Pembangunan proyek Bukit Algoritma dilakukan tiga tahap, selama 11 tahun, sampai tahun 2032.
Budiman Sudjatmiko pada acara peletakan batu pertama Bukit Algoritma, Rabu, 9 Juni 2021.

Bukit Algoritma, yang digagas Budiman Sudjatmiko, anggota PDI Perjuangan, bakal menjadi Silicon Valley Indonesia, pusat ekosistem inovasi di dalam negeri.

Proyek tersebut berlokasi di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, di lahan seluas sekitar 888 hektar.

Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut dilakukan pada Rabu, 9 Juni 2021.

Berbagai pihak terkait di Bukit Algoritma

  1. Budiman Sudjatmiko, anggota PDI Perjuangan, penggagas Bukit Algoritma, yang juga disebut Silicon Valley Indonesia. Ia Ketua Pelaksana KSO (PT Kiniku Bintang Raya).
  2. PT Bintang Raya Loka Lestari, milik Dhanny Handoko. Perusahaan ini pemilik lahan sekitar 888 ha di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, yang dijadikan Bukit Algoritma.
  3. PT Amarta Karya (AMKA), Badan Usaha Milik Negara, adalah pelaksana proyek.
  4. Pada acara groundbreaking (peletakan batu pertama), PT Kiniku Bintang Raya mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Sumbangsih Karya Anakbangsa, PT Centrasolusi Intiselaras, PT Dynamax Industri dan Karim Taslim sebagai inovator Artificial Intelligence Ecosystem, dan Gina Halomoan Lubis (jejaring Harvard University).

5 pilar Bukit Algoritma

  1. Di sini memperindah, mempernyaman, mempermudah aksesibilitas, menyiapkan fasilitas, dan menyiapkan atraksi.
  2. Pertanian 4.0. Mengarah kepada kemandirian pangan.
  3. Kesehatan presisi. Kesehatan yang baik dari berbagai aspek.
  4. Fusi teknologi baru. Teknologi atau inovasi memang semakin penting.
  5. Ruang dan gaya hidup tangguh berkelanjutan. Yang ini akan terbentuk jika keempat pilar di atas sudah tercapai.

Pada tahap awal, tiga tahun pertama, sampai 2024, akan dibangun akses infrastruktur jalan utama dan kawasan, pembangkit listrik, serta fasilitas pengolahan air kotor dan bersih.

Selain itu akan dilakukan renovasi enam gedung yang sudah ada seperti Shaolin Centre yang akan dijadikan sebagai pusat riset dan pengembangan artificial intelligence (AI).

Kemudian akan dilakukan pembangunan tahap kedua selama tiga tahun, sampai tahun 2027. Tahap ketiga dilakukan lima tahun, sampai tahun 2032.

Jadi, total waktu yang diperlukan membangun proyek Bukit Algoritama itu sekitar 11 tahun.

Proyek pusat ekosistem inovasi di Indonesia itu sudah mendapat komitmen pendanaan dari investor Kanada, Jerman, dan jejaring Harvard University (Amerika Serikat).

Silicon Valley di Amerika Serikat

Silicon Valley merupakan sebutan kawasan di San Francisco, Amerika Serikat. Kawasan ini menjadi basis perusahaan teknologi terbesar di dunia seperti Facebook, Google, dan Apple.

Silicon Valley ini tidak didesain menjadi kawasan pengembangan teknologi.

Lembah tersebut menjadi pusat pengembangan teknologi setelah muncul gugusan pusat-pusat pengembangan teknologi di kawasan tersebut.

Berdirinya Universitas Stanford dianggap sebagai awal mula pembangunan ekosistem sains, teknologi, dan inovasi (STI) di Silicon Valley.

Pada akhir abad ke-19 terbentuk pusat industri telekomunikasi di pelabuhan San Francisco, yang memperkuat pertumbuhan Silicon Valley.

Dorongan Pemerintah Federal Amerika Serikat untuk kepentingan keamanan pada masa Perang Dunia Kedua semakin memperkuat ekosistem inovasi di kawasan tersebut.

Tapi seperti halnya pertumbuhan sebuah kota, Silicon Valley tumbuh secara organik. Berbeda dengan Bukit Algoritma, tampaknya memang didesain untuk menjadi Silicon Valley Indonesia.

Robotik zJOS-XDI© Mainframe

Melalui channel YouTube Akbar Faizal Uncensored, Budiman Sudjatmiko mengatakan, ada dua model pengembangan inovasi atau teknologi dilihat dari segi pasokan dan permintaan.

Di Amerika Serikat, pasokan dan permintaan inovasi dipertemukan oleh pihak swasta. Di China, pasokan dan permintaan inovasi dipertemukan oleh pemerintah.

Di Indonesia, pasokan inovasi didukung oleh pemerintah, tetapi permintaan (pasarnya) dilepas begitu saja. Jangan heran jika inovasi di Indonesia kurang berkembang di pasar.

Selama dua dekade robotik zJOS-XDI terbukti beroperasi dengan baik di Bank BNI.
Deru Sudibyo, pembuat dan perawat robotik zJOS-XDI.

Nah, Budiman berpendapat, melalui Bukit Algoritma, pertemuan pasokan dan permintaan inovasi di Indonesia akan dilakukan oleh komunitas.

Paket perangkat lunak robotik zJOS-XDI©, yang berfungsi menggantikan para operator untuk platform z/OS mainframe, bisa dijadikan pelajaran.

Produk tersebut diarsiteki, dirancang, dibangun, dirawat, dan dikembangkan Deru Sudibyo.

Robotik zJOS-XDI© diluncurkan alumnus Statistika IPB University itu pada tahun 2003.

Kelahirannya begini.

Selama 2000 – 2003, Bank BNI dirundung kegagalan operasi perangkat lunak produk luar negeri.

Karena melanggar aturan jika memperbaiki perangkat lunak buatan perusahaan lain tanpa seizin produsennya, maka Bank BNI meminta alumnus IPB itu membuat produk serupa.

Akhirnya lahirlah paket robotik zJOS-XDI©. Sampai sekarang, selama dua dekade, paket robotik zJOS-XDI© terbukti beroperasi dengan baik di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

Paket robotik zJOS-XDI© terdiri atas produk auto scheduler (zJOS/Puspa), auto console (zJOS/Sekar), dan auto output manager atau auto spool downloader (XDI/AutoXfer).

Tetapi pasarnya tidak bisa berkembang karena zJOS-XDI© tidak mempunyai corporate guarantee. Sampai sekarang hanya Bank BNI yang menggunakannya.

Sebab, robotik zJOS-XDI© ini hanya diarsiteki, dirancang, dibangun, dirawat, dan dikembangkan oleh seorang author, bukan tim di perusahaan besar.

Padahal robotik zJOS-XDI© merupakan salah satu dari lima robotik untuk z/OS mainframe yang ada di dunia. Yang lainnya adalah IBM, BMC, ASG, dan CA/Broadcom.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Dengan kehadiran Bukit Algoritma sebagai ekosistem inovasi, boleh jadi robotik zJOS-XDI© bakal mendapat dukungan komunitas untuk bisa berkembang di pasar dalam dan luar negeri.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here