sapi perah Grati, produksi susunya tinggi
Evi Zainal Abidin, peternak sapi perah Grati, pada seminar Hanter IPB di Ildex Indonesia 2026.

AGRIKAN.ID – Sapi perah Grati tampak tenang di ICE BSD City, Tangerang, Banten, yang berada pada ketinggian sekitar 100 mdpl. Sapi perah dari Kebupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu sengaja didatangkan di arena Ildex Indonesia 2026, 16-18 September 2026.

Sapi perah Grati yang ditampilkan ada tiga ekor, yaitu yang berumur 16 bulan, 18 bulan, dan 21 bulan. “Yang berumur 21 bulan itu sudah bunting 6 bulan,” kata Evi Zainal Abidin, peternak sapi perah Grati (Pasuruan), pada seminar yang diselenggarakan Himpunan Alumni Fakultas Peternakan (Hanter) IPB di ICE BSD City, Jumat, 18 September 2026.

Lihat juga: Grup Djarum bangun industri susu di Brebes

“Ketika datang ke sini dengan kondisi panas, (sapi perah Grati) tidak terengah-tengah. Tidak menunjukkan (bahwa sapi perah Grati itu) mengalami heat stress (cekaman panas),” kata Iyep Komala, Dosen Divisi Ternak Perah Teknologi Produksi Ternak, Fakultas Peternakan IPB pada seminar bertema “Strategi Adaptasi Sapi Perah terhadap El Nino Ekstrem untuk Mempertahankan Produktivitas dan Efisiensi Produksi” itu.

Menurut Iyep, bulu sapi perah Grati itu tipis. Hampir menempel di kulit. Tidak bisa dicabut seperti sapi biasa. Warna kulitnya terang mengilat. Hal itu membuat sapi Grati tahan panas. “Yang kulit terang tidak stres dibanding yang kulit gelap. Kulit gelap itu menyerap cahaya. Paling utama itu warna kulit. Bukan bulunya,” kata Sekjen Hanter itu.

“Saya ingin menyampaikan di sini, ada sapi Grati yang sudah puluhan tahun di sana (Grati, Pasuruan). Sapi Grati ini bisa dijadikan kandidat sebagai sapi tropis yang tahan panas yang bisa kita kembangkan ke depan. Tidak rewel pakan. Produksi susunya, laktasi kedua 35 liter per hari. Kita perlu riset dan pengembangan lebih lanjut,” katanya.

Sapi perah Grati dideklarasikan Pemerintah Hindia Belanda

Evi Zainal nekad membawa sapi perah Grati ke pameran Ildex Indonesia 2026 atas undangan Ruri Surasono, Direktur Permata Kreasi Media (pelaksana Ildex) dan Iyep.

“Tapi inilah kemudian menjadi awalan. Kalau sapi-sapi lain (sapi perah impor) harus pakai fan atau blower yang besar sehingga semuanya terkondisikan. Sapi perah Grati di Tangerang ini, yang ketinggiannya mungkin 100 mdpl, dan cuaca kalau dicek di atas 30 derajat C, benar-benar tenang. Rileks seperti tidak ada apa-apa,” kata Evi Zainal.

“Menjelang keberangkatan kami ke sini (Ildex), kami sempat berdiskusi dengan ilmuwan asing. Mereka mengatakan, inilah sebenarnya Girolando-nya Indonesia. Mereka kaget. Kok, Indonesia juga punya,” kata Evi Zainal, yang juga peternak generasi ke-4 di Grati.

Lihat juga: Memahami istilah susu mentah dan segar

Girolando merupakan sapi perah tropis asal Brazil. Sapi tersebut hasil pesilangan sapi jantan jenis Gir (zebu dari India) dan sapi betina Friesian Holstein (FH) dari Eropa. Indonesia memang berencana untuk mengimpor sapi perah tropis Girolando itu.

Sebagai peternak, tentu Evi Zainal mendukung impor. Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur itu juga impor sapi dari Tasmania, Australia, hasil persilangan FH dan Jersey. “Yang membikin kami terkejut, kalau dari postur, kalau tidak diinformasikan, pasti yang datang tidak bisa membedakan, sapi Grati dan sapi dari Tasmania,” katanya.

sapi perah Grati, ternak tropis Indonesia
Sapi perah Grati di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

“Mungkin ada yang penasaran. Kenyataannya sapi Grati itu sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Bahkan secara resminya sudah dideklarasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1891. Inilah yang harus kita jaga. Karena inilah salah satu sumber kekayaan genetik sapi perah Indonesia, khususnya untuk di dataran rendah,” katanya.

Pada tahun 1930-an, ada upaya pemuliaan kembali sapi Grati, dengan mendatangkan sejumlah bull (sapi jantan dewasa yang belum dikebiri) dari Australia. Dengan dukungan JICA (Japan International Cooperation Agency), 1990-an juga ada upaya pemuliaan sapi perah Grati. “Tapi upaya ini tidak rampung karena krisis ekonomi 1998,” kata Evi Zainal.

Persilang sapi subtropis dan tropis

Secara teori, pesilangan sapi subtropis (misalnya FH) dan tropis (misalnya sapi Jawa), menurut Prof. Idat Galih Permana, bisa menghasilkan sapi-sapi yang adaptif terhadap kondisi lingkungan. Misalnya di Malaysia. “Mereka tidak menggunakan FH murni, tapi FH persilangan sapi tropis. Itu kira-kira 25% sapi tropis dan 75% sapi FH. Bentuk belang macam-macam. Tidak selalu putih hitam,” kata Dekan Fakultas Peternakan IPB itu.

Nah, “Keberadaan sapi Grati ini barangkali yang perlu kita clear-kan adalah berapa persen darah sapi tropisnya (sapi Jawa) dan berapa sapi FH-nya, sehingga nanti dari Komisi Bibit bisa menetapkan apakah (sapi Grati) ini baru atau ini hanya varian dari hasil persilangan-persilangan,” kata Prof. Idat, dalam seminar yang diselenggarakan Hanter itu.

Lihat juga: 8 Jenis dan nama susu di label pangan

Di Brazil, menurut Prof. Idat, persilangan sapinya terkontrol. Sementara di Indonesia, peternak pun bisa melakukan persilangan. “Kenapa Brazil punya Girolando? Karena mereka menetapkan sistem persilangan yang terkontrol sehingga membuat ada sapi yang mungkin tidak sebaik FH, tapi lebih adaptasi terhadap lingkungan tropis,” katanya.

Menurut Evi Zainal, dari informasi yang dikumpulkan, persilangan sporadis sapi perah Grati ini sudah terjadi sejak 1840. “Sudah terdokumentasi dengan baik, genetiknya sudah terstabilkan. Jadi, pada saat 1891, secara formal mereka (Pemerintah Hindia Belanda) me-notice sapi Grati (ini) diawali persilangan sporadis, mulai 1840,” jelasnya.

“Sebetulnya, saya sangat mendukung sistem persilangan. Saya mendukung dengan adanya sapi lokal kita, sapi Grati, kalau terkontrol sistem persilangannya. Tetapi hasil persilangannya yang perlu kita detailkan lagi. Kita lihat darahnya. Berapa persen sapi FH dan berapa persen sapi lainnya. PR kita kalau itu sesuatu yang menarik, ” kata Prof. Idat.

Peluncuran sapi perah Grati

Menurut Argi Argiris, Ketua Kelompok Ruminansia Perah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), pihak Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Pasuruan sudah datang ke Kementan. Mereka berkonsultasi untuk meluncurkan sapi perah Grati yang tahan panas itu.

Lihat juga: Bustanul Arifin, bapak peternak sapi perah rakyat

Kalau untuk peluncuran bisa dilakukan. Tetapi, “Kalau untuk proses pelepasan (sapi perah Grati) perlu beberapa tahap untuk dilalui. Perlu dikaji Komisi Bibit sehingga lebih jelas, kita memang punya sumber daya genetik,” kata Argi, dalam seminar Hanter itu.

Dalam seminar itu Evi Zainal sempat berguyon. “Jangan sampai ini kejadian kayak batik. Setelah diklaim Malaysia, baru kita berteriak-teriak. Mari kita jaga sapi Grati,” katanya.

Boleh jadi, setelah dikaji, ternyata sapi perah Grati ini ternak tropis unggulan Indonesia.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com