budidaya padi berkelanjutan dengan AWD
Ilustrasi. Tanaman padi di sawah.

AGRIKAN.ID – Rize, perusahaan agritech terkemuka di Asia Tenggara yang berfokus pada budidaya padi berkelanjutan, Kamis, 16 Juli 2026, mengumumkan penutupan putaran pendanaan Seri B senilai USD 31 juta yang terdiri dari USD 20 juta dalam bentuk ekuitas dan USD 11 juta dalam bentuk pembiayaan utang.

Putaran pendanaan tersebut melibatkan koalisi investor yang berfokus pada iklim dan pembiayaan pembangunan untuk memperluas model bisnis Rize di Indonesia, Vietnam, dan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Lihat juga: 3 Fase pertumbuhan tanaman padi

Pendanaan ekuitas dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts, dengan partisipasi The Rockefeller Foundation. Temasek dan Breakthrough Energy Ventures, yang merupakan investor Rize sebelumnya, juga memberikan investasi lanjutan. Sementara itu, pembiayaan utang difasilitasi oleh BIDV, Temasek Foundation, dan UOB.

Putaran tersebut menjadikan total pendanaan Rize hingga saat ini mencapai USD 47 juta atau sekitar Rp 849 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk perluasan ekspor, pengembangan alat berbasis AI (Artificial Intelligence) bagi petani dan tim lapangan, inisiatif karbon dan inovasi, serta pertumbuhan organisasi.

Pengunaan putaran pendanaan Seri B

Putaran pendanaan Seri B akan digunakan, pertama, memperkuat akses ke pasar ekspor, yang didukung oleh sistem penelusuran di seluruh rantai nilai, sehingga beras rendah emisi dapat dipasarkan dengan harga terjangkau.

Kedua, memperluas penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) dan kepatuhan terhadap Maximum Residue Limit (MRL), sehingga praktik pertanian yang mengurangi emisi dan meningkatkan pendapatan, dapat dijangkau oleh lebih banyak petani dengan lebih cepat.

Langkah tersebut juga akan memastikan lebih banyak beras Rize memenuhi standar keamanan dan residu yang ditetapkan oleh pasar ekspor.

Ketiga, memperkuat inovasi dan praktik pertanian modern, mendorong hasil panen yang lebih tinggi, emisi yang lebih rendah, dan hasil panen yang lebih baik bagi petani.

Keempat, memperluas jangkauan ke pasar-pasar baru lintas batas, mengembangkan jejak Rize melampaui Indonesia dan Vietnam, serta menjajaki peluang di pasar-pasar lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Lihat juga: 22 Varietas padi unggul toleran kekeringan

Kelima, membuka platform bagi mitra ekosistem baru, sehingga para pelaku bisnis input dan jasa serta penyedia teknologi pertanian dapat mengakses jaringan petani Rize dan membantu petani menanam lebih banyak dan lebih baik.

Dengan penggunaan pendanaan tersebut diharapkan bisa memperluas dampak Rize ke lebih dari 300.000 hektar lahan dan mendukung lebih dari 150.000 petani kecil hingga 2030, sekaligus memperkuat sistem pertanian agar tangguh dalam menghadapi perubahan iklim di seluruh Asia Tenggara.

Dalam dua tahun terakhir, sejak pendanaan Seri A, Rize telah bertumbuh sepuluh kali lipat dan kini menjangkau 17.000 petani di lebih dari 50.000 hektare lahan pertanian di Indonesia dan Vietnam. Rize juga telah mengekspor 1.500 ton beras rendah emisi ke Eropa, Kanada, Australia, dan Singapura.

Rize mendorong praktik budidaya padi berkelanjutan

Budidaya padi menyumbang sekitar 12% emisi metana global, jejak iklim yang setara dengan seluruh industri penerbangan. Untuk mengatasi masalah ini dalam skala besar, diperlukan perubahan praktik pertanian bagi jutaan petani kecil.

Rize mendorong perubahan tersebut melalui penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD), sebuah metode irigasi yang direkomendasikan oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR), yang dapat mengurangi emisi metana hingga 50%, menghemat penggunaan air sebesar 20–30%, dan meningkatkan pendapatan petani hingga 30% tanpa menurunkan hasil panen.

Rize juga berupaya memastikan beras yang dihasilkan memenuhi standar Batas Maksimum Residu (MRL) yang dipersyaratkan oleh pasar ekspor premium.

Rize didirikan pada akhir 2022 berkat visi bersama antara Temasek, 100×100, dan Breakthrough Energy Ventures, dengan 100×100 memainkan peran penting dalam tahap awal pengembangan perusahaan.

Lihat juga: Mengembangkan SuperSUN irigasi padi

Saat ini, Rize yang berkantor pusat di Singapura, didukung oleh tim yang terdiri dari 250 orang di bidang teknologi, agronomi, dan operasional lapangan.

Pengurangan emisi yang dilakukan Rize telah diverifikasi secara independen. Proyek Produksi Padi Berkelanjutan di Asia Tenggara dan Asia Selatan milik perusahaan ini telah memperoleh peringkat ex ante ‘A.pre’ dari BeZero Carbon yang menunjukkan risiko pelaksanaan proyek yang rendah.

Peringkat tersebut juga mencerminkan kemungkinan tinggi bahwa kredit karbon yang diterbitkan di masa mendatang akan benar-benar mewakili pengurangan atau penghilangan satu ton CO₂e (karbon dioksida ekuivalen).

Tolok ukur BeZero menunjukkan bahwa peringkat A yang setara menempatkan proyek ini dalam 30% teratas dari peringkat proyek Tanah Karbon & Pertanian global ex post, dan di dalam 11% teratas dari peringkat Solusi Berbasis Alam global ex post.

Proyek ini juga sedang menjalani proses sertifikasi Gold Standard, yang diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari satu juta kredit karbon dalam lima tahun ke depan. Beras rendah emisi ini sepenuhnya dapat dilacak hingga ke tingkat lahan.

Transformasi budidaya padi petani kecil

Pendanaan tersebut di atas merupakan momen yang sangat istimewa bagi Rize.

Platform dan pendekatan kami dalam mentransformasi serta memodernisasi budidaya padi oleh petani kecil mendapat sambutan hangat dari semua pihak—para investor, mitra, dan petani,” kata Dhruv Sawhney, Co-Founder & CEO Rize dalam siaran pers Rize, Kamis, 16 Juli 2026.

“Tim Rize telah berhasil menempatkan dampak iklim dan peningkatan ketahanan petani sebagai bagian inti dari solusi dan model bisnis kami,” katanya.

“Investasi ini akan membuka fase pertumbuhan berikutnya, dengan memperluas skala operasi, memperkuat akses ke pasar dan ekspor, serta berinvestasi dalam teknologi mutakhir untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan hasil yang lebih baik di seluruh rantai nilai,” katanya.

Lihat juga: Program elektrifikasi pertanian padi

“Kesuksesan ini lebih dari sekadar pencapaian penting dalam hal pendanaan. Hal ini merupakan pengakuan atas fondasi yang telah kami bangun, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kami siap menciptakan sistem pangan yang lebih terhubung, tangguh, dan berkelanjutan bagi para petani kecil,” ungkap Dhruv Sawhney.

“Kami melihat investasi di Rize sebagai wujud keyakinan bahwa penyaluran modal kepada platform berkelanjutan yang mampu menciptakan dampak besar, khususnya di pasar yang belum terlayani secara optimal, dapat menghasilkan manfaat lingkungan yang nyata dan terukur dalam menghadapi tantangan iklim,” ujar Alexandre Martin-Min, Head of Natural Capital & Impact Investments, BNP Paribas Asset Management Alts.

“Rize telah memposisikan dirinya di titik temu antara pertanian berkelanjutan, pembiayaan karbon, dan perdagangan komoditas terverifikasi. Hal ini sangat selaras dengan strategi kami untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem alam secara berkelanjutan sekaligus memberikan imbal hasil finansial yang kompetitif bagi para investor,” katanya.

Tantangan petani kecil di seluruh Asia

“Petani kecil di seluruh Asia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan sumber daya dan akses terhadap pembiayaan hingga ketidakpastian akses pasar,”  kata Slav Gatchev, Vice President of Innovative Finance at The Rockefeller Foundation.

“Kondisi ini dapat menekan hasil pertanian dan mengurangi kesejahteraan petani. Kami bangga dapat mendukung upaya Rize dalam mendorong penerapan praktik regeneratif berbasis teknologi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatan para petani yang paling membutuhkan dukungan,” kata Slav Gatchev.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Artikel ini bisa juga diakses di majalaheditor.com.