Produksi beras Indonesia 2020 dan 2021
Produksi beras di Indonesia tahun 2020, 2021, dan Januari – April 2022. Sumber: Badan Pusat Statistik, 1 Maret 2022.

Produksi beras di Indonesia tahun 2021 sekitar 31,36 juta ton.

Produksi tersebut lebih rendah sekitar 0,14 juta ton atau 0,45% dari produksi beras tahun 2020, yang sekitar 31,50 juta ton.

Produksi beras dihitung berdasarkan konversi produksi padi (gabah kering giling atau GKG) ke beras sekitar 57,63%.

Pada tahun 2021, produksi padi sekitar 54,42 juta ton GKG dengan luas panen 10,41 juta hektar.

Pada tahun 2020, produksi padi sekitar 54,65 juta ton GKG dengan luas panen sekitar 10,66 juta hektar.

Dengan demikian, terjadi penurunan produksi padi dari tahun 2020 ke tahun 2021 sekitar 0,23 juta ton GKG atau 0,43% sehingga produksi beras turun 0,14 juta ton atau 0,45%.

Dari data tersebut, produktivitas padi tahun 2021 sekitar 5,23 ton GKG/hektar dan beras 3,01 ton/hektar.

(Ingin belanja beras Kepala Slyp Super Bunga di Tokopedia, silakan klik: https://tokopedia.link/m4aeyDsKJqb).

Pada tahun 2022, diperkirakan produksi padi Januari 2022 sekitar 2,42 juta ton GKG dan potensi produksi Februari-April 2022 sekitar 22,98 juta ton GKG.

Dengan demikian, potensi produksi padi pada periode waktu (subround) Januari-April 2022 sekitar 25,40 juta ton GKG atau setara beras 14,64 juta ton.

Bandingkan dengan produksi padi periode Januari-April 2021 sekitar 23,58 juta ton GKG atau setara beras 13,59 juta ton.

Periode waktu luas panen dan produksi padi

Dalam menyajikan data luas panen dan produksi padi, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan periode waktu (subround), yaitu Januari-April, Mei-Agustus, dan September-Desember.

Pada periode Januari-April, luas panen padi meningkat 0,59 juta hektar atau 15,34% dari 3,84 juta hektar pada tahun 2020 menjadi 4,43 juta hektar pada tahun 2021.

Pada periode Mei-Agustus, luas panen padi berkurang 0,64 juta hektar atau 15,38% dari 4,14 juta hektar pada tahun 2020 menjadi 3,51 juta hektar pada tahun 2021.

Petani benci impor beras
Luas panen dan produksi padi di Indonesia tahun 2020 dan 2021. Sumber: Badan Pusat Statistik, 1 Maret 2022.

Begitu juga periode September-Desember, luas panen padi turun 0,20 juta hektar atau 7,40% dari 2,67 juta hektar pada tahun 2020 menjadi 2,47 hektar pada tahun 2021.

Dengan penurunan luas panen Mei-Agustus dan September-Desember, maka luas panen padi turun sekitar 0,25 juta hektar atau 2,30%, dari 10,66 juta hektar pada tahun 2020 menjadi 10,41 juta hektar pada tahun 2021.

Penurunan luas panen tersebut menyebabkan produksi padi dan beras tahun 2021 lebih rendah dari tahun 2020.

Petani paling benci narasi impor beras

Pada Maret 2021, Manteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menarasikan impor beras 1 juta ton untuk cadangan beras Bulog.

Tetapi keinginan tersebut tidak diterima Budi Waseso, Direktur Utama Perum Bulog, Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian, dan sejumlah pengamat.

Sebab, cadangan beras Bulog masih mencukupi sesuai dengan kebijakan, yaitu 1-1,5 juta ton.

Akhirnya, Presiden Jokowi meminta agar menghentikan perdebatan impor beras karena dapat menurunkan harga gabah di tingkat petani.

Dalam konferensi pers daring pada Jumat, 26 Maret 2021, Presiden Jokowi mengatakan tidak akan ada impor beras sampai Juni 2021.

Impor beras yang dimaksudkan adalah untuk kebutuhan umum dengan kadar kepecahan (broken) 5% sampai 25%.

Tetapi impor beras untuk kebutuhan lain seperti beras premium untuk konsumsi orang asing, horeka (hotel, restoran, dan katering), beras khusus untuk kesehatan, dan industri tetap dizinkan.

Pada tahun 2021, impor beras kebutuhan lain ini, dikutip dari databoks.katadata.co.id, sekitar 0,41 juta ton senilai US$183,80 juta.

Impor beras kebutuhan umum pada tahun 2021 tidak ada. Tetapi narasi impor beras tersebut membuat petani kecewa.

Selain itu, petani juga menghadapi kenaikan harga pupuk non-subsidi yang lebih dari 100%, sedangkan ketersediaan pupuk subsidi terbatas.

Di samping itu, biaya tenaga kerja meningkatkan, sedangkan harga gabah kering panen (GKP) cenderung di bawah Rp 4.000/kg.

Hal itulah, antara lain, menurut seorang petani di Sukoharjo, Jawa Tengah, yang menyebabkan penurunan luas panen padi tahun 2021.

Jadi, petani padi paling benci dengan narasi impor beras karena dapat menurunkan harga gabah di tingkat petani.

Untuk itu, sebaiknya pejabat berhati-hati melontarkan narasi impor beras. Sebab, dua kata itu bisa membuat petani kurang bersemangat menanam padi.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

  1. Berita Resmi Statistik No. 21/03/Th. XXV/1 Maret 2022.
  2. https://money.kompas.com/read/2021/03/20/103440726/gaduh-impor-beras-mendag-lutfi-pasang-badan-salahkan-saya?page=all.
  3. https://nasional.tempo.co/read/1446359/jokowi-pastikan-pemerintah-tidak-akan-impor-beras-hingga-juni-2021/full&view=ok.
  4. https://ekonomi.bisnis.com/read/20211201/12/1472435/jokowi-sebut-tak-ada-impor-beras-sepanjang-2021-begini-datanya.