Mesin pemanen tebu Austoft di Thailand
Mesin pemanen tebu Austoft ke-100 pada tahun 2021 yang dikirim ke Thailand. Sumber: Case IH Agriculture.

Pada Desember 2021 ini Case IH Agriculture mengirimkan mesin panen tebu Austoft ke-100 ke Thailand. Jadi, tahun ini anak usaha CNH Industrial itu sudah menjual 100 unit Austoft ke sana.

“Mesin pemanen tersebut untuk digunakan Desember 2021 sampai April 2022,” kata Mark Brinn, Managing Director CNH Industrial Thailand, dikutip dari rilis, Jumat, 17 Desember 2021.

“Case IH dan timnya di Thailand akan mendukung penggunaan mesin tersebut selama musim panen,” kata Mark Brinn.

Model mesin pemanen yang digunakan di perkebunan tebu di Thailand antara lain Austoft 4000, Austoft 8810, dan Austoft 8010.

Thailand produsen gula nomor 4 dunia

Bisa dipahami jika perusahaan perkebunan tebu dan pabrik gula di Thailand banyak membeli mesin pemanen tebu Austoft.

Di negara berpenduduk sekitar 69,8 juta jiwa itu luas lahan tanaman tebunya sekitar 2 juta ha atau sekitar 3,90% dari total luas negara agribisnis itu.

Dengan produktivitas sekitar 65,5 ton/ha/tahun, Thailand bisa menghasilkan tebu sekitar 131 juta ton/tahun.

Dengan rendemen (hasil ekstraksi gula tebu) sekitar 10,70%, pada tahun 2020 Thailand bisa menghasilkan gula sekitar 14,02 juta ton.

Dikutip dari makalah Sujarwo, dosen Universitas Brawijaya (Unibraw), pada webinar PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) yang bekerjasama dengan Unibraw, Selasa, 28 September 2021, dari 10 besar produsen gula dunia, Thailand berada pada posisi nomor 4.

  1. India 29,66 juta ton
  2. Brazil 29,17 juta ton
  3. Eropa (28 negara) 16,65 juta ton
  4. Thailand 14,05 juta ton
  5. China 10,57 juta ton
  6. Amerika Serikat 7,22 juta ton
  7. Rusia 7,2 juta ton
  8. Meksiko 6,18 juta ton
  9. Pakistan 5,33 juta ton
  10. Australia 4,20 juta ton

Dengan konsumsi di dalam negeri sekitar 3,64 juta ton, Thailand menjadi net-eksportir gula sekitar 10,41 juta ton pada tahun 2020.

Bandingkan dengan Indonesia. Luas lahan tanaman tebu sekitar 420 ribu hektar atau 0,22% dari total luasan daratan Indonesia.

Dengan rata-rata produktivitas tebu sekitar 66 ton/ha/tahun, total produksi tebu di Indonesia sekitar 27,7 juta ton pada tahun 2020.

Dengan rendemen sekitar 7,50%, Indonesia bisa menghasilkan gula sekitar 2,10 juta ton pada tahun 2020. Padahal kebutuhan gula nasional sekitar 5,97 juta ton. Kekurangannya dari impor.

Selain impor, menurut Bustanul Arifin, guru besar Universitas Lampung, pada webinar RPN dan Unibraw, 28 September 2021, indeks biaya produksi gula di Indonesia 192, termahal di dunia.

Bandingkan dengan indeks biaya produksi gula di Thailand 109 dan Brazil 100, yang termurah.

PTPN 2 mempunyai 4 unit Austoft 8810

Luas lahan tanaman tebu PTPN 2, Sumatra Utara, sekitar 8.500 ha. Dengan produktivitas tebu sekitar 76 ton/ha/tahun, maka total produksi tebu perusahaan itu sekitar 646.000 ton/tahun.

Dengan rendemen sekitar 7%, perusahaan ini bisa menghasilkan gula sekitar 45.220 ton/tahun.

Pada September 2020, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu membeli 4 unit mesin pemanen tebu model Austoft 8810, yang berkapasitas panen sekitar 100 ton tebu/jam.

Dengan semakin langkanya tenaga kerja pemanen tebu, mesin pemanen tebu Austoft itu sangat diperlukan perusahaan milik negara itu. Paling tidak bisa menekan biaya pemanenan.

Dengan dibentuknya PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), perusahaan gabungan pabrik gula dan perkebunan tebu BUMN, maka lahan dan barang modal tebu dan gula PTPN 2 beralih ke SGN.

Diharapkan, dengan menggunakan mesin pemanen tebu Austoft, sebagai bagian mekanisasi produksi tebu, dapat menekan indeks biaya produksi gula di Indonesia.

Jika Indonesia belum bisa menekan indeks biaya produksi yang rendah seperti di Thailand, bisa mengikuti Filipina yang 130. Pada saat ini, biaya produksi gula di Indonesia termahal di dunia.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

  1. Rilis media Case IH Agriculture, Jumat, 17 Desember 2021, 100th Austoft sugarcane harvester delivered in Thailand this year.
  2. Sujarwo, dosen Universitas Brawijaya, makalah webinar PT Riset Perkebunan Nusantara, Selasa, 28 September 2021, Kolaborasi Petani dan PG dalam Meningkatkan Sutainability Ketersediaan Gula Nasional.
  3. Bustanul Arifin, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila, makalah webinar PT Riset Perkebunan Nusantara, Selasa, 28 September 2021, Kelembagaan Kerjasama Petani dengan Pabrik Gula.