Calving interval atau selang kelahiran merupakan rentang waktu dari satu kelahiran sampai kelahiran berikutnya.
Ilustrasi peternakan sapi perah di Bogor, Jawa Barat.

Calving interval (CI) atau selang kelahiran merupakan rentang waktu dari satu kelahiran sampai kelahiran berikutnya.

Untuk sapi perah, biasanya dari bangsa Friesian Holstein (FH), rentang waktu kelahiran yang ideal sekitar 12 – 13 bulan.

Dalam artikel ini dijelaskan langkah-langkah mendapatkan calving interval 12 bulan untuk sapi perah.

Sebagaimana kita ketahui, rata-rata masa bunting sapi perah 278 hari. Jika ingin mendapatkan CI 12 bulan (365 hari), maka masa kosong (days open) maksimal 87 hari sejak sapi melahirkan.

Masa kosong merupakan rentang waktu induk sapi betina sejak beranak hingga bunting kembali.

Jika ingin mendapatkan calving interval sapi perah 12 bulan, maka maksimal 87 hari sejak sapi perah melahirkan harus sudah bunting kembali.

Artikel ini Agrikan.id sadur dari Jurnal Sapi (tertanggal 1 – 5 Juni 2021) yang diterbitkan Dairy Pro Indonesia (yang dikelola drh. Deddy Fakhruddin), yang dikirimkan melalui WhatsApp.

Lima langkah mendapatkan calving interval 12 bulan untuk sapi perah:

  1. Disiplin melakukan periode transisi induk sapi perah.
  2. Memahami prosedur kelahiran yang benar.
  3. Membantu mengatasi masalah kelahiran.
  4. Memberikan suplemen khusus kepada sapi fresh.
  5. Melakukan fresh check 50 – 60 hari pasca kelahiran.

Disiplin melakukan periode transisi induk sapi perah

Transisi merupakan periode sebelum melahirkan. Pada sapi dara, yang belum pernah melahirkan, periode transisi ini sekitar 4 minggu, sedangkan sapi yang pernah melahirkan sekitar 2 minggu.

Pada masa transisi ini, induk sapi perah mengalami beberapa kondisi psikologis:

  1. Nafsu makan mulai berkurang sehingga induk sapi perah kekurangan persediaan energi pada tubuh.
  2. Ukuran ambing bertambah karena sapi perah sedang menyiapkan produk berikutnya, yaitu susu. Untuk itu sapi membutuhkan metabolisme kalsium yang optimal.
  3. Sapi sedang menyiapkan pembentukan kolostrum. Untuk itu sapi membutuhkan protein dan energi tambahan yang cepat dan tepat.
  4. Pedet (anak sapi) sedang menyiapkan posisi lahir yang terbaik, maka sapi harus terhindar dari stres.

Kedisiplinan mempersiapkan masa transisi ini menentukan kelancaran proses sapi melahirkan.

Beberapa hal yang perlu dilakukan selama masa transisi ini:

  1. Berikan vitamin A, D, dan E satu kali untuk menstimulasi hormonal dan antioksidan.
  2. Berikan ekstraboran satu kali untuk mendukung fisiologis organ liver (hati).
  3. Berikan suplemen MagPro dua sendok setiap hari untuk membantu stimulasi kalsium untuk menyiapkan mineral utama dalam fisiologis pembentukan susu dan kolostrum. Selain itu juga untuk mencegah sapi perah ambruk pasca melahirkan.
  4. Menambah pemberian konsentrat menjadi 4 – 5 kg untuk meningkatkan asupan protein dan energi sapi induk sehingga memiliki cukup energi untuk mendorong pedet saat melahirkan.

Memahami prosedur kelahiran yang benar

Prosedur kelahiran yang benar akan menentukan kualitas reproduksi sapi perah berikutnya.

Sebagian besar masalah gangguan reproduksi dimulai dengan prosedur kelahiran yang salah.

Karena itulah, peternak diharapkan memahami dengan benar prosedur kelahiran sapi perah.

Prosedur kelahiran sapi perah yang perlu dipahami peternak:

  1. Sebenarnya, sapi memiliki kemampuan melahirkan normal tanpa bantuan selama sapi diperlakukan dengan benar selama periode transisi.
  2. Sapi melahirkan di tempat yang memungkinkan untuk tidak mendapatkan gangguan yang dapat memicu stres.
  3. Sapi memiliki radar zone dengan diameter tiga kali lipat panjang sapi. Maksudnya begini. Sapi akan terganggu jika ada sesuatu yang mendekat dan masuk dalam radar zone-nya.
  4. Ketika sapi mulai tampak dalam proses melahirkan (ditandai mulai gelisah dan mencari posisi melahirkan), sapi harus dihindarkan dari gangguan, termasuk gangguan manusia.
  5. Tugas peternak mengamati tiga hal berikut ini: (a) Apakah sapi merejan; (b) Apakah posisi pedetnya normal; (c) Apakah waktunya masih dalam batas toleransi (maksimal tiga jam). Jika ketiganya masih dalam batas normal, sapi tidak membutuhkan bantuan sama sekali dalam melahirkan.
  6. Bantuan bisa diberikan jika salah satu dari ketiga parameter yang disebutkan pada poin 5 salah. Misalnya sapi tidak merejan, atau posisi pedet salah, atau waktunya sudah lebih dari tiga jam.
  7. Setiap bantuan apapun, akan selalu berdampak pada kondisi fisiologis dan metabolisme selanjutnya. Jika sapi mendapatkan bantuan dalam proses melahirkan, maka dokter hewan harus memberikan pengobatan untuk mencegah efek negatif dari ketidaknormalan tersebut.

Membantu mengatasi masalah kelahiran

Setelah memahami prosedur kelahiran sapi perah dengan benar, peternak berkoordinasi dengan dokter hewan jika ada masalah kelahiran.

  1. Persiapan terbaik memang tidak selalu menghasilkan kelancaran. Selalu ada 1 – 2 masalah meski sudah dipersipkan dengan matang.
  2. Jika pedet di dalam rahim harus dilakukan reposisi, sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik oleh dokter hewan atau paramedis yang berkompeten.
  3. Setiap orang yang membantu kelahiran sapi perah harus mencuci tangan dengan antiseptik sebelum melakukan pertolongan kelahiran.
  4. Setiap penarikan pedet jika memang harus dilakukan, mesti disesuaikan dengan irama merejan induk sapi perah.
  5. Jika menggunakan alat untuk menarik pedet, maka celupkan alat tersebut ke dalam larutan antiseptik (Iodine 1 – 2%) agar tidak memberikan risiko infeksi pada saluran reproduksi.
  6. Jika menarik pedet dengan tali, jangan gunakan tali berbahan plastik karena berisiko melukai kulit pedet. Gunakan bahan tali yang lembut dan pipih. VetRop adalah pilihan tali terbaik untuk menolong kelahiran induk sapi perah.
  7. Jika menggunakan rantai untuk menarik pedet, gunakan rantai berbahan stainless steel.
Calving interval ideal induk sapi perah sekitar 12 – 13 bulan.
Ilustrasi pedet (anak sapi) perah.

Memberikan suplemen khusus kepada sapi fresh

Sapi yang baru melahirkan disebut sapi fresh. Fresh drench merupakan prosedur pemberian suplemen yang diformulasi untuk sapi fresh.

Pemberian suplemen khusus tersebut bertujuan mengembalikan metabolisme sapi perah pasca melahirkan.

  1. Sapi fresh memiliki beberapa masalah fisiologis. (a) Kekurangan energi; (b) Kekurangan mineral; (c) Kekurangan cairan tubuh; (d) Stres akibat asidosis; dan (e) kematian mikroba rumen.
  2. Masalah metabolisme pasca melahirkan ini harus segera diatasi agar sapi segera kembali segar, sehat, mencapai puncak produksi, serta berahi dan bunting.
  3. Karena nafsu makan sapi fresh pada awal kelahiran masih tidak begitu bagus, maka pemberian suplemen ini tidak bisa melalui makanan.
  4. Pemberian suplemen ini bisa melalui minuman sehingga disebut dengan drenching. Istilahnya disebut dengan fresh drench (minuman sapi yang baru melahirkan).
  5. Formula fresh drench yang diberikan sangat menentukan tingkat keberhasilan program untuk mempercepat pencapaian puncak produksi dan fisiologis reproduksi agar sapi segera berahi dan lebih mudah bunting.
  6. Pemberian fresh drench harus dilakukan 3 – 5 hari berturut-turut setelah induk sapi perah melahirkan agar program ini berhasil dengan baik.

Melakukan fresh check 50 – 60 hari sejak induk sapi perah melahirkan

Fresh check merupakan pemeriksaan saluran reproduksi sapi fresh pada day in milk (DIM) 50 – 60. Maksudnya, 50 – 60 hari sejak sapi melahirkan.

DIM merupakan jumlah hari menghasilkan susu, yang dihitung sejak melahirkan. Misalnya, jika sapi perah melahirkan 50 hari yang lalu, maka pada saat ini DIM-nya 50.

Pengecekan DIM at First Bred (DIM FB) merupakan pengecekan saat inseminasi buatan (IB) pertama.

  1. Untuk mendapatkan hasil terbaik, DIM FB ideal harus dijaga 60 – 80. Maksudnya, maksimal 60 – 80 hari pasca melahirkan sapi perah harus dipastikan sudah di IB untuk pertama kali.
  2. Untuk itu, fresh check harus dilakukan oleh dokter hewan pada DIM 50 – 60. Sebelumnya harus dipastikan dulu bahwa sapi tersebut tidak memiliki komplikasi pasca melahirkan.
  3. Sapi yang melahirkan normal, seharusnya sudah mengalami proses involusi uteri (uterus atau rahim kembali ke ukuran normal dan sehat) paling lambat 40 hari pasca melahirkan. Sesaat setelah 40 hari itu seharusnya sapi sudah bisa berahi.
  4. Jika sampai DIM 50 sapi belum menunjukkan gejala berahi, maka dokter hewan harus memeriksa saluran reproduksi sapi fresh untuk memastikan kondisinya baik. Prosedur ini disebut fresh check.
  5. Dalam melakukan fresh check ini, dokter hewan harus melakukan palpasi rektal dan memeriksa kondisi fisik mulai dari serviks (mulut rahim) hingga ovarium (pabrik sel telur).

Nah, demikian sahabat Agrikan.id, 5 langkah mendapatkan calving interval 12 bulan untuk sapi perah. Semoga bermanfaat.

Referensi:

Jurnal Sapi Indonesia, Dairy Pro Indonesia tanggal 1 – 5 Juni 2021.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here