ekosistem perberasan yang tangguh dan berkelanjutan
Seminar Nasional Rice Resilience Forum 2026 pada Ildex Indonesia 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

AGRIKAN.ID – Ketahanan beras tidak cukup dibangun dengan meningkatkan produksi pada satu musim atau mencapai surplus pada satu tahun. Resiliensi pangan berarti kemampuan seluruh sistem untuk tetap bekerja ketika menghadapi kekeringan, banjir, serangan hama, gangguan logistik, gejolak harga, perubahan konsumsi, maupun krisis dunia.

Hal itu disampaikan Prof. Bungaran Saragih, pakar agribisnis dan Menteri Pertanian 2001-2004, dalam pidato kunci pada seminar Rice Resilience Forum 2026 dengan tema Membangun Ekosistem Perberasan Indonesia yang Berdaya Saing, Tangguh Menghadapi Perubahan Iklim, dan Berkelanjutan, yang dilaksanakan Majalah Agrina pada Ildex Indonesia 2026, Kamis, 17 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

Lihat juga: Fase pertumbuhan tanaman padi

Karena itu, yang harus tangguh, menurut Ketua Dewan Redaksi Majalah Agrina, itu bukan hanya tanaman padinya. Tetapi juga petani, irigasi, benih, pupuk, pestisida, pembiayaan, pengeringan, penggilingan, pergudangan, transportasi, perdagangan, cadangan pemerintah, industri pengolahan, dan daya beli konsumen. Inilah makna sesungguhnya dari ekosistem perberasan.

Modal dan risiko negara tropis dan kepulauan

Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Kita adalah negara tropis dan negara kepulauan terbesar di dunia. Sinar matahari, curah hujan, tanah, biodiversitas, laut, serta berbagai budaya pangan adalah pemberian Tuhan yang tidak dimiliki banyak negara.

Namun, kondisi tropis juga membawa risiko: iklim semakin tidak menentu, organisme pengganggu berkembang sepanjang tahun, dan pengelolaan air menjadi semakin sulit.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi persoalan lain. Produksi dapat surplus di satu wilayah, tetapi masyarakat di pulau lain tetap menghadapi harga tinggi.

Beras tidak hanya harus tersedia secara nasional; beras harus tersedia di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan mutu dan harga yang dapat dijangkau rakyat.

Oleh sebab itu, ketahanan beras harus dibangun sesuai jati diri geografis Indonesia.

Lihat juga: Beras premium langka di ritel modern

Kita memerlukan sistem produksi berbasis ekologi setempat, tetapi dihubungkan oleh jaringan logistik antarpulau yang efisien. Kita memerlukan desentralisasi pelaksanaan, tetapi tetap berada dalam satu arah dan satu sistem informasi nasional.

Pengalaman Indonesia pada awal pemulihan dari krisis 1998 memberi pelajaran penting.

Pada tahun 2001, pemerintah membangun Dewan Ketahanan Pangan: di tingkat nasional diketuai Presiden, dengan Menteri Pertanian sebagai ketua harian; di provinsi, kabupaten, dan kota diketuai langsung oleh kepala daerah. Sekitar 80 persen anggaran pembangunan pertanian disalurkan ke daerah, sedangkan pusat memberikan arah, standardisasi, informasi, dan asistensi.

Pendekatan tersebut membantu Indonesia keluar dari krisis pangan yang serius.

Pelajarannya masih relevan: pangan dihasilkan di daerah, oleh petani, dengan sumber daya dan persoalan yang berbeda-beda.

Karena itu, pelaksanaan tidak boleh terlalu tersentralisasi. Namun, desentralisasi tanpa arah, data, dan koordinasi nasional juga akan melahirkan fragmentasi. Kita memerlukan kepemimpinan yang berjenjang: kuat secara nasional, nyata di daerah, dan hidup di tingkat petani.

Petani tidak hidup dari angka produksi

Selama ini perhatian kebijakan pemerintah sering berhenti pada sisi produksi. Produksi tentu sangat penting. Kita harus meningkatkan produktivitas melalui benih unggul, kesehatan tanah, pemupukan yang tepat, mekanisasi, irigasi cerdas, pengendalian hama, digitalisasi, dan penguatan penyuluhan.

Namun, petani tidak hidup dari angka produksi. Petani hidup dari pendapatan. Produktivitas yang naik tetapi harga jatuh belum tentu menyejahterakan petani. Sebaliknya, harga yang tinggi akibat kelangkaan juga menyengsarakan konsumen.

Karena itu, menurut Bungaran Saragih, ukuran keberhasilan perberasan harus mencakup sekurang-kurangnya tiga hal: ketersediaan beras, keterjangkauan bagi konsumen, dan pendapatan yang layak bagi petani.

Lihat juga: Mutu gabah dan rendemen penggilingan

Di sinilah pengeringan, penggilingan, pergudangan, pembiayaan, informasi pasar, dan industri pangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha tani.

Kehilangan hasil dan penurunan mutu setelah panen sama artinya dengan membiarkan sebagian sawah kita tidak menghasilkan. Modernisasi pascapanen bukan pelengkap; ia merupakan sumber pertumbuhan baru bagi perberasan.

Petani kecil juga tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Mereka perlu berkonsolidasi melalui koperasi profesional, kelompok usaha, kemitraan yang adil, atau bentuk kelembagaan lain yang sesuai dengan keadaan lokal.

Konsolidasi bukan mengambil alih tanah petani. Konsolidasi berarti menyatukan skala pelayanan: pembelian input, penggunaan mesin, pembiayaan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, pemasaran, dan pengelolaan risiko.

Ketergantungan ganda: beras dan gandum

Kita juga, menurut Bungaran Saragih, harus melihat sisi permintaan. Konsumsi beras per kapita Indonesia masih relatif tinggi. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu bahan pangan membuat sistem kita lebih rentan.

Tetapi diversifikasi pangan tidak boleh dimaknai sebagai meninggalkan beras. Diversifikasi berarti memperbesar pilihan pangan rakyat dan mengurangi risiko nasional.

Data sejak 2019 memberi gambaran yang sangat jelas. Selama beberapa tahun produksi beras Indonesia relatif mendatar pada kisaran 31 juta ton. Ketika produksi turun menjadi sekitar 30,6 juta ton pada 2024, impor beras melonjak menjadi sekitar 4,5 juta ton. Ketika produksi pulih menjadi sekitar 34,7 juta ton pada 2025, impor beras turun tajam menjadi sekitar 450 ribu ton.

Lihat juga: Persyaratan mutu beras

Hal tersebut menunjukkan bahwa penguatan produksi domestik sangat menentukan kemampuan kita menekan impor beras. Akan tetapi, pada periode yang sama Indonesia tetap mengimpor gandum sekitar 10 sampai 12 juta ton setiap tahun. Jumlah itu secara volume kira-kira setara dengan sepertiga produksi beras nasional.

Gandum bukan pengganti langsung beras. Gandum telah membentuk sistem konsumsi dan industrinya sendiri melalui mi, roti, biskuit, usaha kuliner, makanan olahan, dan sebagian pakan. Karena itu, ketika produksi beras membaik, kebutuhan gandum tidak otomatis hilang.

Pada 2024 bahkan terjadi ketergantungan ganda: produksi beras turun sehingga impor beras meningkat, sementara impor gandum juga mencapai sekitar 12 juta ton. Inilah alasan mengapa kita harus membedakan secara tegas antara swasembada beras dan resiliensi pangan.

Membangun diversifikasi pangan

Swasembada beras adalah fondasi yang sangat penting. Namun, resiliensi pangan baru tercapai apabila keseluruhan sistem juga tangguh.

Beras menghadapi risiko air, iklim, produktivitas, dan distribusi antarpulau. Gandum menghadapi risiko kurs, harga dunia, konflik geopolitik, pelabuhan, dan pelayaran. Bila kekeringan menekan produksi beras, pada saat konflik dunia menaikkan harga gandum. Kedua tekanan ini akan bertemu pada satu tempat: daya beli rakyat Indonesia.

Oleh sebab itu, menurut Bungaran Saragih, kita memerlukan neraca pangan nasional terpadu.

Neraca tersebut tidak boleh hanya memuat beras, tetapi juga gandum, jagung, kedelai, gula, bahan pakan, protein hewani, ikan, dan pangan lokal. Ia harus memuat produksi, stok pemerintah, stok industri, kebutuhan, kontrak impor, distribusi wilayah, risiko iklim, serta risiko logistik. Tanpa data yang terbuka dan konsisten, kebijakan mudah terlambat atau salah arah.

Lihat juga: 22 Varietas padi unggul toleran kekeringan

Kita juga, menurut Bungaran Saragih, perlu membangun diversifikasi dari sisi industri. Sagu, singkong, sorgum, jagung, pisang, dan umbi tropis tidak akan menjadi pilihan utama hanya melalui imbauan. Semuanya membutuhkan ilmu dan teknologi pangan, standardisasi mutu, produktivitas bahan baku, fasilitas pengeringan, industri tepung, pembiayaan, distribusi, pengadaan pemerintah, dan pembentukan budaya makan.

Kita tidak perlu memusuhi gandum atau merusak industri yang telah menyediakan produk, pekerjaan, dan jaringan usaha. Yang kita perlukan adalah mengelola ketergantungan secara cerdas sambil membangun industri pangan tropis.

Salah satu jalan yang realistis ialah mengembangkan tepung komposit secara bertahap pada produk yang secara teknis memungkinkan. Dengan demikian, diversifikasi tidak menjadi slogan, tetapi menciptakan pasar bagi petani, inovasi bagi industri, dan ketangguhan bagi bangsa.

Dalam ekosistem perberasan, BULOG menstabilkan pasar

Dalam ekosistem perberasan, BULOG mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyangga kelembagaan. BULOG harus mampu menyerap gabah atau beras petani ketika diperlukan, mengelola cadangan pemerintah dengan baik, menjaga mutu stok, dan melakukan intervensi secara terukur ketika pasokan atau harga terganggu.

BULOG harus cukup kuat untuk menstabilkan pasar, tetapi tidak mengambil alih pasar. Ia tidak seharusnya menggantikan pedagang, koperasi, penggilingan, dan pelaku usaha yang bekerja secara sehat.

Lihat juga: BULOG gelontorkan beras SPHP medium

Peran terbaik BULOG adalah mencegah pasar jatuh ke dalam dua ekstrem: harga terlalu rendah yang merugikan petani, atau harga terlalu tinggi yang memberatkan konsumen.

Agar tugas tersebut efektif, menurut Bungaran Saragih, keputusan pengadaan, pelepasan stok, dan distribusi harus didasarkan pada data produksi dan konsumsi yang akurat. Gudang dan cadangan juga perlu dirancang mengikuti karakter negara kepulauan.

Cadangan yang hanya besar secara nasional tetapi berada jauh dari daerah yang membutuhkan belum sepenuhnya merupakan cadangan yang tangguh.

Menawarkan delapan agenda

Dari pemaparan tersebut di atas, Bungaran Saragih menawarkan delapan agenda.

Pertama, mengubah orientasi dari sekadar peningkatan produksi menuju peningkatan resiliensi dan kesejahteraan petani.

Kedua, membangun neraca beras yang terhubung dengan neraca air, iklim, stok, konsumsi, dan logistik wilayah.

Ketiga, mempercepat modernisasi pascapanen, pengeringan, penggilingan, pergudangan, serta industri pengolahan.

Keempat, memperkuat kelembagaan ekonomi petani agar mampu mencapai skala pelayanan yang efisien dan memperoleh bagian nilai tambah yang adil.

Kelima, menata logistik antarpulau dan cadangan pangan secara tersebar sesuai pusat produksi dan wilayah rawan.

Keenam, memperkuat BULOG sebagai penstabil yang profesional, transparan, dan terukur, tanpa mematikan peran pasar yang sehat.

Ketujuh, mengembangkan diversifikasi pangan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi pangan, industri, dan budaya konsumsi, bukan hanya kampanye.

Kedelapan, menghidupkan kembali koordinasi ketahanan pangan yang berjenjang dari Presiden sampai kepala daerah, dengan pembagian kewenangan, data, dan ukuran keberhasilan yang jelas.

Seluruh agenda tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar: Sistem Agro-Industri Nasional untuk Negara Tropis Kepulauan.

Perberasan harus tersambung dengan industri input, riset, budidaya, pembiayaan, energi, pengolahan, perdagangan, logistik, konsumsi, gizi, dan pengelolaan lingkungan.

Dengan demikian, kita tidak hanya membangun sawah yang produktif, tetapi juga membangun bangsa yang tangguh.

Tahun 2045, mewariskan tanah yang tetap subur

Pada tahun 2045, Indonesia akan memperingati satu abad kemerdekaannya. Tugas kita bukan hanya mewariskan jumlah produksi yang lebih besar. Kita harus mewariskan tanah yang tetap subur, air yang terjaga, petani yang sejahtera, industri yang inovatif, kelembagaan yang dipercaya, dan sistem pangan yang mampu menghadapi krisis.

Ketahanan pangan adalah bagian dari martabat dan pertahanan bangsa. Bangsa yang tidak mampu menjamin pangan rakyatnya akan mudah diguncang oleh perubahan iklim, pasar, dan politik dunia.

Sebaliknya, bangsa yang mampu mengelola kekayaan tropisnya secara cerdas, adil, dan berkelanjutan akan berdiri tegak serta memberi sumbangan bagi dunia.

Lihat juga: Rize dorong budidaya padi berkelanjutan

Untuk itulah, menurut Bungaran Saragih, marilah kita menjadikan Rice Resilience Forum ini bukan hanya tempat bertukar pikiran, tetapi titik awal memperkuat kerja bersama. Pemerintah, petani, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan masyarakat harus bekerja keras, bekerja sama, dan bekerja cerdas.

Swasembada beras adalah fondasi penting. Namun, resiliensi pangan hanya tercapai apabila seluruh sistem, yaitu produksi, pengolahan, perdagangan, logistik, konsumsi, gizi, dan ekologi, juga tangguh.

Dengan semangat itulah, kata Bungaran Saragih, kita membangun perberasan Indonesia: berdaya saing, menyejahterakan petani, terjangkau bagi rakyat, tangguh menghadapi perubahan iklim, serta berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Artikel ini bisa juga diakses di majalaheditor.com.