pengaruh La Nina 2025/26 terhadap 7 komoditas
Ilustrasi. Perkebunan kelapa sawit.

AGRIKAN.ID – Pola cuaca La Nina kembali terjadi. Hal ini dapat membentuk kembali pasar komoditas dari ladang hingga terminal ekspor.

Menurut Hedgepoint Global Markets, peristiwa iklim yang diperkirakan terjadi antara Oktober 2025 dan Februari 2026 ini bisa membawa perubahan signifikan akibat cuaca di seluruh pertanian global.

Peristiwa iklim tersebut dapat mempengaruhi hasil panen, logistik, dan harga untuk tanaman utama, yaitu gula (tebu), minyak sawit (kelapa sawit), kedelai, jagung, kopi, kakao, dan gandum.

Laporan ini menyoroti bagaimana anomali curah hujan dan suhu dapat menciptakan risiko dan peluang bagi produsen, pedagang, dan importir, khususnya di seluruh Asia Tenggara. Dalam hal ini, maksudnya, operasi gula dan minyak sawit sangat sensitif terhadap curah hujan ekstrem.

Wawasan penting laporan Hedgepoint Global Markets

  • Gula: Potensi risiko produktivitas di wilayah Tengah-Selatan Brasil dan penundaan pemrosesan di Thailand dan Indonesia dapat memperketat pasokan global.
  • Kelapa Sawit: Hujan deras dan banjir di Indonesia dan Malaysia dapat mengganggu panen dan transportasi logistik.
  • Kedelai dan Jagung: Curah hujan di bawah rata-rata di Amerika Selatan bagian selatan (Brasil bagian selatan, Uruguay, dan Argentina) dapat mengancam hasil panen, sementara Brasil bagian utara-tengah dapat memperoleh manfaat dari kelembapan dan suhu yang baik.
  • Kopi: La Nina dapat mendukung pembungaan dan hasil panen di Brasil tetapi membawa curah hujan berlebihan di Vietnam dan Kolombia, yang memengaruhi kualitas panen.
  • Kakao: Kelembapan yang lebih tinggi dapat mengurangi tekanan air di Afrika Barat, tetapi mengurangi pembungaan di Ekuador, sehingga mengancam surplus yang diharapkan.
  • Gandum: Suhu yang lebih tinggi dan curah hujan yang rendah di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah Laut Hitam, dapat menghambat perkembangan tanaman awal musim dingin.

Gula

Wilayah Tengah-Selatan Brasil, produsen utama tebu, mungkin menghadapi tantangan selama fase perkembangan kritis panen 2026/27.

Secara global, episode La Nina yang intens dapat mengganggu operasi pemerosesan di Thailand dan Indonesia.

Lihat juga: Gula konsumsi dan kemitraan dengan petani

Di sektor gula-alkohol, intensitas La Nina akan sangat menentukan. Jika kuat, hal ini dapat mengganggu produktivitas di Brasil dan menunda panen di Asia Tenggara, yang berdampak langsung pada pasokan gula global.

Kelapa sawit

Di Indonesia dan Malaysia, peningkatan curah hujan selama musim hujan dapat menyebabkan banjir, yang memengaruhi panen dan logistik minyak sawit.

Lihat juga: Pabrik pemurnian minyak sawit Cargill

Menurut Hedgepoint, dampak terbesar La Nina terhadap minyak sawit adalah pada logistik. Jalan yang tergenang air dapat menyulitkan transportasi produksi, sehingga memengaruhi pasokan global.

Kedelai dan jagung

Tren curah hujan di bawah rata-rata di Amerika Selatan bagian selatan, terutama di Brasil bagian selatan, Uruguay, dan Argentina, dapat menghambat perkembangan tanaman kedelai dan jagung.

Di sisi lain, Brasil bagian utara-tengah akan mendapatkan keuntungan dari curah hujan di atas rata-rata dan suhu yang lebih sejuk.

Lihat juga: 8 Varietas jagung hibrida bioteknologi

“Pada tahun-tahun sebelumnya, seperti 2021/22 dan 2022/23, kami mengalami kerugian hingga 50 persen dalam produksi kedelai di Brasil bagian selatan dan Argentina. La Nina dapat menyebabkan volatilitas harga dan memengaruhi dinamika ekspor, terutama jika dampak iklim semakin intensif,” ujar Luiz Roque, Koordinator Intelijen Pasar di Hedgepoint.

Kopi

Di Brasil, La Nina dapat meningkatkan pembungaan kopi arabika dan produktivitas conilon (kopi robusta).

Di negara-negara seperti Vietnam, Kolombia, dan Amerika Tengah, curah hujan yang berlebihan dan badai dapat merusak panen 2025/26.

Lihat juga: 4 Spesies kopi komersial di dunia

“La Nina memang bermanfaat bagi kopi Brasil, tetapi ada risiko di wilayah penghasil kopi lainnya. Hujan deras dapat menunda panen dan memengaruhi kualitas biji kopi, terutama di negara-negara seperti Vietnam dan Kolombia,” ujar Laleska Moda, Analis Intelijen Pasar di Hedgepoint.

Kakao

Di Afrika Barat, peningkatan kelembapan dapat mengurangi tekanan air di musim kemarau. Di sisi lain, di Ekuador, berkurangnya curah hujan dapat menghambat pembungaan dan memengaruhi surplus yang diharapkan untuk musim 2025/26.

Lihat juga: Dari buah menjadi biji kakao

“Keseimbangan antara curah hujan dan sinar matahari akan menentukan kinerja panen. La Nina dapat bermanfaat di beberapa wilayah dan menantang di wilayah lain, seperti Ekuador,” ujar Carolina França, Analis Intelijen Pasar di Hedgepoint.

Gandum

Curah hujan di bawah rata-rata dan suhu yang lebih tinggi dapat memengaruhi perkembangan awal tanaman gandum musim dingin di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah Laut Hitam.

Lihat juga: Yuk, kenali tipe gandum

“Meskipun risiko kerugian substansial rendah, La Nina mungkin bertepatan dengan periode dorman tanaman, sehingga memerlukan perhatian pada perkembangan awal gandum,” kata Luiz Roque, Koordinator Intelijen Pasar di Hedgepoint.

Hedgepoint Global Markets

Hedgepoint Global Markets adalah perusahaan yang berspesialisasi dalam manajemen risiko, intelijen pasar, dan eksekusi lindung nilai untuk rantai nilai komoditas global, dengan pengalaman luas di pasar pertanian dan energi.

Hedgepoint hadir di lima benua dan menawarkan produk lindung nilai berbasis teknologi dan inovasi kepada klien, dengan menempatkan klien di pusat setiap proses.

Perusahaan Hedgepoint menangani lebih dari 60 komoditas dan lebih dari 450 produk lindung nilai di platformnya.

Syatrya Utama | Email: syatrya_utama@yahoo.com

Referensi:

  1. Rilis dari Hedgepoint Global Markets, Rabu, 12 Nopember 2025, yang berjudul: From field to export: How La Nina could affect commodity price.
  2. Franca, L. Moda, L. Roque, and T. Italiani. 2025. La Nina: What to expect in the following months? Hedgepoint Global Markets.

Lihat Ebook: Panduan Praktis Menulis Artikel