Program Biosolar B50 bisa Memperkuat Ketahanan Energi Nasional

41

AGRIKAN.ID – Biosolar B50 merupakan campuran 50% biodiesel sawit (fatty acid metyl ester/FAME) dan 50% solar fosil. Rencananya, implementasi program biosolar B50 di Indonesia mulai berlaku 1 Juli 2026.

Melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 439 Tahun 2025 tertanggal 22 Desember 2025, alokasi volume biodiesel sawit pada tahun 2026 sekitar 15,65 juta kiloliter (kL).

Menurut Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM, alokasi biodiesel sawit untuk program biosolar B50 dibagi dua skema distribusi.

Pertama, untuk public service obligation (PSO) sebesar 7,46 juta kL. Yang PSO ini untuk transportasi publik dan masyarakat yang mendapat subsidi. Kedua, untuk non-PSO sebesar 8,19 juta kL. Yang non-PSO ini untuk industri, pertambangan, dan transportasi komersial yang bersaing di pasar terbuka.

Kebutuhan CPO untuk biodiesel sawit

Pada tahun 2025, berdasarkan data Kementerian ESDM, realisasi pemanfaatan biodiesel sawit sekitar 14,2 juta kL. Biodiesel tersebut digunakan untuk pengadaaan biosolar B40, yaitu campuran 40% biodiesel sawit dan 60% solar fosil. Biosolar B40 yang bisa dihasilkan mencapai sekitar 35,5 juta kL.

Untuk memproduksi biodiesel sawit 14,2 juta kL, menurut data GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), dibutuhkan CPO (crude palm oil) 12,70 juta ton. Dengan produksi CPO nasional tahun 2025 sekitar 51,66 juta ton, berarti kebutuhan CPO untuk biodiesel sawit mencapai 24,58%.

Lihat juga: Kinerja industri sawit Indonesia

Pada tahun 2026, alokasi biodiesel sawit 15,65 juta kL. Alokasi ini untuk pengadaan biosolar B50. Untuk memproduksi biodiesel sawit sebesar alokasi tersebut, diperlukan CPO sekitar 13,97 juta ton.

Dari data tahun 2026, biosolar B50 yang dihasilkan bisa mencapai 31,30 juta kL. Bandingkan dengan kebutuhan solar nasional tahun 2026, yang mencapai sekitar 40 juta kL. Jika program B50 berjalan, berarti pada tahun 2026 ini sekitar 78,25% kebutuhan solar nasional bersumber dari biosolar B50.

Jika kita menginginkan pasokan solar nasional 100% (optimal) bersumber dari biosolar B50, maka jumlah biosolar yang diperlukan 40 juta kL. Dengan begitu, alokasi biodiesel sawit yang dibutuhkan sekitar 20 juta kL. Untuk memproduksi biodiesel tersebut diperlukan CPO sekitar 17,86 juta ton.

Kapasitas produksi biodiesel sawit

Pada saat ini, menurut Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), kapasitas terpasang industri biodiesel nasional baru mampu menyerap sekitar 19,56 juta ton CPO atau setara 21,90 juta kL biodiesel. Tetapi utilitasnya sekitar 80% karena harus tetap memperhatikan perawatan berkala.

Lihat juga: Implementasi biodiesel berbasis sawit

Karena itulah, untuk menyerap 17,86 juta ton CPO agar menghasilkan biodiesel sawit sekitar 20 juta kL, maka kapasitas terpasang industri biodiesel harus ditingkatkan menjadi 25,90 juta kL biodiesel. Hal tersebut untuk mendukung pasokan solar nasional 100% (optimal) bersumber dari biosolar B50.

Pengujian biosolar B50 di enam sektor

Uji penggunaan biosolar B50 dilakukan serentak sejak Desember 2025 di enam sektor utama, yaitu otomotif, angkutan laut, pertanian, pertambangan, perkeretaapian, dan pembangkit listrik nasional.

Dari pengujian performa, kinerja kendaraan atau mesin diesel tetap stabil tanpa penurunan berarti selama penggunaan biosolar B50. Bahan bakar tersebut memenuhi spefisikasi yang dipersyaratkan.

Ketahanan dan kedaulatan energi nasional

Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, penerapan biosolar B50 tahun 2026 bisa menghemat devisa impor solar fosil sekitar Rp139 triliun. Selain itu, menurut aprobi.or.id, implementasi program biosolar B50 juga bisa menciptakan nilai tambah industri sawit domestik mencapai Rp 21,8 triliun.

Lihat juga: 9 Istilah minyak sawit dan turunannya

Selain itu, “Pengembangan biodiesel tidak semata-mata untuk meningkatkan nilai tambah minyak sawit, tetapi lahir dari pertimbangan strategis nasional, terutama ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia,” kata Gusti Artama Gultom dalam promosi doktor Sains Agribisnis di IPB University, Desember 2025. Ia wisudawan terbaik Program Doktor FEM IPB Bogor pada wisuda 13 Mei 2026.

Kebijakan biodiesel juga menjadi alat utama Indonesia dalam memerangi krisis iklim. Implementasi biodiesel 2026 bisa menekan emisi gas rumah kaca hingga 41,5 juta ton karbondioksida ekuivalen.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Keterangan:

Jika sahabat ingin mendapatkan informasi tentang program biosolar B50 dan dampaknya terhadap harga minyak goreng di pasar domestik, silakan lihat di web majalaheditor.com.