Lele salah satu ikan yang ekonomis.
Ikan lele di kolam. Sumber: Dokumentasi Agrikan.

Karakteristik ekonomi lele dapat dilihat dari enam komponen berikut ini:

  1. Rata-rata laju pertumbuhan harian (average daily gain, ADG)
  2. Efisiensi pakan (feed conversion ratio, FCR)
  3. Kelulushidupan atau kelangsungan hidup atau sintasan (survival rate, SR)
  4. Kuantitas daging
  5. Kualitas daging
  6. Keseragaman ukuran

Rata-rata laju pertumbuhan harian

Di sini yang diperhatikan rata-rata laju pertumbuhan harian lele.

Semakin cepat  laju pertumbuhan harian lele, kian cepat waktu yang diperlukan untuk membesarkan lele sampai ukuran 8-10 ekor per kg.

Laju pertumbuhan harian ini diukur dari pertambahan biomassa atau bobot lele rata-rata per hari selama masa budidaya.

Efisiensi pakan

Biaya pakan sekitar 70-80% dari total biaya produksi lele. Semakin rendah bobot pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan bobot satu kilogram lele berarti makin efisien penggunaan pakan.

Pada umumnya FCR, yang merupakan rasio kebutuhan pakan untuk menghasilkan bobot satu kilogram lele, sekitar 1 – 1,1.

Dengan teknologi bioflok, FCR pada pembesaran lele dapat ditekan menjadi sekitar 0,7. Maksudnya, untuk menghasilkan satu kilogram ikan lele diperlukan pakan sekitar 0,7 kg.

Sintasan

Sintasan merupakan persentase jumlah lele yang dipanen selama masa budidaya.

Misalnya, pada pembesaran ditebar lele ukuran 7-9 cm sebanyak 1.000 ekor. Pada saat dipanen pada ukuran 8-10 ekor per kg, jumlah yang dipanen hanya sekitar 850 ekor.

Berarti sintasannya adalah 85%. Sisanya, 15%, mati karena terserang penyakit, stres, lingkungan yang kurang baik dan sebagainya.

Kuantitas daging

Kuantitas daging mencerminkan bagian daging lele yang dapat dimakan.

Komposisi lele dumbo.

Semakin tinggi persentase daging lele yang dihasilkan per ekor maka kian tinggi bagian daging yang dapat dimakan.

Dari Tabel “Komposisi Lele Dumbo”, terlihat bahwa bagian lele yang dapat dimakan sekitar 41,88%, yaitu daging putih, daging merah, dan kulit.

Jika Anda membeli satu kilogram lele, sebenarnya bagian yang dapat dimakan hanya sekitar 418,8 gram.

Kualitas daging

Selain rasanya gurih, kualitas daging lele juga terlihat dari kandungan gizinya.

Menurut Murniyati dkk (2013), lele mengandung protein 18,70%, lemak 1,1%, karbohidrat 0,3%, kalsium 15 mg, fosfor 260 mg, Fe 2 mg, natrium 150 mg, thiamin (vitamin B1) 0,1 mg, riboflavin (vitamin B2) 0,05 mg dan niasin 2,0 mg.

Keunggulan lele dibanding produk hewani lainnya adalah kaya asam amino leusin dan lisin.

Lele genus Ictalaurus punctatus yang banyak hidup di Amerika Serikat mengandung protein berkadar lisin dan leusin lebih tinggi dari daging sapi.

Leusin merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan.

Selain itu, leusin juga berperan dalam menjaga keseimbangan nitrogen serta merombak dan membentuk protein pada otot.

Susunan asam amino esensial lele.

Lisin, yang merupakan salah satu dari 10 asam amino esensial, sangat diperlukan untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan perkembangan anak.

Asam amino lisin ini juga berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang pada anak, membantu penyerapan kalsium dan menjaga keseimbangan nitrogen dalam tubuh serta memelihara massa tubuh anak agar tidak terlalu berlemak.

Kandungan fosfor lele, yang 260 mg, lebih tinggi dari telur yang sekitar 100 mg. Peran fosfor menempati urutan kedua setelah kalsium. Di dalam tubuh, sekitar 80% fosfor ini berada di tulang.

Fungsi utama fosfor adalah pemberi energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan pati, penunjang kesehatan gigi dan gusi, sintesa deoxyribonucleic acid (DNA) serta penyerapan dan pemakaian kalsium.

Bagi ibu hamil, kebutuhan fosfor jauh lebih tinggi ketimbang ibu yang tidak hamil. Mengapa? Karena ibu hamil memerlukan fosfor lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan tulang janinnya.

Jika asupan fosfor kurang, maka janin akan mengambil fosfor dari tulang sang ibu. Inilah salah satu penyebab tulang keropos pada ibu.

Lele juga mengandung omega-3 dan omega-6, meski kandungannya lebih rendah dari ikan laut seperti makerel, salmon dan kod. Asam lemak tak jenuh ini sangat diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan penyumbatan pembuluh darah.

Pecel lele.
Pecel lele. Sumber: Dokumentasi Majalah AGRINA.

Karena itulah, ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan mengonsumsi lele. Sebab, bayi dengan asupan omega-3 dan omega-6 yang cukup, memiliki tingkat kecerdasan yang relatif lebih tinggi ketimbang bayi yang kurang mendapat asupan omega-3 dan omega-6.

Ada tiga tipe asam lemak omega-3 yaitu α-linolenic acid (ALA), eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA).

ALA banyak terdapat pada tanaman, sedangkan EPA dan DHA terdapat pada ikan, termasuk lele.

DHA sangat penting bagi perkembangan otak dan retina (visual), EPA membantu pembentukan sel-sel darah dan jantung serta melancarkan peredaran darah, sedangkan ALA berperan menghasilkan energi dari makanan yang dikonsumsi.

Keseragaman ukuran

Keseragaman ukuran lele sangat penting. Karena ikan air tawar ini bersifat kanibalisme. Ketika lapar, lele yang lebih besar dapat memangsa lele yang lebih kecil.

Jika keseragamannya tinggi maka peluang terjadinya kanibalisme menjadi rendah.

Referensi:

  1. Amri, Khairul dan Khairuman. 2014. Panen Rupiah dari Budidaya Lele: Teknik Bioflok. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  2. Murniyati; Suryaningrum, Dwi; dan Muljanah, Ijah. 2013. Membuat Filet Lele & Produk Olahannya. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.
  3. Suprapto, NS, Ir. dan Samtafsir, Legisan S., M.Ag. 2013. Biofloc-165: Rahasia Sukses Teknologi Budidaya Lele. Depok, Jawa Barat: Penerbit Agro 165.