Pasar premium buah-buahan dan sayuran meningkat 130 – 150%.
Ilustrasi pasar buah-buahan dan sayuran. Gambar oleh stokpic dari Pixabay.

Pasar premium buah-buahan dan sayuran meningkat 130 – 150% pada masa pandemi Covid-19, yaitu di ritel modern di Indonesia.

“Permintaan meningkat terus, minimal 130 – 150% setiap bulan. Sampai hari ini juga mengalami peningkatan yang signifikan,” kata Feri Rahman Saputra.

Hal itu disampaikan Deputi GM Merchandising Division PT AEON Indonesia, perusahaan retail modern, itu pada webinar yang dilaksanakan Majalah Agribisnis AGRINA, Rabu, 14 Juli 2021, dengan tema, Horticulture Business: Key to Penetrate Premium Market.

Webinar dengan moderator Windi Listianingsih, Pemimpin Redaksi Majalah AGRINA, itu menghadirkan pembicara berikut ini:

  • Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Ketua Dewan Redaksi Majalah AGRINA, yang menyampaikan Opening Speech tentang pasar dan perhatian pemerintah terhadap agribisnis hortikultura di Indonesia.
  • Manuel Madani, Priva SE Asia, Breakthrough in Greenhouse Produce.
  • Friso Klok, Area Sales Manager Rijk Zwaan, Seed Innovation to Produce Premium Quality of Fruits and Vegetables.
  • Welly Soegiono, Director PT Great Giant Foods, Sharing Experience and Horticulture Business Tips for Export.
  • Feri Rahman Saputra, Deputy GM Merchandising Division PT AEON Indonesia, Entry Requirements to Premium Market (Retail Modern).

Nah, perlu diketahui, agribisnis hortikultura ini terdiri atas empat kelompok, yaitu:

  1. Agribisnis buah-buahan seperti alpukat, anggur, buah naga, nenas, duku, durian, jambu biji, jeruk, lengkeng, mangga, pepaya, pisang, stroberi, semangka, dan melon.
  2. Agribisnis sayuran seperti asparagus, brokoli, bawang merah, bawang putih, bayam, cabai, kangkung, kentang, kubis, labu siam, paprika, paria, petsai, dan waluh (labu kuning).
  3. Agribisnis tanaman obat seperti akar kucing, bangle, jahe, kunyit, jawer kotok, kapulaga, kemangi, kencur, lempuyang, lengkuas, lidah buaya, selasih, temulawak, dan sambiloto.
  4. Agribisnis tanaman hias seperti alamanda, anggrek, anyelir, bambu hias, bambu kuning, beringin, cemara, bunga kertas, kamboja jepang, kastuba, mawar, melati, dan palm.

Mengisi pasar premium hortikultura

Menurut Bungaran Saragih, perkembangan pasar produk-produk hortikultura di Indonesia bukan hanya karena pendemi Covid-19 tetapi juga karena masyarakat kian sadar makanan yang bergizi.

Sebagaimana kita ketahui, buah-buahan dan sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral yang dapat meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh dan kesehatan pada umumnya.

Yang menarik juga, kata pakar agribisnis itu, perkembangan pasar tersebut diikuti dengan terbentuknya segmentasi pasar. Misalnya buah-buahan dan sayuran untuk pasar premium.

Segmentasi pasar tersebut tidak terlepas dari peningkatan daya beli masyarakat. Berdirinya ritel modern yang menjual buah-buahan dan sayuran turut membentuk segmen pasar premium.

“Di masa mendatang, premium market ini akan semakin besar,” kata Bungaran dalam pengantar webinar. Di China juga, tambahnya, arahnya juga ke pasar premium hortikultura.

Pasar premium ini di mulai di kota-kota besar seperti di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) untuk di Indonesia.

Pasar premium di Jabodetabek ini lebih besar dari pasar di Australia atau lebih besar dari gabungan pasar di Singapura dan Malaysia.

Selain di Jabodetabek, ada juga peluang pasar premium hortikultura di Surabaya (Jawa Timur) dan Medan (Sumatra Utara).

“Oleh karena itu, dari segi development, bagaimana kita memanfaatkan pasar premium yang ada di halaman kita,” tambah guru besar emeritus agribisnis IPB University itu.

Tentu saja pasar premium hortikultura ini masih dinamis. Selain pertambahan kuantitas, tentu juga tuntutan kualitas.

Untuk ekspor nenas kaleng Indonesia, pihak luar negeri meminta 20 sertifikasi.
Ilustrasi buah nanas. Gambar oleh Joseph Mucira dari Pixabay.

“Bisnis itu harus mengerti customer-nya. Customer menuntut yang lebih segar, lebih sehat, dan harga yang kompetitif,” tambah Ketua Dewan Redaksi Majalah Agribisnis AGRINA itu.

Perhatian pemerintah terhadap hortikultura

Dulu, kita banyak memberikan perhatian terhadap padi dan beras untuk pangan. Kemudian memberikan perhatian terhadap perkebunan seperti sawit untuk meningkatkan devisa ekspor.

Namun, dengan beberapa kejadian terhadap produk pertanian seperti menurunnya pasar ekspor sawit, kita perlu memberi perhatian terhadap hortikultura di samping peternakan dan perikanan.

Sebenarnya, di dalam negeri, kata Bungaran, perkembangan pasar produk-produk hortikultara berupa buah-buahan, sayuran, tanaman obat, dan tanaman hias cukup pesat.

Tetapi, “Bidang hortikultura mendapat perhatian yang sangat sedikit, baik dari pemerintah maupun dunia usaha. Barangkali karena itu dianggap bisnis yang kecil dan tidak strategis pada saat itu,” kata Menteri Pertanian periode 2000 – 2004 itu.

Memang jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) relatif kecil. Pada 2019, atas harga berlaku, PDB Subsektor Hortikultura sekitar Rp 239 triliun atau 16% dari PDB Sektor Pertanian.

Tetapi, melihat perkembangan pasar hortikultura sekarang ini, baik di dalam negeri maupun pasar ekspor, kita perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap Subsektor Hortikultura ini.

Jangan sampai, pasar premium yang besar terutama untuk buah-buahan, justru diisi oleh produk-produk dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Jika ini yang terjadi, justru nilai tambahnya banyak dinikmati petani hortikultura di luar negeri, bukan dinikmati petani di Indonesia.

Pasar hortikultura yang tumbuh alami di Indonesia

Karena itulah Bungaran menyarankan untuk memberikan perhatian terhadap produk-produk hortikultura yang sudah tumbuh alami di Indonesia dengan pasar yang besar di dalam dan luar negeri. Misalnya pisang, nanas, jeruk, melon, salak, dan manggis.

Karena itulah Welly Soegiono, Direktur PT Great Giant Foods (GGF), yang antara lain memasarkan nanas (kaleng) di dalam dan luar negeri, meminta bimbingan pemerintah, terutama untuk pasar ekspor.

“Kita harus membuat roadmap kebijakan hortikultura, meningkatkan ekspor hortikultura secara instan, yakni dengan membentuk tim perunding yang tangguh dan membuka pasar baru,” katanya.

Welly memberikan contoh. Untuk masuk ke pasar ekspor, mereka diminta untuk mengantongi 20 sertifikasi.

Selain itu, produsen pisang Cavendish Sunpride, itu juga mengalami diskriminasi untuk bea masuk ke pasar dunia.

Bagi Welly, persyaratan 20 sertifikasi itu justru mendorong GGF untuk meningkatkan kualitas produk.

“Untuk mendapatkan itu kami diaudit, sehingga apa yang kami kerjakan harus menerapkan segala sesuatu sesuai persyaratan yang ditentukan untuk mendapatkan sertifikat itu,” katanya.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

“Nah pertanyaan yang sama, apakah buah yang masuk ke Indonesia juga harus memenuhi 20 sertifikasi,” tanya Welly.

Perlakuan yang sama memang diperlukan terhadap produk-produk hortikultura impor agar besarnya pasar premium di Indonesia tidak didominasi oleh produk-produk hortikultura impor.

Bungaran meyakini, pasar premium produk-produk hortikultura di Indonesia kian besar. Untuk itulah perlu perhatian besar pemerintah terhadap pengembangan bisnis hortikultura di Indonesia.

Penulis: Andre Indratama | Email: konten.agrikan@gmail.com

Editor: Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Diperbarui terakhir, Sabtu, 24 Juli 2021.