Mengonsumsi minyak sawit dapat menurunkan kadar kolesterol jahat LDL dan trigliserida darah serta meningkatkan kadar kolesterol baik HDL darah.
Minyak dan buah sawit.

Mengonsumsi minyak sawit (palm oil) meningkatkan kolesterol darah itu mitos, bukan fakta.

Mitos adalah isu, opini, pandangan, tuduhan, dan sejenisnya, sedangkan fakta merupakan bukti empiris berdasarkan hasil penelitian.

Sebenarnya kolesterol diperlukan tubuh untuk memproduksi vitamin D dan getah lambung, melindungi sel-sel saraf, serta menghasilkan berbagai hormon.

Manusia memerlukan asupan kolesterol sekitar 1.000 – 1.500 mg per hari.

Penderita penyakit jantung pun masih diperbolehkan mengonsumsi kolesterol 200 – 300 mg per hari atau setara sebutir telur.

Baca juga: Minyak Goreng Sawit Berekolabel

Memang jika berlebihan mengonsumsi kolesterol dapat membahayakan kesehatan. Bahkan bisa memicu penyakit jantung dan kardiovaskuler atau aterosklerosis.

Aterosklerosis merupakan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri (jantung) akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah tersebut.

Tiga faksi lemak yang menentukan kualitas kolesterol

Di dalam tubuh terdapat tiga faksi lemak yang menentukan mutu kolesterol.

Yaitu kolesterol jahat atau LDL (low-density lipoprotein), kolesterol baik atau HDL (high-density lipoprotein), dan asam lemak (trigliserida atau triglycerides).

Pada umumnya, tingginya kadar LDL dan trigliserida di dalam darah dapat membahayakan kesehatan.

Sementara tingginya kadar HDL di dalam darah justru diperlukan dan baik bagi kesehatan.

Analoginya begini. HDL tersebut berperan seperti polisi untuk memberantas preman (LDL dan trigliserida).

Hubungan mengonsumsi minyak sawit dengan kolesterol darah sudah banyak dibuktikan para ahli gizi dan kesehatan.

Baca juga: Sawit Lokomotif Perekonomian Nasional

Mengonsumsi minyak sawit justru dapat menurunkan kadar LDL darah 21%, menurunkan trigliserida 14%, dan menaikan kadar HDL darah 24%.

Jadi, mengonsumsi minyak sawit itu menurunkan kadar kolesterol jahat dan trigliserida darah, serta meningkatkan kadar kolesterol baik darah. Tentu hal ini baik bagi kesehatan.

Dengan demikian, mengonsumsi minyak sawit justru dapat mengurangi atau mencegah pelbagai penyakit yang berhubungan dengan kadar dan kualitas kolesterol darah seperti penyakit jantung dan kardiovaskuler atau aterosklerosis.

Perbaikan kolesterol darah tersebut karena minyak sawit mengandung komposisi asam lemak yang seimbang, mengandung asam lemak esensial, mengandung antioksidan, dan proses pembuatan minyak sawit tidak mengalami hidrogenasi.

Komposisi asam lemak minyak sawit seimbang

Minyak sawit, menurut para ahli gizi, mengandung proporsi asam lemak jenuh (saturated fatty acid) dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid) yang seimbang.

Minyak sawit tidak tergolong sebagai minyak nabati yang berprilaku sebagai asam lemak jenuh, tetapi secara keseluruhan berprilaku sebagai asam lemak tak jenuh (monounsaturated oils).

Minyak sawit mengandung asam lemak esensial

Secara ilmu gizi, tiga asam lemak esensial yang harus tersedia di dalam tubuh adalah oleat, linoleat, dan linolenat.

Minyak sawit mengandung oleat 36,3%. Bandingkan dengan Air Susu Ibu (ASI) yang mengandung oleat 36,5%.

Minyak sawit mengandung linoleat 8,3%. Sedikit lebih rendah dari kandungan linoleat dalam ASI, yang 9,5%.

Baca juga: Wujudkan dan Terapkan SNI ISPO Sawit

Minyak sawit mengandung linolenat 0,5%. Agak jauh lebih rendah dari kandungan linolenat dalam ASI, yang 1,4%.

Dengan demikian, minyak sawit mengandung asam lemak esensial yang seimbang, bahkan mirip dengan komposisi asam lemak esensial pada ASI.

Minyak sawit mengandung antioksidan vitamin A dan E

Minyak sawit mengandung betakaroten, yaitu antikoksidan dan prekursor (bahan atau senyawa pembentuk) vitamin A.

Minyak sawit merah (refined) mengandung vitamin A sekitar 5.000 µg setara retinol per 100 gram (edible, bagian yang dapat dimakan).

Minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) mengandung vitamin A sekitar 6.700 µg setara retinol per 100 gram (edible).

Kandungan vitamin A minyak sawit lebih tinggi dari kandungan vitamin A dalam jeruk, pisang, tomat, dan wortel, yang dianggap sebagai bahan-bahan makanan sumber vitamin A.

Selain betakaroten, minyak sawit juga mengandung vitamin E (tokoferol 20% dan tokotrienol 80%).

Vitamin E bermanfaat sebagai antioksidan, antipenuaan dini, untuk kesehatan kulit, kesuburan reproduksi, mencegah aterosklerosis, antikanker, dan meningkatkan imunitas (kekebalan tubuh).

Produksi minyak sawit tidak mengalami hidrogenasi

Minyak sawit semi solid dengan titik leleh 33 – 390C sehingga tidak memerlukan proses hidrogenasi dalam penggunaannya sebagai minyak makan.

Berbeda dengan minyak kedelai yang memerlukan proses hidrogenasi, baik hidrogenasi penuh (fully hydrogenated soybean oil) maupun hidrogenasi parsial (partially hydrogenated soybean oil).

Mengonsumsi minyak nabati yang dalam proses produksinya mengalami proses hidrogenasi  dapat menghambat produksi kelenjar insulin, meningkatkan kadar glukosa darah, dan dapat menurunkan kolesterol baik HDL.

Selain itu, mengonsumsi minyak nabati yang dalam proses produksinya mengalami proses hidrogenasi, terutama hidrogenasi parsial, dapat menghasilkan alam lemak trans (trans-fatty acid).

Sebagaimana kita ketahui, asam lemak trans ini sangat merugikan kesehatan tubuh. Karena itulah negara-negara Barat melarang menggunakan asam lemak trans dalam bahan makanan.

Dari penjelasan di atas, mengonsumsi minyak sawit disangka meningkatkan kolesterol darah adalah mitos.

Faktnya, mengonsumsi minyak sawit justru memperbaiki kolesterol darah, yaitu meningkatkan kolesterol baik HDL, serta menurunkan kolesterol jahat LDL dan trigliserida.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

  1. Sipayung, Tungkot. 2017. Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia. Edisi ketiga. Bogor: Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).
  2. Sipayung, Tungkot. 2015. Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan. Edisi pertama. Bogor: Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).
  3. Sipayung, Tungkot dan Purba, Jan Horas V. 2015. Ekonomi Agribisnis Sawit. Cetakan pertama. Bogor: Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI).
  4. Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan RI. Tanya Jawab Seputar Telur Sumber Makanan Bergizi.