukses, ia masuk ke bisnis rumah sakit dan properti. Tapi ia bangkrut Rp 38 miliar. Hartanya ludes.

Waktu berusaha bangkit, ia kembali rugi Rp 465 juta karena produk asap cairnya ditolak pasar di Eropa.

Tapi Wayan tidak mau tenggelam di dalam lumpur hidup. Ia harus bangkit.

Apa  resepnya?

“Kuasai diri, cinta pekat kepada Tuhan, konsolidasi bisnis, buat rencana strategi baru, dan pintar mengelola orang-orang pintar.”

Wayan Supadno

Pertanian itu ‘sepatu’ yang pas buatnya. Sekarang ia sukses jadi praktisi dan motivator pertanian, serta formulator pupuk organik, hayati, biopestisida, dan hormon pertumbuhan.

Dari ratusan hektar kebun buah naga, jeruk dekopon, sawit, dan anggur, Wayan berpotensi memetik passive income miliaran rupiah.

Keluarga Wayan Supadno. Belakang (ki-ka) Wanna Bhakti Wirawan, Ayu Mega Suryanti, dan Satya Weda Witawan. Depan (ki-ka) Wayan Supadno dan Ernawati.

Dari pengalaman bisnisnya, Wayan menemukan ciri-ciri pengusaha yang sukses.

Pertama, pada usia dini, ketika menghadapi kesulitan cenderung melakukan improvisasi diri untuk mencari solusi.

Misalnya, ketika bermain bola dan bolanya jatuh di kolong tempat tidur, si anak berusaha sendiri mengambilnya, misalnya dengan menggunakan sapu.

“Bukan merengek minta bantuan orang tua,” katanya.

Kedua, pada waktu remaja cenderung menonjolkan kecerdasan, bukan kepintaran karena ketekunan.

Misalnya lebih senang menyelesaikan tugas yang bernuansa matematika, bukan sekadar menghafal yang di buku pelajaran.

Ketiga, ketika mengawali bisnis, cenderung mencari tantangan hal-hal yang baru dan berbeda nuansa inovatif-kreatif. Bukan yang bernuansa ikut-ikutan.

Keempat, setelah menjadi pengusaha, ketika menghadapi kerugian atau kebangkrutan justru dijadikan sumber kekuatan.

“Hal itu dianggap sebagai proses pembelajaran sehingga terbentuk jadi diri yang lebih ulet: dijemur tidak kering, disiram tidak basah, dan diiris tidak sobek. Bukan sekadar pengusaha yang mudah kapok dan meninggalkan predikat sebagai pengusaha.”

Wayan Supadno

Kelima, jika sudah menjadi pengusaha yang sukses, cenderung terpanggil untuk membangun masyarakat di sekitarnya dan menularkan kiat-kiat sukses kepada sesamanya yang belum sukses.

(Ki-ka) Wayan Supadno, Suwarno (tengah), dan Tupon (kedua dari kanan).

Wayan bukan tipe orang yang ingin berhasil sendiri. Ia selalu ikhlas berbagi kiat sukses, terutama kepada generasi muda yang ingin sukses di bidang pertanian.

Di dalam buku biografi, Wayan Supadno, Perwira TNI: Sukses Menjadi Petani, ini Anda bisa memetik sejumlah pelajaran bagaimana suami Ernawati menjalankan bisnisnya.

Di dalam buku 19 bab dan setebal 264 halaman ini, tidak hanya dipaparkan kesuksesan, tetapi juga kiat ayah tiga anak ini bangkit dari kebangkrutan.

“Kasihi yang di bumi, pasti yang di langit mengasihimu.”

Wayan Supadno

“Miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki, pertanian ini milik kita.”

Wayan Supadno

Syatrya Utama (HP. 0818.79.5995 dan email: syatrya_utama@yahoo.com)

(Catatan: Buku biografi Wayan Supadno ini dijual paket Rp 200.000 dapat 4 buku. Kontak Syatrya Utama, HP. 0818.79.5995).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here