keunggulan benih jagung hibrida bioteknologi
Agustine Christela Melviana, Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia.

AGRIKAN.ID – Benih merupakan komponen utama yang berkontribusi besar dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan petani.

Apalagi benih bioteknologi atau biasa disebut transgenik atau produk rekayasa genetik (PRG) atau genetically modified organism (GMO).

Misalnya benih jagung. Potensi hasil jagung hibrida sekitar 11-13 ton pipilan kering/hektare. Bandingkan dengan potensi hasil jagung lokal 3-4 ton/hektare dan jagung komposit (bersari bebas) 5-7 ton/hektare.

Pada saat ini, rata-rata produktivitas jagung di Indonesia sekitar 5,80 ton/hektare. Mengapa rata-rata hasilnya baru sekitar 5,80 ton/hektare, padahal potensi hasilnya sekitar 11-13 ton/hektare?

Begini ceritanya. Dalam budidaya jagung, petani akan menghadapi risiko serangan hama, penyakit, gulma, dan cekaman lingkungan (seperti perubahan iklim, baik El Nino atau kekeringan maupun La Nina atau kebanjiran). Jangan heran jika kemudian produksi aktualnya lebih rendah dari potensinya.

Lihat juga: Adopsi benih bioteknologi

Salah satu cara untuk memperkecil risiko tersebut, petani dapat menanam benih jagung hibrida bioteknologi. Misalnya benih jagung hibrida bioteknologi tahan hama penggerek batang jagung (Asian Corn Borer/Ostrinia furnacalis) dan toleran herbisida berbahan aktif glifosat.

PT Syngenta Indonesia sudah merilis benih jagung hibrida bioteknologi tahan hama penggerek batang jagung dan toleran glifosat, yaitu NK Pendekar Sakti, NK Sumo Sakti, NK Perkasa Sakti, dan NK 212 S. PT Bayer Indonesia juga sudah merilis benih jagung Dekalb DK95R yang toleran glifosat.

Dengan menanam benih jagung hibrida bioteknologi, produktivitas aktual bisa meningkat dari rata-rata sekitar 5,80 ton pipilan kering/hektare menjadi 6,38 ton/hektare atau meningkat sekitar 10%.

Peningkatan tersebut antara lain karena petani bisa menekan risiko kehilangan hasil panen.

Petani bisa menikmati tambahan penghasilan. Belum lagi menekan biaya produksi. Jangan heran jika keuntungan petani meningkat, yang bersumber dari peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya.

Jadi, benih berperan penting dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan petani.

Jagung hibrida bioteknologi toleran glifosat

Jagung hibrida bioteknologi toleran glifosat ini lebih akrab disebut jagung RR (Roundup Ready).

Roundup adalah herbisida yang berbahan aktif glifosat yang digunakan untuk mematikan gulma.

Untuk jagung hibrida nonbioteknologi, jika disemprot dengan glifosat, bukan hanya gulma yang mati, tetapi jagungnya juga ikut mati.

Karena itulah, petani melakukan penyiangan gulma tanaman jagung  nonbioteknologi secara manual dengan membayar tenaga kerja atau melakukan penyiangan sendiri.

“Kalau dulu, disemprot dengan glifosat, gulmanya mati dan jagungnya juga ikut mati,” kata Laksmi Prasvita, Head of Public Affairs Science and Substainability PT Bayer Indonesia, Jumat, 2 Februari 2024. Karena itulah, “Petani harus menyiangi gulma sendiri atau dengan tenaga kerja,” katanya.

Dengan budidaya jagung hibrida bioteknologi, petani menyiangi gulma dengan menyemprotkan glifosat. “Nah, dengan toleran glifosat, petani lebih mudah menyiangi gulma. Disemprot dengan glifosat, gulmanya mati, tetapi jagungnya tetap tumbuh dengan baik,” katanya kepada AGRIKAN.ID.

Lihat juga: Benih jagung bioteknologi

Sebagaimana kita ketahui, jagung yang ditanam itu akan tumbuh berbarengan dengan gulma. Jagung dan tanaman liar itu bersaing untuk mendapatkan pupuk.

“Begitu benih jagung tumbuh, gulma dan tumbuhan lain juga ikut tumbuh. Jagung dan gulma bersaing untuk mendapatkan pupuk,” katanya.

Pada tahap pertumbuhan awal budidaya jagung (setelah berdaun 3 – 12 lembar), sangat penting untuk merawat tanaman jagung, termasuk menyiangi gulma. “Begitu disemprot dengan glifosat, gulmanya mati,” katanya.

Penyemprotan glifosat untuk mematikan gulma jauh lebih ringan dibandingkan pencabutan gulma.

Bayangkan, jika petani tetap menanam jagung hibrida konvensional (nonbioteknologi). Begitu terkena semprot glifosat, jagungnya ikut mati.

Tetapi jika menanam jagung hibrida bioteknologi, jagungnya tetap tumbuh dengan baik, meskipun terkena glifosat pada saat menyemproti gulma.

Dengan demikian, petani tidak perlu membayar tenaga kerja untuk menyiangi gulma pada tanaman jagung hibrida bioteknologi. Dengan menggunakan glifosat, biaya menyiangi gulma menjadi relatif ringan. “Itulah manfaat menanam (jagung hibrida bioteknologi). Efisiensinya bukan main,” katanya.

Karena itulah, petani sangat menunggu-nunggu untuk membeli benih jagung hibrida bioteknologi.

Jagung hibrida bioteknologi tahan hama penggerek batang

Untuk merakit benih jagung hibrida bioteknologi tahan hama penggerek batang jagung (Ostrinia  furnacalis/ Asian Corn Borer) dilakukan dengan cara menyisipkan gen penghasil protein kristal dari bakteri tanah Bacillus thurigiensis atau Bt. Dengan begitu, misalnya, kita mengenal jagung Bt.

Menurut Antonius Suwanto, guru besar Mikrobiologi dan Bioteknologi Molekular IPB University, ulat hama penggerek batang jagung itu mati kalau menelan bakteri Bt, yang banyak ditemukan di alam.

“Rupanya bakteri ini (Bt) mengeluarin proteinnya yang disebut kristal. Protein toksinnya ini, kalau (dimakan) ulat, ulat bisa diare, terus nggak suka makan, akhirnya meninggal dunia,” katanya.

Prinsipnya begini. “Kalau bakterinya itu ditelan, kristalnya akan terurai, kemudian proteinnya bisa nancap di memberan sel usus ulat. Tetapi untuk bisa terurai, kondisi pencernaannya itu harus alkali (basa). Pada ulat gitu, (kondisi ususnya) alkali,” kata Anton, panggilan akrab Antonius Suwanto.

Lihat juga: Persepsi positif bioteknologi

Bagaimana jika manusia atau hewan memakan jagung Bt, yang tentunya menghasilkan protein kristal tadi? “Di manusia atau hewan, karena lambungnya asam, (protein kristal) itu nggak bisa terurai. Proteinnya itu tidak beracun. Kita tidak punya reseptornya di memberan usus kita,” katanya.

“Nah, Bt ini disenangi (petani) karena itu musuh alami. Pertanian organik semua pakai (bakteri) ini. Jadi, lahan (petani) disemprot pakai (bakteri Bt) ini,” kata Anton, di Jakarta, Jumat, 2 Februari 2024.

Tapi, dengan teknologi DNA (deoxyribonucleic acid) rekombinan, kita bisa mengambil DNA yang menyandikan protein kristal dari bakteri Bt, kemudian disisipkan pada jagung secara rekayasa genetik atau bioteknologi sehingga diperoleh tanaman jagung tahan hama penggerek batang.

“Kalau kemudian kita lihat, yield (produktivitas) jagung Bt ini kalau dipanen lebih banyak yang nggak rusak dibandingkan jagung nggak Bt. Ulat makan jagung Bt, ulatnya akan mati,” kata Anton.

Dengan stacking atau pyramid (penyisipan kombinasi gen yang bermanfaat atau stacked genes) bisa diperoleh varietas jagung hibrida bioteknologi tahan hama penggerek batang dan toleran glifosat.

Pengembangan model agribisnis close loop

Tetapi, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tidak cukup hanya mengadopsi benih jagung hibrida bioteknologi. Petani juga mengharapkan kepastian pasar jagung yang mereka hasilkan.

Melalui program Better Life Farming, PT Bayer Indonesia mengembangkan model agribisnis close loop (kemitraan agribisnis dari hulu ke hilir). Misalnya di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Bayer tidak hanya memasarkan benih jagung hibrida bioteknologi, tetapi juga bekerjasama dengan PT Seger Agro Nusantara. Perusahaan Seger ini yang menjadi pembeli siaga (off taker) jagung yang dihasilkan petani dengan harga yang baik sehingga petani mempunyai kepastian pasar jagung.

Dengan model agribisnis close loop ini, para petani dan seluruh mitra di dalam rantai pasok jagung memperoleh manfaat. Petani menikmati produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan. Bayer menjual benih jagung hibrida bioteknologi. Seger bisa menjual jagung pipilannya ke pabrik pakan ternak.

Kisah sukses Filipina adopsi benih jagung hibrida bioteknologi

Di Asia, yang paling terdepan dalam mengadopsi benih jagung hibrida bioteknologi adalah Filipina.

Petani jagung di negara yang berpenduduk sekitar 117 juta itu mulai menanam jagung hibrida bioteknologi pada tahun 2003, setelah mendapat persetujuan penanaman komersial tahun 2002.

“Sampai saat ini, 630.000 hektare ditanami PRG atau benih bioteknologi,” kata Agustine Christela Melviana, Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia, pada acara Journalist Class, bertema Adopsi Bioteknologi untuk Transformasi Pertanian Indonesia, di Jakarta, Jumat, 2 Februari 2024.

“Ketika saya ke sana (Filipina) bersama beberapa stakeholder di Indonesia, malah susah nyari benih konvensional di sana. Adopsi (benih jagung hibrida bioteknologi) di Filipina sudah 95%,” katanya.

Lihat juga: Padi bioteknologi Golden Rice

“Petaninya nggak ada yang mau nanam benih konvensional. Mereka bilang, petani di sini seeing is believing. Kalau kita udah tahu hasilnya banyak, bisa meningkatkan diri untuk kita, bahkan bisa nyekolahin anak sampai kuliah, semuanya langsung adopsi (benih bioteknologi),” cerita Christela.

Di Filipina ada sekitar 470.500 petani dan keluarganya telah merasakan manfaat dari benih jagung bioteknologi. Rata-rata kepemilikan lahan petani jagung bioteknologi di sana sekitar dua hektare.

Dengan menanam benih jagung hibrida bioteknologi, produktivitas tanamannya meningkat 23,5%.

Vietnam juga gencar mengadopsi benih bioteknologi. Produktivitas jagungnya meningkat 30,4%.

Peningkatan produktivitas tersebut karena petani bisa meminimalisir risiko kehilangan hasil panen.

Petani di Indonesia ingin menanam jagung hibrida bioteknologi. Tetapi benihnya sulit dicari di pasar.

“Kalau bicara di lapangan, petani justru menantikan, kapan bisa beli benih ini, supaya teman-teman petani bisa ikut merasakan dampak positif seperti di negara lain,” kata Sandi Octa Susila, Ketua Duta Petani Milenial, pada acara Journalisct Class, yang diselenggarakan CropLife Indonesia, di Jakarta.

Syatrya Utama | Bloger, Jurnalis, dan Alumni IPB University | Email: konten.agrikan@gmail.com

Referensi:

  1. Bahan presentasi Agustine Christela Melviana, Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia, yang berjudul, CropLife: Meningkatkan Inovasi dalam Pertanian untuk Masa Depan yang Berkelanjutan, Jakarta, Jumat, 2 Februari 2024.
  2. Bahan presentasi Prof. Antonius Suwanto, Ph.D, IPB University, yang berjudul, Bioteknologi Pertanian: Tantangan dan Harapan, Jakarta, Jumat, 2 Februari 2024.
  3. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2019. Peta Jalan Pengembangan Benih Produk Rekayasa Genetik (PRG). Jakarta: Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
  4. International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications. 2011. Agricultural Biotechnology (A Lot More than Just GM Crops). Manila, Filipina: ISAAA SEAsiaCentre.
  5. https://croplifeindonesia.or.id/perjalanan-pembuatan-benih-dan-tanaman-bioteknologi/.

Artikel ini diperbaiki terakhir Rabu, 6 Maret 2024.